Setelah membuat janji kembali dengan dokter Candrik, hari ini Jehan dan Bella kembali ke Surabaya, mereka berdua baru sampai semalam, dan akan ke rumah sakit agak siang sesuai jadwal yang sudah janjikan.
"Aku keluar dulu, ketemu temen," pamit Jehan yang sudah rapi dengan pakaiannya, tidak terlalu formal ataupun santai.
"Temen yang kamu bilang mau cerai itu?" tanya Bella memastikan, dia ingat beberapa waktu lalu Jehan dan Berlian tiba tiba terbang ke Surabaya untuk membantu masalah perceraian temannya.
"Iya, aku balik nanti pas mau berangkat ke rumah sakit, aku pergi dulu, kabarin kalau ada apa apa," Jehan mencium kening istrinya itu sebelum keluar dari kamar hotel.
Keluar dari gedung hotel tersebut Jehan langsung di sambut oleh orang kepercayaannya, "selamat pagi tuan," ujarnya membukakan pintu mobil untuk bosnya itu.
"Laporan apa yang sudah terjadi," baru saja mobil meninggalkan area hotel, Jehan langsung meminta laporan tugas dari orang kepercayaannya.
"Semua berjalan baik, tidak ada yang curiga jika saya adalah suruhan anda, tuan muda Daehan juga aman, tapi ada sedikit perubahan tuan," jawabnya sambil fokus menyetir.
Jehan menegakkan tubuhnya pertanda obrolan semakin serius, "Ada apa?"
"Tuan muda Daehan semakin menjadi pendiam, bahkan beberapa hari yang lalu dia tidak mau ikut bersama nyonya Raisa dan dokter Candrik makan malam dan menolak untuk bertemu dengan orangtua dokter Candrik," dia melaporkan semua yang dia tau, tanpa mengurangi atau menambahkan sedikitpun.
"Kamu melakukan semua seperti yang saya perintahkan?" Jehan berusaha memastikan kembali jika suruhannya itu melakukan sesuai perintahnya.
"Iya tuan, saya melakukan sesuai dengan perintah anda, saya juga menjaga tuan muda dengan baik,"
"Bagus, Raisa tidak curiga?"
"Tidak tuan, semuanya aman. Tuan muda juga sering bertanya pada saya soal sosok ayah yang inginkan, beberapa kali juga menyinggung nama anda dalam ucapannya, sepertinya tuan muda mulai mengenali anda sebagai ayahnya tapi saya tidak memberitahukan pada nyonya Raisa,"
Orang kepercayaan Jehan dan sopir pribadi yang diamanatkan oleh Raisa adalah orang yang sama, Jehan sudah merencanakan semua ini agar dia lebih mudah mendapatkan kabar tentang anaknya, dia sama sekali tidak mendengar permintaan mantan istrinya waktu itu.
Anggap Jehan jahat karena melakukan ini tapi dia juga punya kewajiban untuk itu, perlahan Daehan akan tau kebenaran, dia tidak ingin merebut hanya ingin diakui sebagai seorang ayah, jika permintaan itu terkabulkan dia akan menjauh dari hidup Raisa namun, tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah.
"Sudah sampai tuan,"
Mobil berhenti tepat di depan gedung sekolah, tidak ada yang istimewa hanya saja Jehan ingin melihat Daehan, anaknya. Mengunakan akses dari supirnya itu Jehan bisa masuk dan melihat kegiatan anak anak yang sedang olahraga di lapangan.
"Hari ini jadwal tuan muda olahraga, jadi belajar di lapangan,"
"Itu keuntungannya, saya bisa melihat Daehan walau hanya lewat dari dalam mobil," ujarnya yang melihat Daehan bermain bola bersama anak anak lain.
"Kenapa anda tidak menemui tuan muda secara langsung saja? tanyanya yang ikut melihat Daehan yang sangat bersemangat di sana, "Saya yakin tuan muda juga akan sangat senang, bahkan tuan muda sangat yakin jika anda adalah ayah kandungnya bahkan sebelum saya memberitahunya,"
"Belum, belum waktunya," balasnya yang masih sangat fokus pada Daehan, tanpa sadar air matanya menetes melihat Daehan, rasa bersalah itu datang kembali, Jehan tidak pernah tau tumbuh kembang Daehan sebelumnya, bahkan kehadirannya saja dia tidak tau, sebelum itu dia harus memperbaiki hubungan dengan Raisa, agar tidak bersembunyi seperti ini setiap kali ingin melihat anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
RandomDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
