Hari bahagia sepasang anak manusia yang sudah sah dimata agama dan hukum, setelah tadi sekitar jam sepuluh pagi dilaksanakan akad nikah, yang langsung dilanjutkan dengan resepsi, kedua pengantin sudah duduk hampir dua jam di pelaminan, menyalami orang orang yang datang dan memberikan selamat.
"Capek?" Maxime menoleh melihat istrinya yang terlihat lelah, beberapa kali saat Raisa berdiri sedikit oleng, untung saja di pegang olehnya, "lepas aja heelsnya, nggak bakal kelihatan juga kalau berdiri,"
Raisa tanpa membantah melepas heelsnya dan mendorongnya ke arah belakang, agar tidak diketahui oleh orang lain, untung saja gaunnya juga panjang menjulang, menutupi bagian kaki dengan sempurna.
"Sabar sebentar lagi selesai, kita bisa istirahat,"
Acaranya memang tidak sampai malam apalagi tiga hari tiga malam, karena besok keluarga baru tersebut harus kembali ke Amerika, pekerjaan Maxime tigak bisa di tinggal terlalu lama.
"Kakak, selamat," Hana datang dengan semangat, Rey yang berjalan sedikit khawatir, kedua perempuan itu berpelukan sedangkan Rey dan Maxime saling berjabat tangan.
"Hana, jangan bar bar, inget lagi hamil, lihat tuh Rey khawatir banget," tegur Raisa setelah pelukan terlepas.
"Nggak tau deh kak, Hana kebiasaan bikin khawatir terus, dia sendiri aja sering bikin khawatir apalagi sekarang," sahut Rey yang setuju dengan Raisa, yang membuat Raisa, Maxime, dan Rey tertawa sedangkan Hana cemberut.
"Ngeledek banget kamu begitu, aku kan lagi seneng akhirnya kakakku ini menikah juga," Hana membela diri, "Bener kan Daehan? Kamu seneng punya Daddy baru?" Hana meminta persetujuan Daehan yang duduk di samping Raisa.
Anak itu mengangguk setuju, "Cici aku juga punya saudara tau, Justin, kenalin ini ko Rey sama ci Hana yang aku ceritain itu," Daehan memperkenalkan saudaranya itu pada pasangan di depan.
"OMG, mukanya bule banget, ganteng," puji Hana saat melihat bocah dengan rambut pirang alaminya, Justin tersenyum malu malu mendapatkan pujian seperti itu.
"Sayang, ayo turun yang belakang ngantri juga, kamu juga nggak boleh berdiri lama lama," tegur Rey karena mereka terlalu lama berada di pelaminan, mana ada acara mengobrol juga.
"Oh ya maaf, kita lanjut nanti ya kak, Daehan kalau mau main bareng cici tunggu di tempat makan, ajak Justin juga," setelah mengatakan itu, Hana turun di susul Rey, tapi sebelum itu dia kembali mengucapkan selamat, "sekali lagi selamat ya kak,"
Beberapa saat kemudian Canu juga naik, untuk bersalaman mengucapkan selamat pada kedua pengantin, "Selamat untuk kalian berdua," hanya kalimat tersebut yang keluar dari mulut Canu, setelahnya dia langsung turun, setidaknya dia sudah datang dan menghargai pengantin karena di undang, walau ada rasa sesak di dadanya.
"Aku merasa bersalah pada dokter Canu," Raisa seketika mengutarakan rasa bersalahnya ketika Canu sudah menjauh, "Aku nggak pernah mau kasih harapan palsu tapi-" kalimatnya tergantung, menoleh pada Maxime takut suaminya itu cemburu, "Kamu paham kan?"
Raisa sudah menceritakan segalanya pada Maxime, kisah hidupnya, semuanya. Hubungan mereka harus terbuka dan tidak ada yang di sembunyikan bukan?
"Kalian nggak jodoh, itu jawaban simplenya, kayak kamu dan Jehan, sekalipun kalian kenal dari bayi, menikah, punya anak kalau nggak jodoh pasti cuma sampai situ, pisah bahkan asing," balas Maxime, "Kayak aku dan mendiang Joline, mungkin aku jodoh dia tapi jodoh aku kamu, takdir nggak ada yang tau bakal gimana ya kan?" Raisa mengangguk.
"Daddy, mommy, aku ke ko Rey sama Ci Hana dulu ya?" Daehan meminta ijin, "Justin juga ikut aku," sebelum kedua orangtuanya menyetujuinya Daehan terlebih dahulu turun sambil sedikit menyeret Justin untuk ikut dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
AléatoireDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
