036 "Menang"

546 66 3
                                        

Di tempat lain— Surabaya, Raisa di sibukkan dengan persiapan ulang tahun Daehan, sejak pagi ibu satu anak itu sudah sibuk di dapur bersama Hana, membuat kue sebelum Daehan pulang sekolah.

"Tenang kak, pasti pas Daehan dateng semua udah siap, ini juga masih jam berapa, Rey aja belum ngabarin kalau mau jemput," Hana berusaha menenangkan Raisa yang sejak tadi panik tidak jelas padahal ini baru jam sepuluh, Daehan pulang sekitar jam dua siang, bahkan Rey saja masih mengurus pekerjaannya.

"Ada masalah ya sama kerjaan Rey?" tanya Raisa karena tidak biasanya Rey pergi pagi sekali dan biasanya setiap hari ulang tahun Daehan, Rey memilih untuk cuti membantu menyiapkan semuanya jika di butuhkan.

"Sedikit, Rey bilang sih ini bukan masalah di kerjaannya tapi orang lain, Rey kan cuma bagian desain tapi ada salah satu penanggung jawab yang gitulah, jadi semuanya kena," Hana menjawab seadanya.

"Kalau kalian butuh bantuan, bilang aja ya kita keluarga, kamu dan Rey udah banyak bantu kakak selama ini,"

"Terima kasih kak,"

Kedua perempuan itu kembali fokus membuat kue, masih banyak yang harus mereka siapkan sebelum Daehan pulang.

▪️▪️▪️

Jehan, Mavin, Rey dan beberapa orang sudah berkumpul di satu ruangan, membahas bisnis yang sedikit ah, bukan sedikit lagi tapi bermasalah sangat besar, bagaimana tidak uang untuk pembangunan yang harusnya di terima oleh pihak Rey tidak kunjung di berikan alasannya karena uangnya telah di bawa kabur oleh orang Jehan yang bertanggung jawab di sini.

Bisa bayangkan seberapa pusingnya Jehan dan Mavin sekarang, proyek besar mereka jelas terancam gagal total dan kerugianya sangat besar.

Sudah berlangsung cukup lama rapat mereka, belum ada titik tengah untuk semua pihak, agar tidak di rugikan, Jehan juga sudah menyuruh orang untuk mencari yang berkhianat itu sampai dapat.

"Rey, kamu kembali ke kantor?" tanya atasan Rey saat mereka keluar dari ruang rapat.

"Tidak pak, saya harus pulang, keponakan saya sedang berulang tahun hari ini,"

"Ah ya, saya sampai lupa harusnya hari ini kamu cuti ya, tapi karena masalah ini kamu harus datang, ya sudah tidak apa apa, ucapkan selamat ulang tahun untuk keponakan kamu,"

"Terima kasih pak,"

Rey langsung ke parkiran, sekarang juga waktunya menjemput Daehan, sebelum itu dia menghubungi Hana untuk memastikan bisa langsung pulang atau membawa Daehan berputar putar dulu.

Dari arah berlawanan, Rey melihat Jehan dan Mavin juga terburu buru, segera memasuki mobilnya bahkan Rey menyadari Jehan sendiri yang mengendarai mobilnya.

"Kamu ajak Daehan main dulu nanti nggak papa, aku sama kak Raisa juga harus bersih bersih dulu," pesan yang baru masuk dari Hana.

Rey masuk ke dalam mobilnya dan segera menjemput Daehan, sambil memikirkan mengajak kemana Daehan agar tidak mau cepet cepet pulang.

▪️▪️▪️

"Jehan Lo mau ngajak mati? Sini biar gue aja yang nyetir!" Mavin yang berada di samping kemudi terus mengoceh karena Jehan yang membawa mobil dengan ugal ugalan, tujuan mereka adalah bandara, Jehan harus segera sampai Jakarta secepatnya, "Tenang, semua akan baik baik aja, kalau lo kayak gini, bisa celaka juga nanti,"

Bagaimana bisa tenang, baru saja keluarga memberi kabar jika Bella dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh dari tangga, pikirannya seketika kalut takut terjadi sesuatu pada istri dan calon anaknya.

Jehan tigak membawa apa apa hanya dompet dan handphone saja, dia memesan tiket dengan penerbangan lebih cepat, "Gue handle bagian sini, Lo hati hati kabari kalau ada apa apa, semoga semua baik baik aja," pesan Mavin.

Setelah memastikan Jehan masuk, Mavin baru pergi dari bandara, menyenderkan badannya di kursi kemudi, memejamkan matanya, selain Jehan Mavin juga merasa berat juga, proyek ini juga tanggung jawabnya, orang orang yang terlibat atas persetujuannya juga.

Mavin membenarkan duduknya dan bersiap untuk meninggalkan area bandara sebelum mengganggu pengguna lainnya, namun saat melihat ke belakang yang terdapat satu set lego terbaru dia melupakan sesuatu.

"Daehan...?" gumamnya, "Hari ini ulang tahun Daehan, hadiah itu dari Jehan harusnya di titip ke Rey kan?" monolognya, mereka lupa memberikan pada Rey tadi karena mendapat kabar buruk dari Jakarta.

Mavin memilih mengantar hadiah itu langsung saja ke rumah Raisa, tidak apa apa bukan?

Mavin memarkirkan mobilnya di depan rumah Raisa, keluar dari mobil hal pertama yang dia lihat adalah suasana yang sepi dan mobil Raisa yang terparkir di sana, Raisa berada di rumah, langkahnya pelan memasuki pekarangan rumah itu, tepat di depan pintu Mavin sedikit ragu untuk memencet bel.

"

Eh?" seseorang membuka pintu sebelum Mavin memencet bel, Hana yang akan membuang sampah ke depan di kagetan dengan keberadaan Mavin di depan pintu.

"Ada apa Hana? Rey sama Daehan udah pulang?" Raisa yang masih berada di dalam bertanya karena Hana yang berhenti di depan pintu, Raisa menghampiri ya dan sedikit kaget juga melihat kehadiran orang ini lagi, "Mavin? Ada apa?"

"Enggak, gue cuma mau ngasih ini," Mavin tidak ingin berbasa basi langsung memberikan beberapa bingkisan berisikan hadiah dan juga camilan, "Hari ini ulang tahun Daehan kan, ini dari Jehan, harusnya dia sendiri yang ngasih tapi karena ada urusan mendadak, gue yang nganterin ini, ucapin selamat ulang tahun buat Daehan, gue pergi dulu,"  jelasnya dan berpamitan.

Raisa dan Hana saking berpandangan ketika Mavin sudah pergi, ada pertanyaan di kepala masing masing yang tidak bisa terucap, "Aku buang sampah dulu kak," Hana yang sadar terlebih dahulu kembali ke depan untuk membuang sampah, sedangkan Raisa masuk membawa pemberian Mavin.

Meletakkannya bersama dengan kado lainnya di sana, semua sudah siap, dekorasi, kue, makanan, semua sudah sempurna.

"Kak, ayo siap siap, Rey ngabarin  udah ada di depan komplek," Hana masuk dengan rusuh, keduanya segera keluar siap menyambut tuan muda yang berulang tahun.

"Bunda!" Daehan berlari ketika melihat Raisa yang baru keluar dengan Hana, "Bunda tadi Daehan dapet hadiah dari temen temen terus jalan jalan juga sama koko,"

"Soal hadiah biar koko yang ambil, kamu masuk aja," suruh Rey sebelum Daehan berlari menuju mobil lagi.

"Sebelum masuk, tutup dulu matanya," Hana yang membawa penutup mata memberikannya pada Daehan, anak itu menatap bingung, menoleh pada bundanya.

"Tutup dulu ya, bentar aja kok, bunda gandeng," Raisa berusaha menenangkan dan memegang tangan kecil agar tidak jatuh.

Hana membantu menutup mata Daehan dan membukakan pintu, Raisa menggandeng tangan Daehan, menuntun masuk sedangkan Rey mengeluarkan kado dari teman teman sekolah Daehan.

"HAPPY BIRTHDAY DAEHAN!"

▪️▪️▪️▪️▪️

Kalau ada typo maaf guys, nggak aku revisi soalnya, happy reading dan jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya semuanya.

Love you, all

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang