007 "Tamu Spesial"

1.6K 212 23
                                        

Hubunganku dengannya yang berakhir bukan hubunganku dengan keluarganya.

♾♾♾


Pagi pagi Raisa sudah siap dengan pakaian hitam dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, serta kerudung yang menutupi rambut pirangnya yang hanya dia selempangkan ke pundak.

Berdiri di depan pemakaman umum dengan bunga di tangannya, melangkah masuk mencari makam dua orang yang ingin Raisa kunjungi, setelah berada di depan dua gundukan yang dia cari, berjongkok, memanjatkan doa untuk mendiang. Setelahnya membersihkan sedikit dan menaburkan bunga yang dia bawa tadi di atas kedua makam tersebut.

"Pa, Ma, Raisa datang... Daehan nggak bisa ikut karena lagi ikut mancing sama Granpanya, jangan khawatir cucu kalian udah makin besar, makin pinter, dia udah kelas dua sd sekolahnya, mirip banget sama anak kalian, padahal yang ngandung sampai besarin Daehan aku tapi, aku nggak kebagian sedikitpun. Raisa nggak nyesel kalau Daehan mirip Jehan karena menang Ayahnya kan?" cerita Raisa pada gundukan tersebut.

"Raisa takut kalau Jehan tau ada Daehan, dia bakal rebut Daehan dari aku, Raisa takut Daehan bakal di ambil, Raisa cuma punya Daehan, cucu kalian itu yang bisa bikin Raisa bertahan sampai sekarang,"

Cukup lama Raisa bercerita sampai satu pesan mengakhiri, "Pa, Ma, aku pulang dulu ya, cucu kalian udah nyariin Bundanya, nanti aku datang lagi sama Daehan," Raisa mengatakan itu sambil terkekeh.

Beranjak dari duduknya, merapikan kerudung dan menghapus air matanya yang sempat keluar sedikit dan membenarkan letak kacamatanya. Dari arah berlawanan Raisa melihat dua orang yang berjalan mendekat, wanita itu menenalnya, hingga saat mereka berpapasan Raisa menunduk agar mereka tidak bisa melihat wajahnya, wangi parfum masing masing bisa di kenali dengan mudah karena masih sama seperti dulu.

"Raisa..." gumamnya kecil sambil menoleh ke belakang, saking fokusnya pada orang yang baru berpapasan dengannya tadi, dia tanpa sadar menghentikan langkahnya.

"Mas Jehan...?"

Panggilan tersebut membuat fokusnya pecah, kembali menatap istrinya yang berada beberapa langkah di depannya. Jehan menggeleng menolak pikirannya bahwa tadi adalah Raisa.

"Eh, Kak Berlian udah dateng duluan?" ujar Bella yang melihat makam kedua mertuanya sudah ada taburan bunga, beranggapan jika Kakak iparnya yang melakukannya.

Jehan sudah berusaha denial tapi faktanya berbeda, menoleh kembali ke belakang apa benar tadi Raisa? Dia datang ke makam Papa dan Mamanya? Jelas bukan Berlian, kakaknya itu tadi mengabarinya, mengatakan untuk pergi duluan karena dirinya masih ada di pengadilan.

"Pa, Ma, aku sama Mas Jehan program hamil lagi, doain kita dari atas sana semoga berhasil Pa, Ma. Kalian pasti pengen cucu kan?" Bella mulai berbicara menceritakan apa yang akan mereka lakukan, berbeda dengan Jehan yang hanya diam, "Mas, nggak mau ngomong juga?" Jehan mengeleng sebagai jawaban pertanyaan Bella, Jehan memang tidak ada yang mau di bicarakan, rasanya tidak pantas saja.

"Kita pulang ke rumah utama langsung, kamu disana duluan, nanti aku nyusul pas balik kantor," Bella langsung menunjukkan wajah murungnya mendengar ucapan Jehan, "Kalau kamu nggak nyaman, nggak usah datang biar aku sendiri nanti, ayo aku anter pulang," tambah Jehan saat sadar dengan perubahan Bella.

"Nggak, nggak gitu... aku nggak papa kok, tapi boleh nggak aku berangkat bareng kamu, jangan tinggalin aku sendirian disana,"

"Hm," Jehan yang malas berdebat hanya berdehem sebagai jawaban.

♾♾♾


Raisa sedang berbelanja pesanan Daehan tadi  lewat pesan suara, anak itu meminta berbagai jajanan kesukaannya, "Sekalian buat Ayah sama Mama deh, biar nggak buang waktu," monolognya sambil mengambil barang di rak.

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang