Jehan yang baru sampai rumah sakit langsung menuju ruangan Bella, diluar ada keluarga istrinya itu menangis, "Kak Bella ngamuk, kita di usir," beritahu adik iparnya.
Jehan membuka pintu, hal pertama yang dia lihat adalah Bella yang terduduk di atas ranjang, menunduk memegang hasil USG, menangis tanpa suara.
"Sayang?" Jehan memanggil dengan lembut, Bella mendongak dengan mata yang bengkak, Jehan segera menghampiri dan memeluk istrinya itu, membiarkan Bella menangis dalam pelukannya.
"Mas, anak kita," suara terdengar parau karena terlalu lama manangis, "kita kehilangan dia, aku nggak becus," Bella memegang perutnya yang sudah tidak ada kehidupan di sana, "aku teledor,"
*Sayang, nggak papa ya, semua udah takdir," Jehan masih memeluk Bella dan mengelus rambutnya lembut, "ikhlas ya sayang,"
Bella melepas pelukan itu, tangannya di genggam oleh Jehan, "Mas, kenapa kamu setuju rahim aku di angkat? Aku nggak bakal bisa punya anak untuk selamanya, sekarang aku cacat mas,"
"Itu yang terbaik, kalau rahim kamu nggak di angkat, nyawa kamu taruhannya, aku nggak masalah nggak punya anak sama kamu—" belum selesai Jehan berbicara Bella sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Iya, kamu nggak masalah karena kamu udah punya anak, tapi aku gimana mas, aku pengen banget punya anak, kamu tau itu, tapi sekarang aku nggak bisa, aku cacat," marah Bella, mengingat kenyataan jika Jehan sudah punya anak, dia tidak akan khawatir soal itu, "Kamu ada Daehan, anak kamu sama mbak Raisa, lalu bagaimana aku? Aku sendiri,"
"Sayang,"
"Kamu bohong sama aku mas, kenapa kamu nggak jujur soal Daehan? Kenapa kamu sembunyikan kebenarannya? Jangan bilang kamu yang sering ke Surabaya waktu itu buat ketemu anak itu?"
Bella kehilangan kontrol emosinya, "Sayang tenang, kamu baru sadar, kamu istirahat dulu ya, jangan memikirkan apapun," Jehan berusaha menenangkan Bella.
"Mas, kamu nggak bakal ninggalin aku kan? Kamu bakal terus ada sama aku kan?" tanya Bella, Jehan mengangguk menyakinkan.
"Kamu istirahat dulu ya, kamu harus sembuh dulu," Jehan membantu Bella untuk merebahkan diri, membiarkan istrinya itu beristirahat dulu.
Jehan keluar dari ruangan setelah memastikan Bella tenang dan tertidur, "Gimana keadaan Bella," tanya ibu mertuanya.
"Udah tenang dan sekarang lagi istirahat, papa sama mama pulang aja nggak papa, biar aku yang jaga Bella," suruh Jehan, kedua mertuanya juga butuh istirahat setelah kejadian ini, semua orang butuh istirahat. "Kamu juga dek, kasian anak kamu yang di tinggalin,"
"Iya kak, kami pamit dulu, kalau ada apa apa sama kak Bella kabarin," Jehan mengangguk, setelahnya ketiga orang itu pergi meninggalkan pria itu sendirian.
Jehan duduk di kursi tunggu sendirian, pikirannya dia bisa menghadapi semuanya sekarang, apa yang akan dia lakukan setelah ini, keluarganya tidak pernah main main, dia bisa melepas semuanya demi Bella tapi apa istrinya itu akan menerimanya nanti.
▪️▪️▪️
Raisa ada di rumah sakit sekarang, tidak untuk bekerja namun menemui dokter psikolognya, ada banyak hal yang harus wanita itu ungkapkan pada sang dokter, agar tetap waras.
Di tengah jalan, dari arah berlawanan Canu mendekat, sekarang dua orang itu hanya seperti rekan kerja, walau mungkin masih ada rasa sakit hati karena penolakan Raisa, bukannya tidak bersyukur di sukai oleh seorang Candrik Nugroho, hanya saja Raisa masih memiliki ketakutan dengan hubungan, itu salah satu alasan Raisa memilih mengakhiri semuanya lebih awal.
Raisa juga sudah meminta maaf karena sempat memberi harapan untuk hubungan mereka, Canu mengerti dan dia juga minta maaf atas ucapan orangtuanya pada Raisa tempo lalu, keduanya saling minta maaf dan memaafkan.
"Raisa? Bukannya lagi cuti?" tanya Canu ketika mereka sudah berhadapan, keduanya saling tersenyum, "tolong ucapkan selamat ulang tahun buat Daehan, boleh titip kado buat dia?"
"Boleh, titip ke resepsionis aja, nanti kalau saya udah selesai, saya bawa pulang. Terima kasih dokter Canu,"
Keduanya kembali pada setelan awal, profesional.
"Duluan ya dok,"
Raisa berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Canu yang berada di tempat, memandangi punggung Raisa yang mulai menjauh dah hilang dari pandangannya.
Sedangkan Raisa sudah berada di depan ruangan dokter Rina, menghela napas panjang sebelum mengetuknya, setelah mendapat sautan dari dalam, Raisa membuka pintu.
"Raisa, sudah datang, ayo duduk," dokter Rina mempersilakan, "Jadi apa yang mau kamu ceritakan pada saya?"
Raisa yang sudah duduk di hadapan dokter Rina, memantapkan diri untuk mengeluarkan semua perasaannya yang selalu dia sembunyikan.
"Saya takut, saya sering ketakutan, takut kehilangan sesuatu yang kadang belum terjadi, sejak dulu saya sering kehilangan, papa saya pergi meninggalkan saya dan memilih keluarga barunya, melupakan saya yang merupakan putrinya, saya kehilangan suami saya karena dia memilih perempuan lain, membahagiakan wanita itu dan menyakiti saya, dan sekarang saya takut Daehan akan melakukan yang sama, selama tujuh tahun lebih saya menyembunyikan Daehan dari orang orang yang berkemungkinan mengambil Daehan dari saya, tapi sekarang mereka tau, saya takut Daehan lebih memilih mereka, karena mereka yangmengakui keberadaan Daehan tidak seperti saya dulu,"
Dokter Rina mendengarkan, sesekali mencatat pada notebook, tidak ada niat untuk memotong sebelum Raisa menyelesaikan menceritakan semua perasaannya.
"Selain itu saya juga takut tidak mendapatkan penolakan, yang membuat saya memilih mundur terlebih dahulu, saya takut hubungan yang tidak memiliki pondasi yang kuat dari semua pihak, itu akan membuat saya ada di posisi itu lagi, pernikahan saya dulu tidak memiliki pondasi yang benar, saya tidak mau memperjuangkan hak saya waktu itu karena mengingat penolakan dari papa saya ketika saya datang padanya dulu, saya akan lebih sakit dan mungkin gila,"
"Setelah kamu melepaskan semuanya sekarang, apa kamu menyesali keputusan itu?" akhirnya dokter Rina membuka suara, bertanya apa Raisa menyesal dengan pilihannya.
"Tidak, saya tidak menyesalinya, hanya saja perasaan itu sulit hilang, terus menghantui, setiap saya merasa hidup mulai tenang, berjalan dengan baik, seketika sesuatu terjadi, sesuatu yang tiga pernah saya harapkan,"
"Bagus, tapi kamu belum benar benar berdamai dengan masa lalumu, itu yang terus membuat kamu merasa di hantui, mulai sekarang lawan perasaan itu, jangan pernah takut dengan apapun, jika kamu melawan hari ini hal hal buruk dan ketakutan kamu di masa depan tidak akan pernah terjadi,"
"Lawan, kamu tidak harus terus mengalah dengan semuanya, kamu melawan sekali saja tidak akan membuat kamu jadi orang jahat, ini demi kamu sendiri dan mungkin Daehan juga, sudah cukup selama ini kamu kalah sekarang waktunya kamu menang, jangan biarkan orang lain mengatur takdirmu, takdirmu milikmu bukan orang lain,"
▪️▪️▪️▪️▪️
Yuk apa yang bakal bunda kita lakukan kali ini, langkah apa yang bakal dia ambil.
Jangan lupa tinggalkan jejak vote komen dan follow,
Oh ya ayo bantu ramein tiktokku, baru bikin, mungkin bakal ada spoiler spoiler nantinya namanya sama kayak Ig dan wattpadku @/viellulaby
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
AlteleDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
