034 "Merenung"

520 73 22
                                        

Jehan berada di ruang kerjanya sendirian, memikirkan perkataan kakaknya waktu itu, membuka laci meja paling bawah, mengambil foto yang dia simpan sejak lama di sana, tidak ada niat untuk membuangnya selama ini, ada perasaan tidak rela.

Untuk pertama kalinya dia kembali mengambil bingkai foto itu setelah tujuh tahun lamanya, dua anak manusia duduk bersama dengan bunga di tengah mereka, seperti pasangan yang berbahagia.

"Maaf,"

Jehan berdiri membawa foto itu keluar dari ruangan kerjanya, berjalan menaikinya tangga menuju kamar utama yang berada di atas, kamar yang tidak pernah di masuki siapapun karena alasan privasi.

Semua masih sama tidak ada yang berubah di dalamnya, walau kamar itu tidak pernah di tempati lagi.

Mungkin memang waktunya untuk Jehan melepas bayang bayang Raisa selama tujuh tahun ini, benar kata kakaknya seharusnya dia tidak seperti ini, itu sangat menyakitkan untuk wanita itu, sudah cukup rasa sakit yang dia berikan dulu.

Selain Berlian, Mavin juga mengatakan semuanya tentang obrolan dengan Raisa, wanita itu tau segalanya bahkan sesuatu yang tidak pernah Jehan ceritakan pada siapapun. Bahkan Jehan tau jika suruhannya, pak Sahrul juga sudah di berhentikan, tidak ada celah untuk masuk lagi.

"Pertama gue ucapin selamat buat kehamilan Bella, lo bakal jadi seorang ayah, seperti keinginan lo selama ini punya anak sama dia," setelah sampai Jakarta Main langsung menemui Jehan. "Hidup lo udah sempurna kan?"

"Maksud lo apa Mavin? Apa yang terjadi di Surabaya? Daehan baik baik aja?" Jehan bingung dengan perkataan Mavin, sejak datang dia juga merasa ada yang berubah, sangat berbeda dengan Mavin yang biasanya.

"Semua baik baik aja, Daehan baik baik aja dan akan selalu seperti itu, selama tujuh tahun ini Daehan juga begitu kan, lo nggak perlu khawatir, Raisa akan selalu jaga Daehan dengan baik, sangat baik dari siapapun,"

Mavin terlihat tenang dan serius, lebih serius dari biasanya, obrolan keduanya sepertinya akan lebih mendalam dari sebelum sebelumnya.

"Hidup lo udah sempurna ya kan? Nikah sama orang yang paling lo cintai, bentar lagi juga mau punya anak dari dia, bahkan setelah anak itu lahir warisan Ardiethama akan secara resmi ke lo kan?"

Jehan sedikit bingung dengan arah pembicaraan mereka ini, "Gue sama lo udah terlalu jauh, kita berdua udah nyakitin orang lain, dulu harusnya gue nggak dukung semua keputusan lo padahal gue tau bener itu salah, gue menyesalinya, dan sekarang waktunya gue tebus semuanya,"

"Mavin gue nggak paham lo lagi bicara apa, ada apa sebenarnya, apa ada yang terjadi?" tanya Jehan, pria bodoh itu tidak pernah mengerti apapun.

"Raisa, kita berdua udah banyak nyakitin dia, mulai dari permintaan lo buat nikah lagi dan soal Daehan, gue nggak terlalu tau tentang dia kayak lo, tapi pas gue ketemu dia, gue beneran ngerasa bersalah, dia nggak marah marah atau gimana tapi itu yang bikin gue ngerasa jahat banget, dia cuma minta satu hal biarin dia hidup bareng Daehan, bahkan dia sampai berlutut buat minta itu," Mavin menjeda ceritanya, membayangkan kejadian itu.

"Gue sebagai temen lo harusnya ngasih tau kalau ada yang salah bukannya malah dukung kan, Raisa cuma minta itu, dia rela lo nikah lagi dan dia yang mundur, dia ikhlasin semuanya demi kebahagian lo dan dia nggak pernah minta apapun sama lo bahkan setelah perceraian. Harusnya lo yang lebih tau gimana dia karena kalian kenal sejak kecil, apa yang dia nggak suka atau bikin dia trauma, tapi lo juga yang ngasih dia rasa sakit yang lebih besar,"

Jehan terdiam, bayangan masa lalu berputar di kepalanya, dimana Raisa yang pura pura kuat saat papanya pergi meninggalkan dirinya dan lebih memilih keluarga baru ketika dia baru mulai mengenal kata papa, dia bahkan tau betul trauma itu yang membuat Raisa takut berhubungan dengan cowok manapun, bahkan saat itu hanya ayah sambungnya, tuan Ardiethama atau ayah Jehan dan Jehan lah yang dia percayai.

"Dari luar Raisa memang terlihat kuat tapi aslinya dia rapuh banget, kamu bisa bayangin anak sekecil dia dulu kehilangan peran ayah bukan karena meninggal tapi karena ego orang dewasa, kamu inget setiap kali ada yang nanya tentang ayah, dia cuma diem dan matanya berkaca kaca karena nggak tau harus jawab apa, satu kata itu bisa ngebunuh dia saat itu," cerita Papa Jehan juga melintas di ingatannya.

"Papa harap di masa depan Raisa dapetin semua kebahagiaan yang ada di dunia ini, papa bakal hajar siapapun kalau ada yang nyakitin dia lagi, Raisa udah seperti mbak Berlian, kamu juga di masa depan jangan sakitin siapapun, inget mama dan mbak Berlian dan Raisa juga," nasehat papanya, "Jehan, kita nggak tau masa depan bakal gimana, papa cuma minta tolong sama kamu jagain mbak Berlian dan Raisa juga, sekalipun nanti kamu dan Raisa nggak berjodoh seperti keinginan kami, papa harap kamu selalu jaga dia anggap dia adik kamu, jangan biarin dia ngerasa sakit dan putus asa lagi,"

Jika papanya tau di masa depan anaknya sendiri yang menyakiti Raisa mungkin saja saat itu juga Jehan akan habis oleh papanya sendiri, "Pa, maaf aku yang nyakitin Raisa,"

Ingatan ingatan masa lalu muncul kembali, janji janji manis yang dulu dia ucapkan pada Raisa untuk meyakinkan perempuan itu agar mau menikah dengannya, pesan papa dan mamanya terimakasih berputar tanpa henti, Jehan ambruk tepat di depan foto pernikahannya dengan Raisa.

"Maaf, maaf, maaf," kata itu terus terucap dari mulutnya, mendongak melihat foto pernikahan yang terlihat dua anak manusia yang berbahagia.

"Satu pertanyaan yang mau gue tanyain ke lo, apa lo pernah ada perasaan sama Raisa? Lo tau apa yang gue maksud, nggak mungkin lo iseng mau nikahin dia atau karena keinginan orangtua lo sebelum meninggal tapi kalau alasannya karena itu lo beneran bajingan,"

Pertanyaan Mavin waktu itu kembali terlintas di kepalanya, pertanyaan yang Jehan tidak jawab sebelumnya, dia menjawabnya tepat di depan foto itu.

"Bohong kalau gue bilang nggak pernah ada rasa sama lo Raisa, kita bareng udah dari lama, seperempat hidup gue bareng lo, kita selalu sama sama, setiap ada gue, lo juga di situ dan sebaliknya. Gue emang cupu nggak mau ngakui dan terus denial soal itu takut lo nolak karena rasa trauma lo itu, sampai gue ketemu Bella, perasaan gue ke dia lebih besar daripada perasaan gue ke lo itu benar, tapi lo nggak pernah kehilangan tempat di sana, lo punya tempat sendiri yang nggak bisa di masukin atau di gantiin oleh siapapun,"

▪️▪️▪️▪️▪️

Detik detik...

Ini full POV dari Jehan, moga aja beneran merasa bersalah dan nggak ganggu lagi ya, bukan cuma perasaan sesaat juga.

Jangan lupa tinggalkan jejak sebanyak banyaknya, vote dan komen juga aku seneng banget baca komen jadi tolong komen komen yang banyak juga tapi jangan cuma next dong

See you love

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang