Raisa dan Daehan pulang bersama Canu, sebelumnya Raisa sudah menolak namun, Canu memaksa dan mengatakan akan berbicara dengannya dan ingin menghabiskan waktu dengan Daehan, membangun kembali bonding bersama Daehan yang kemarin kemarin agak renggang entah kenapa.
"Kamu keluar dulu nggak papa, biar aku yang gendong Daehan, kasian kalau di bangunin," dua orang dewasa tersebut menoleh dan mendapati Daehan yang terlelap dengan nyaman.
Canu mengendong Daehan membawanya masuk ke dalam rumah, Raisa membantu membukakan pintu kamar Daehan, setelah anak itu tidur di tempat tidurnya, keduanya keluar bersama, Canu tidak langsung pulang, masih ada yang ingin dia tanyakan.
"Kamu kenapa?" Canu menyadari sesuatu, hari ini Raisa terlihat banyak diam, seperti ada yang dia pikirkan, setelah Daehan sekarang giliran Raisa yang terlihat cuek padanya.
"Nggak papa, aku kecapean aja, kamu pulang sana," Raisa terang terangan mengusir Canu, "Udah malem banget, nggak enak kalau ada orang yang lihat,"
"Sebelum kamu cerita ada apa sebenernya aku nggak bakal pulang," Canu masih kekeh tidak ingin pergi dari rumah Raisa sebelum perempuan itu mengatakan apapun yang sedang dia pikirkan.
"Canu, sebaiknya kita sedikit jaga jarak untuk saat ini, aku mau fokus sama Daehan dulu, ada banyak hal yang harus aku selesai juga sebelum semua terlanjur semakin berantakan,"
"Maksud kamu apa? Aku ada salah?" Canu bingung, jelas. Kenapa Raisa memintanya untuk jaga jarak? Apa ada sesuatu yang terjadi sebelumnya?
"Nggak ada, aku cuma mau fokus sama Daehan dulu, banyak hal yang aku lewatin beberapa hari ini soal Daehan, aku nggak mau kehilangan dia," Raisa tidak memberitahukan yang sebenarnya terjadi, alasan Daehan cukup masuk akal untuk menghindar dari Canu.
Raisa tidak ingin merusak hubungan Canu dengan orangtuanya jika dia bilang semuanya yang orangtua lelaki itu sampaikan, dirinya takut jika terjebak terlalu dalam bersama Canu akan kembali melukainya seperti dahulu, hubungan mereka tidak akan berhasil seperti hubungan Raisa sebelumnya.
Lebih baik dia mengakhiri semuanya sekarang sebelum banyak pihak yang tersakiti, semua akan baik baik saja selama Daehan ada bersamanya, Daehan adalah satu satunya hal yang Raisa bisa akui sebagai miliknya.
"Maaf..." Raisa mendorong Canu untuk segera keluar dari rumahnya, "Terima kasih, untuk semua yang dokter telah lalukan pada saya dan Daehan,"
"Tunggu Raisa, kasih aku alasan yang masuk akal, aku sama kamu sebelumnya baik baik aja, begitupun sama Daehan, mungkin emang beberapa hari ini Daehan agak beda tapi tadi dia udah kayak biasanya sama aku!" Canu jelas tidak terima dengan itu, "Apa ini ada kaitannya sama ayah kandung Daehan, Jehan?"
"Kenapa tiba tiba sampai ke Jehan, aku sama dia udah selesai sejak lama, nggak ada sangkut pautnya sama dia,aku cuma mau fokus sama kebahagiaan Daehan!"
"Raisa..."
"Pulang!" Raisa dengan tegas mengusir Canu dan menutup pintu dengan begitu keras, Raisa sudah bertekad tidak akan menyakiti hatinya lagi dengan memberi kesempatan seseorang yang mungkin saja akan menyakiti di kemudian hari karena alasan lain.
Biarkan juga Canu membencinya jika itu lebih baik daripada melihatnya bertengkar hebat dengan orangtuanya hanya untuk mempertahankan dirinya dan Daehan yang bukan darah dagingnya, Raisa mulai trust issue.
Raisa melangkah masuk ke kamar Daehan, memilih mengistirahatkan tubuhnya di samping anaknya setelah bersih bersih, tidur memeluk Daehan yang sudah terlebih dahulu berada di alam mimpi.
"Semua akan baik baik saja selama bunda punya Daehan,"
▪️▪️▪️
"Mas, aku udah pesen tiket balik, aku ambil penerbangan siang," ucap Bella sambil mengotak atik ponselnya, memesan tiket pesawat. "Aku yakin kali ini kita bakal berhasil,"
"Hm, kamu pulang sendiri ya?" balas Jehan yang fokus pada tabletnya, Bella menghentikan kegiatan dan menoleh pada suaminya, "Mavin baru aja ngabarin proyek yang di sini udah deal dan Mavin mau nyusul, daripada aku bolak balik kan? Kamu pulang aja dulu, aku selesai kerjaan di sini sama Mavin,"
"Aku di sini juga nggak masalah mas, kita pulang bareng," Bella menolak, "lagian aku sendirian nanti di rumah,"
"Aku nggak tau sampai kapan di sini, soalnya baru deal ada banyak yang harus di bahas, pekerjaan kamu di Jakarta gimana? Kalau kamu kesepian bisa pulang ke rumah orangtua kamu kan," banyak alasan yang Jehan punya untuk melarang Bella tetap di sini, yang ada semua rencananya akan gagal. "Aku janji setelah semuanya selesai aku langsung pulang,"
"Tapi mas..."
"Hallo," sebelum Bella menyelesaikan ucapannya Jehan sudah terlebih dahulu berdiri dan menjauh darinya untuk mengangkat teleponnya.
Bella jelas merasakan perubahan dari Jehan, suaminya itu tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan mengabaikannya demi sebuah telepon tidak pernah dia lakukan, selama pacaran dulu dan menikah tujuh tahun, ini kali pertama Jehan melakukan itu, apa yang terjadi apa Jehan mulai bosan dan menyerah.
Di tengah pikirannya sendiri, Bella juga mendapatkan telepon dari orangtuanya, "Iya ma," Bella melangkah ke arah kamar, meninggalkan Jehan yang juga masih bertelepon dengan entah siapa.
▪️▪️▪️
"Lo udah berangkat?" tanya Jehan, "Gue harap lo ngelakuin semua dengan baik, tanpa ada kecurigaan dari orang lain,"
"Hampir, hampir aja mbak Berlian tau, insting sebagai pengacara emang nggak main main, tapi aman, gue udah ke bandara ini," balas dari sebrang telepon.
"Yakin? Jawaban lo masuk akal? Mbak Berlian nggak bakal semudah itu percaya," Jehan menyakinkan, dia tau jelas bagaimana kakaknya menghadapinya, satu kata yang salah terucap bisa langsung Berlian tebak kebohongan sekalipun mengelak bagaimana.
"Aman, syukur ya kita beneran udah deal sama proyek ini jadi semua aman, gue juga udah bawa semua yang lo minta,"
"Bagus, besok kita ketemu, lo ke hotel tempat gue nginep, gue kabari setelah Bella balik nanti,"
"Oke,jadi beneran Bella balik Jakarta sendiri?"
"Ya, gue harus selesai semua kan? Kabar baiknya Daehan udah tau gue ayahnya, itu akan jadi lebih mudah semuanya,"
"Semoga, gue harap lo nggak bakal serakah nantinya, inget tujuan lo cuma dapet pengakuan bukan ngerebut Daehan dari Raisa, setelah pengakuan itu lo dapet lo bisa puas dan pergi jangan ganggu mereka lagi, gue udah janji sama mbak Berlian nggak bakal ikut ide gila lo, kalau lo mulai serakah semua bakal tau termasuk keluarga besar Ardhitama, semua bakal jauh lebih rumit nantinya, jadi gue harap setelah lo dapet pengakuan itu, stop semuanya. Lo juga bakal dapet anak dari Bella kan? Keberhasilannya tinggi kan kata dokter?"
▪️▪️▪️▪️▪️
Sorry kalau mulai muter muter alurnya 😔
Sabar guys karmanya bakal pelan pelan juga, sadar nggak kalian karma udah jalan pelan pelan juga, lagian Daehan juga belum tau apa apa soal kelakuan bapaknya, sabar
Tolong jangan lupa tinggalkan jejak semuanya love you sekebun 😘
KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN FAMILY
RandomDaehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan. "Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
