028 "Mundur?"

550 68 7
                                        

Pertanyaan yang ibu Canu ucapkan cukup membuat Raisa kurang nyaman, bagaimana tidak menurutnya hubungan yang sudah selesai tidak patut di bicarakan kembali, seakan membuka luka lama, luka yang selama ini selalu Raisa coba sembuhkan dengan segala kesibukannya membahagiakan Daehan.

"Maaf, jika pertanyaan kami kurang berkenan di kamu, tidak perlu di jawab juga tidak apa apa, kami hanya memastikan di masa depan tidak ada masalah dengan keluarga mantan suami kamu," ayah Canu berusaha menengahi karena melihat raut kurang nyaman yang Raisa tampilkan.

"Iya benar, kami tidak ingin Canu berkelahi dengan mantan kamu soal anak, di masa depan anak kamu akan menjadi anak Canu dan cucu kami, tapi jika di tengah jalan tiba tiba pihak mantan kamu meminta anak kalian lagi itu akan cukup merugikan pihak kami yang tidak pernah tau masalahnya," ibu Canu cukup jelas memberitahu maksudnya, "Jadi sebelum kamu mulai berhubungan dengan putra kami selesaikan semua yang belum selesai dengan mantan kamu, termasuk soal anak kalian agar tidak mengusik hubungan baru kamu di masa depan,"

Raisa paham, sangat paham dengan ucapan itu, "Kami tidak ada masalah dengan kamu, bahkan status kami, kami menyetujuinya, apapun pilihan Canu, tapi kamu paham kan maksud kami mengatakan itu?"

"Iya tante, saya paham," Raisa menjawab dengan tersenyum, dia sadar diri karena secara tidak langsung orangtua Canu tidak benar benar setuju, apalagi soal Daehan, mereka mengatakan itu agar tidak terlalu menyakitinya.

"Kami permisi dulu," pamit mereka meninggalkan ruangan Raisa, meninggalkan pemiliknya sendirian di dalam dengan segala pikiran yang memenuhi kepalanya, kenapa masalah seakan datang bertubi tubi, Daehan yang mulai berbeda dan sekarang.

Raisa pusing dengan semua ini, haruskah dia mundur sekarang sebelum semuanya terlalu dalam dan menyesalinya di kemudian hari? Dia tidak ingin mengulangi lagi dan memaksa sesuatu yang tidak seharusnya dia miliki.

Sekarang hanya satu hal yang bisa Raisa katakan miliknya, yaitu Daehan. Seharusnya sejak awal dirinya fokus pada putranya saja, lagi lagi egonya memaksa untuk membuat orang lain bahagia padahal dirinya saja tidak menginginkan itu.

Apa pilihan membuka hati benar tapi kenapa setiap kali Raisa membuka hati atau menerima sesuatu selalu saja ada yang mengganggunya, apa dirinya tidak pantas menerima kebahagiaan itu.

"Hah... Kenapa jadi gini, lagian keluarga mana yang mau menantu janda untuk putra lajangnya?" monolognya, Raisa menyenderkan tubuhnya pada kursi sambil memejamkan matanya dan tanpa sadar air matanya keluar.

Untuk waktu yang lama akhirnya Raisa menangis tanpa suara, bebannya terlalu berat untuk dia pikul sendirian, tanpa sandaran dan penopang, dia tidak ingin membebani kedua orangtuanya yang sudah waktunya bersenang senang dengan hidup mereka tanpa memikirkan putrinya ini.

Jujur saja mental Raisa tidak benar benar baik, sejak perceraian dan kehamilannya dia sering menangis dan hampir saja membunuh dirinya sendiri namun, naluri ibunya tumbuh menggagalkannya, dia harus bertahan, menahan semuanya demi anak yang dia kandung, memastikan hal yang terjadi padanya tidak akan terjadi pada keturunannya.

Raisa lelah, ingin menyerah tapi keberadaan Daehan cukup membuatnya bisa bertahan sejauh ini, jika di kemudian hari Daehan pergi mungkin saja Raisa akan benar benar menyerah dan mengakhiri segalanya.

"Daehan..." lirihnya di tengah tangisan diam itu, biarkan dia istirahat sebentar saja sebelum kembali menghadapi dunia yang tidak adil baginya.

▪️▪️▪️

Daehan sudah berada di mobilnya, bersiap untuk pulang, anak itu hanya diam, mengingat apa yang dia lihat tadi saat di sekolah, seseorang yang sangat dia kenal, ayah kandungnya.

"Pak Sahrul," panggil Daehan dari kursi belakang, terdengar biasa saja namun, ada hal yang ingin sekali dia tanyakan sejak lama.

"Iya, tuan muda?"

"Bapak kenal ayah kandung saya kan?" pertanyaan itu keluar secara spontan, bahkan pak Sahrul belum siap dengan pertanyaan itu, bagaimana bisa? "Bapak bukan sekedar supir yang bunda pekerjakan tapi juga suruhan ayah saya kan?"

"Saya mendengar semuanya, beberapa hari lalu bapak memberi laporan pada seseorang saat saya tertidur di dalam mobil, jelas itu bukan bunda karena bapak memanggilnya tuan, saya mendengar semuanya, saya tidak benar benar tidur waktu itu, dan tadi waktu di sekolah saya melihat seseorang keluar dari mobil ini, itu ayah saya, benar?"

Pak Sahrul jelas gelagapan dengan perkataan anak bossnya itu, bahkan bahasa yang di gunakan sangat berbeda dengan biasanya, yaitu memanggil dirinya sendiri dengan nama itu.

"Saya tidak akan memberitahu bunda jika bapak mau mempertemukan saya dengan ayah," anak itu mulai mengancam, sejujurnya Daehan sedikit tau tentang ayahnya ketika tidak sengaja menemukan foto lama di kamar bundanya beberapa waktu lalu.

"Tapi tuan..."

"Laporkan pada ayah, kalau saya ingin bertemu dengannya, Daehan Raskav ingin bertemu dengan Jehan Rajasthan," satu hal lainnya yang sangat persis dengan Jehan adalah tekadnya yang tidak akan menyerah sebelum keinginan terpenuhi.

"Tuan muda, maaf bukan sekarang waktunya, jika waktunya tuan Jehan sendiri yang akan menemui anda,"

"Pak kita ke rumah sakit ya, saya ingin bertemu bunda," minta Daehan.

"Baik tuan muda,"

Pak Sahrul langsung mematuhi perintah boss kecilnya itu, mengantarkannya ke rumah sakit bertemu bundanya, selama perjalanan ke rumah sakit Daehan tertidur, pak Sahrul tidak ingin mengganggu ataupun melapor pada Jehan soal ini, bukan waktu yang tepat mengatakannya sekarang.

Terkadang pak Sahrul merasa kasihan pada Daehan, anak seusianya yang harusnya mendapatkan kasih sayang seutuhnya harus menghadapi konflik yang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti, Daehan hanya ingin seperti yang lain, seperti teman temannya yang memiliki keluarga utuh, ayah dan ibu yang menunjukkan kasih sayang seutuhnya.

Pak Sahrul juga sering memergoki Daehan menatap iri pada temannya yang bisa di antar jemput oleh kedua orangtuanya, permintaan sederhana namun, tidak bisa dirinya dapatkan.

▪️▪️▪️▪️▪️

Day 1 berusaha rajin nulis, semoga konsisten terus, amiin. Otak sama tangan semoga bisa diajak kerja sama,

Yuk kasih vote dan comment, aku seneng banget baca baca komen kalian,

See you next chapter...

BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang