Daehan Raksav, lahir bukan karena kesalahan, dia terlahir dari ikatan suci pernikahan, hanya saja semesta membuat kedua orangtuanya berpisah karena keegoisan.
"Jangan berhubungan dengan seseorang yang masih berada di masa lalunya," kalimat itu benar...
Kedatangan ketiga orang itu membuat mereka tersenyum, Berlian menghampiri terlebih dahulu, menyapa keponakannya, "Hallo ganteng, aku aunty Berlian," Berlian berjongkok menyamakan tingginya dengan Daehan.
Daehan yang masih kebingungan dengan semua ini menoleh pada Raisa, bundanya itu tersenyum dan mengangguk, seakan menjawab kebingungan anaknya.
Berlian mengambil alih Daehan, membawa keponakannya itu ke tengah tengah yang lain, Raisa dan Jehan hanya mengikuti dari belakang, "Semua kenalin ini Daehan Ardiethama," Berlian mengenalkan Daehan kepada semua orang dengan antusias.
Salah satu tantenya mendekat melihat Daehan dengan senyumnya, "Beneran mirip Jehan, tidak perlu tes lagi, ini adalah Jehan kecil," ucapnya bergantian melihat ayah dan anak itu. "Daehan kami semua adalah keluargamu juga, kamu bagian dari kami,"
"Raisa terima kasih sudah mau datang membawa Daehan," salah satu om yang pernah mendatangi ayahnya waktu itu mengucapkan terima kasih.
"Tidak perlu om, Daehan juga bagian dari kalian kan, maafkan aku karena menyembunyikan Daehan selama ini," Raisa juga sadar dia telah menyembunyikan Daehan dari keluarga Ardiethama yang dia tau sangat baik, kalau dia mengatakannya dulu, mereka tidak akan mengusirnya.
"Ayo kita makan dulu, setelah itu Daehan bisa berkenalan dan bermain dengan sepupu yang lain," pakde sebagai anggota keluarga tertua mengajak mereka, "Kami sudah menyiapkan semuanya untuk menyambutmu dan cucu Ardiethama,"
Mereka duduk di meja panjang pakde yang memimpin, Daehan duduk diantara kedua orangtuanya dan Berlian berhadapan dengan bocah tersebut, Bella yang juga ada di sana duduk di sebelah Jehan, dia hanya diam, tidak ada niat untuk bergabung dengan obrolan.
"Daehan makan yang banyak, makanannya enak, mau apa? Ikan? Biar aunty ambilin," Berlian yang paling antusias menyambut keponakannya itu bersiap mengambilkan Daehan ikan tapi Jehan mencegahnya.
"Daehan nggak suka ikan yang bukan bundanya buat mbak," Jehan jelas ingat jika Daehan sama persis dengannya, tidak suka ikan, anak itu juga type picky eater juga, sama sepertinya.
"Beneran duplikat lo banget, yaudah ayam goreng ya, mau apa lagi?" Daehan hanya menurut saja, dia masih tetap diam, entahlah ada apa dengan anak itu sejak bertemu keluarga ini dia hanya diam, mengikuti alur.
Acara makan cukup hening, sesekali anggota keluarga lain memperhatikan dan tersenyum melihat Daehan yang khimat menghabiskan hidangan, beberapa kali juga gerak tangan Jehan dan Daehan sama persis, cara makan mereka sama, Berlian juga beberapa kali menawarkan makanan.
Daehan benar benar di perlakukan seperti pangeran oleh semua orang, setelah makan selesai mereka kembali ke ruang keluarga berkumpul di sana, ahli hukum keluarga juga ada di sana, Daehan bersama sepupu sepupunya sedang bermain di taman belakang di awasi oleh pelayan.
"Saya di sini akan membacakan wasiat dari mendiang tuan dan nyonya Ardiethama, wasiat ini di buat dalam keadaan sadar dan sehat tidak ada tekanan dari pihak manapun," pengacara mulai membacakan kembali wasiat, "Yang akan menjadi penerus Ardiethama adalah dari keturunan anak laki laki yaitu Jehan Rajasthan, Jika di kemudian hari Jehan tidak memiliki anak dengan istrinya, anggota keluarga lain bisa memintanya untuk menikah lagi untuk memiliki keturunan, jika Jehan menolak dia akan kehilangan semuanya, posisi, jabatan dan Ardiethama," pengacara menjeda ucapannya, mengambil napas dan membalik lembar selanjutnya.
"Setelahnya semua akan di berikan pada keturunan Berlian asal keturunannya adalah laki laki, jika Berlian tidak memiliki anak laki laki maka Berlian akan mendapatkan bagiannya saja, sedangkan bagian Jehan akan di sumbangkan pada panti asuhan di bawah naungan Ardiethama,"
Untuk pertama kalinya Bella mendengar wasiat dari mendiang mertuanya, tapi tidak bagi anggota keluarga lainnya dan Raisa, yang sudah mendengarkan sejak sehari setelah dia menikah dengan Jehan.
Dulu memanglah permintaan ayah Jehan untuk memberitahu wasiat saat Jehan sudah menikah, alasannya agar Jehan ingat dengan komitmennya, sebagai peringatan juga jika Jehan melanggar komitmen yang dia buat itu.
"Kita sudah mendengar wasiat dari kakak sekali lagi, seperti yang sudah di tulis di wasiat itu, penerusnya dari keturunan Jehan, yaitu Daehan Raksav Ardiethama benar?" pakde meminta persetujuan, "Tapi, ada satu hal yang kakak bilang padaku sebelum dia meninggal, jika anaknya melakukan kesalahan, aku bisa mengambil peran orangtua menghukumnya sebagai pengganti mendiang ayah kalian," pakde menatap Berlian dan Jehan bergantian.
"Jehan, pilihan ada di tanganmu, sebagai hukuman karena semua tindakan di masalalu yang tanpa persetujuan kami adalah kamu tidak akan mendapatkan sedikitpun bagianmu, warisan akan langsung jatuh kepada Daehan tanpa harus melewati dirimu," tegas anggota tertua keluarga itu, sudah cukup selama ini dia diam melihat keponakannya itu seenaknya, jika kakaknya masih hidup dia akan melakukan hal yang sama atau mungkin, langsung mengeluarkan Jehan dari silsilah Ardiethama di hari itu juga,"
Keluarga Ardiethama di kenal sangat menghargai perempuan apalagi istrinya, tidak ada istilah bercerai selama ini bahkan ayah Jehan saat di temukan meninggal sedang memeluk istrinya, berusaha melindunginya.
Tapi Jehan merusak reputasi itu, bercerai dengan Raisa, menikah lagi dengan Bella dan semua itu tidak ada diskusi dengan keluarga, semua dia putuskan sendiri, dan sekarang dia tidak mementingkan masa depan anaknya, Daehan.
"Jehan, kalau kamu masih menginginkan bagianmu, tinggalkan Bella dan menikah kembali dengan Raisa," perkataan itu jelas membuat Jehan, Raisa, Bella dan Berlian kaget karena hanya mereka yang tidak tau apa yang sedang keluarganya ini rencanakan, "Rawat Daehan bersama, beri kasih sayang yang utuh, buat bahagia dia,"
"Maaf pakde, apa maksudmu?" Berlian yang jelas tau sebrengsek adiknya itu tidak terima jika Jehan dan Raisa bersama, biarkan adiknya itu mendapatkan karmanya.
"Itu keputusan kami Berlian sebagai orangtua kalian, jadi apa yang akan kamu pilih Jehan," tanyanya lagi pada Jehan.
Bella yang duduk di sebelah Jehan menatap suaminya itu dengan perasaan hancur takut di tinggalkan, karena hanya Jehan yang dia punya sekarang, begitupun dengan Jehan yang menatap Bella dengan perasaan yang sama, takut ditinggalkan jika dia tidak memiliki apapun.
Raisa yang duduk bersama Berlian melihat suami istri itu sebentar, sebelum fokus pada pakde mereka, "Maaf pakde, aku menolak, aku bisa merawat Daehan dengan baik, tidak kekurangan satupun," Raisa dengan tegas namun sopan menolaknya, dia datang ke rumah ini bukan untuk kembali pada Jehan
"Coba kita tanya langsung pada Daehan, apa dia menginginkan ayah dan bundanya bersama kembali?" bude menyahutinya, "mbak, tolong panggilkan Daehan kesini," suruhnya pada salah satu pelayan.
"Kita akan tau jawaban setelah Daehan ada di sini, jika Daehan mengatakan tidak kami tidak akan memaksa tapi, kalau sebaliknya bagaimana?"
Daehan datang bersama pelayan tadi, melihat semua orang di sana, anak merasa tidak nyaman sekarang, semua mata juga tertuju padanya.
"Daehan, apa Oma boleh bertanya?" suara bude yang pertama keluar, "Apa kamu menginginkan keluarga yang lengkap? Ada ayah dan bunda di dalamnya?"
▪️▪️▪️▪️▪️
Jangan lupa tinggalkan jejak, vote, komen dan follow spoiler aku post di tiktok hehehe
Gimana tanggapan kalian buat chapter ini, ayo dong komen, aku suka bacain komen kalian tau, mood banget lihat kalian misuh misuh, bentar lagi kalian nggak bakal bisa misuh lagi di sini.
Satu lagi aku mau pamer cover buat cerita baru, niatnya mau aku publikasi setelah cerita ini tamat, xixixi, apa kalian berminat buat baca nanti?
Love you all
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.