035 "Kalah"

631 73 9
                                        

Bella dan ibunya baru sampai rumah dengan beberapa kantong belanjaan, Bella begitu senang hingga sudah berbelanja kebutuhan untuk bayinya, bagaimana tidak ini anak pertamanya setelah menunggu tujuh tahun lebih, berharap cemas juga, akhirnya Tuhan mempercayainya.

"Mas aku sama mama baru belanja buat anak kita," tunjuk Bella dengan senang pada Jehan yang baru turun dari lantai atas, "Mas kamu kenapa?" tanyanya saat tidak mendapatkan respon, Jehan juga terlihat panik.

"Aku harus ke Surabaya sekarang, ada masalah sama proyek di sana," jawabnya begitu panik, hingga tidak memperdulikan Bella, "Aku berangkat sekarang sama Mavin, nanti sekertaris aku bakal ke sini buat ambil barang aku dan menyusul ke sana,"

Jehan pergi tanpa berpamitan pada ibu mertuanya, "Suami kamu mau kemana? Bukannya ini weekend?"

"Ke Surabaya ma, ada masalah di sana," Bella memberi jawaban seadanya, ibunya juga tidak akan bertanya lebih jauh juga.

"Yaudah mama pulang dulu nggak papa? Atau kamu ikut pulang dulu aja, daripada sendirian di rumah,"

"Nggak papa, aku udah biasa kalau mas Jehan ada kerjaan, nanti kalau mas Jehan nggak pulang aku kabarin mama,"

"Oke, mama pulang dulu," pamit mamanya dan meninggalkan Bella sendirian di rumah besar tersebut.

Suasana seketika sunyi, di rumah sebesar ini hanya di huni dirinya dan Jehan, tanpa sadar dia menyunggingkan senyum membayangkan sebentar lagi akan ada suara tangis bayi yang memenuhi rumah, tidak akan sepi lagi.

"Mama nggak sabar nunggu kamu lahir sayang," monolognya sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

Bella membereskan belanjaannya terlebih dahulu setelah itu membersihkan diri, niatnya kembali ke kamar setelah membuat susu urung, saat melihat kamar yang berada di lantai atas terbuka sedikit.

Dengan langkah pelan Bella menaiki tangga, niat awalnya hanya untuk menutupnya saja, tapi berubah ketika sudah berada di depan pintu, rasa penasaran menyelimuti dirinya, ada keinginan untuk membuka dan melihat ada apa di dalam sana.

Bella memegang gagang pintu tersebut, dengan gerakan pelan membuka lebih lebar untuk melihat apa yang berada di dalam sana, yang membuat suaminya itu selalu mengunci kamar tersebut dan tidak ada yang boleh ada yang memasukinya.

Matanya membelalak melihat kamar dengan nuansa putih itu, foto besar yang berada di atas kepala ranjang sudah cukup membuat tau, Bella memberanikan masuk melihat sekeliling seakan kamar ini selalu di huni oleh seseorang, lengkap dengan pelataran make up dan skincare yang berada di meja rias.

Matanya beralih pada lemari kaca yang di dalamnya berisikan gaun pernikahan dan perintilannya, tangannya menyentuh kaca itu, ingatan masa lalu seketika datang.

"Sayang, kamu tau nggak mama aku udah nyiapin gaun pernikahan, aku nggak sabar pengen nikahi kamu," Bella pura pura tersenyum saat itu karena tau orangnya tidak menyetujui hubungan mereka.

"Mas, kenapa nggak pake gaun yang dari mama kamu aja?" Bella bertanya saat mereka akan menikah tapi Jehan menggeleng menyuruhnya memakai gaun yang sudah di siapkan mantan calon suaminya sebelumnya.

Pantas saja Jehan menolak untuk memberikan gaun dari mamanya yang di persiapkan untuk istri Jehan di masa depan karena gaun itu sudah menjadi milik Raisa, Bella beralih pada lemari sebelahnya membukanya dan mendapati beberapa pakaian wanita dan kebanyakan juga senada dengan milik Jehan yang sering di pakai.

"Jujur aja gue kasian sama lo karena hidup di bayang bayang Raisa, lo tau nggak semua yang ada di rumah ini masih sama saat gue pertama masuk dan kalau lo mau tau rumah ini Jehan beli untuk keluarga kecilnya sama Raisa, rumah ini Raisa yang pilih juga," perkataan Berlian terngiang di kepalanya, benar saat Bella memasuki rumah ini memang sudah lengkap, setiap kali dia ingin merubah penataan ruangan Jehan selalu menolak.

Bella yang akan menutup kembali lemari itu kembali berhenti saat sebuah map berada di tumpukan baju, Bella mengambilnya dan membaca tulisan depannya "Daehan Raksav" penasaran Bella mulai membukanya.

Foto bayi yang berada di lembar pertama yang dia yakini adalah Daehan, di lembar kedua ada identitas dari bayi tersebut, di sana tertulis jelas putra pertama Tuan Jehan Rajasthan dan Nyonya Raisa Daeline.

"Daehan anak mas Jehan sama mbak Raisa?" gumamnya sedikit bergetar, kenapa suaminya itu tidak memberitahu tentang ini, kenapa di sembunyikan.

"Nggak mungkin kalau Jehan yang bermasalah di sini," Bella kembali teringat omongan Berlian, apa kakak iparnya itu juga tau, sejak kapan? Kenapa tidak ada yang bilang soal ini padanya, apa keluarga mereka juga tau semuanya.

Kepalanya terasa penuh dengan segala kemungkinan yang dia buat sendiri, keluar dari kamar tersebut dengan pikiran yang sangat berantakan, melihat setiap sudut rumah, bayangan sebelum dirinya, ada Raisa yang jauh lebih mengenal rumah ini, setiap sudut terlihat Raisa di mana mana, dan sekarang bahkan memiliki ruangan sendiri yang tidak boleh di masuki oleh siapapun kecuali Jehan termasuk dirinya yang sekarang adalah nyonya rumah, kenapa Jehan berbohong padanya soal semua ini.

Bella menuruni tangga dengan pelan, pikirannya terlalu berisik dengan semuanya, ada suara suara yang terlontar dari keluarga Ardiethama tentang dirinya, sekarang dia mulai paham kenapa Raisa memiliki tempat sendiri dalam keluarga ini, apalagi dengan kenyataan Raisa sudah terlebih dahulu memberikan pewaris jauh sebelum dirinya.

"Apa ini juga alasan mas Jehan sering ke Surabaya selama ini?" tanyanya pada dirinya sendiri, "Akh!"

Karena terlalu fokus pada pikirannya dan tidak memperhatikan langkahnya, kaki kanan Bella tidak berpijak dengan tepat membuatnya kehilangan keseimbangan, dan terguling pada setengah anak tangga, dia berusaha menahan perutnya agar tidak terbentur terlalu keras.

Rasanya sakit semua, badan, batin, semuanya. tubuhnya terbaring di lantai, menangis sendirian dan menahan semua rasa sakit terutama di bagian perut, selain itu bagian bawahnya seperti basah, "To—tolong jangan," suaranya terdengar berat untuk keluar, "tolong bertahan nak,"

Sambil menahan rasa sakit, Bella berusaha mencari sesuatu yang bisa dia raih namun, tidak ada! Untuk berteriak saja dia tidak sanggup. Di rumah ini tidak ada siapapun, dirinya sendirian di sini, tidak ada yang bisa di mintai tolong.

Bella hanya menangis dengan tubuh berbaring, mengelus perutnya yang sudah sangat sakit dengan cairan yang terus keluar di bawah sana, hingga perlahan kesadarannya mulai hilang.

"Tolong..." kata itu yang terakhir keluar dari mulut Bella sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, dengan air mata yang mengalir.

▪️▪️▪️▪️▪️

Say hai to karma guys, pelan pelan tapi pasti hukum tabur tuai akan segera meluncur, bukan orang lain yang bakal balas tapi semesta lewat orang orang yang paling di percaya, penyesalan selalu datang terlambat kan.

Jangan lupa tinggalkan jejak sebanyak banyaknya, vote, komen, share dan follow boleh juga, seperti biasa kalau aku balesin atau love komen kalian pertanda bakal update, jadi banyakin komen juga ya

See you next chapt love

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang