025 "Kenangan"

798 120 10
                                        

Bella merasa akhir akhir ini Jehan sedikit berubah, suaminya itu lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja hingga larut malam dan pagi dirinya melihat Jehan keluar dari kamar yang berada di lantai dua yang tidak di ketahui isi sebenarnya di dalam kamar tersebut, dan masih banyak lagi yang tidak seperti biasanya.

Seperti pagi ini, mereka sarapan dengan begitu tenang, tidak ada pertanyaan atau obrolan seperti biasanya, "Mas, aku udah bikin janji lagi sama dokter Candrik minggu ini, kamu nggak ada kesibukan kan?" tanya Bella.

"Nggak ada," jawab Jehan tanpa melihat Bella dan malah sibuk dengan ponselnya yang baru saja mendapat notifikasi.

"Mas, kamu kenapa sih?" tanya Bella yang mulai merasa kesal karena diabaikan oleh suaminya, Jehan hanya menoleh mempertanyakan ucapan Bella baru saja lewat tatapannya. "Sejak kamu balik dari Surabaya, kamu berubah, kamu sering berada di ruang kerja bahkan tidur di kamar itu," Bella memberitahu unek uneknya.

"Kerjaan aku banyak, ada banyak yang harus di urus," balas Jehan sedikit ketus dan mengakhiri acara sarapannya, "Aku berangkat, kabarin aja kapan ketemu dokternya, biar nggak bentrok sama kerjaan aku," ujarnya dan pergi meninggalkan Bella yang masih duduk di tempatnya.

Bella masih berada di tempatnya bahkan sampai Jehan menghilang di balik pintu, pikirannya mulai kemana mana, apa suaminya itu sudah merasa bosan dan lelah menunggunya yang tak kunjung hamil.

Menghilangkan pikiran pikiran buruk tentang suaminya, Bella membereskan sarapan mereka, namun baru saja meletakkan piring suara ketukan membuatnya segera mencuci tangan dan membuka pintu, Jehan tidak mungkin kembali dengan mengetuk pintu, jadi siapa yang bertamu sepagi ini.

"Mbak Berlian," sapanya setelah membuka pintu dan mendapati kakak iparnya yang datang, "Masuk dulu mbak, mau minum apa ?"

"Nggak perlu, gue dateng cuma mau ambil sesuatu, jadi bisa lo minggir," balas Berlian ketus dan berjalan begitu saja dengan di ikuti Bella di belakangan.

Berlian masuk kedalam ruangan kerja milik adiknya itu, mencari sesuatu yang dia perlukan namun, tidak semudah itu menemukannya, membuka laci laci juga tidak ada.

"Mbak cari apa? Biar aku bantu cariin," Bella menawarkan bantuan tapi tetap tidak mendapatkan respon, Berlian memilih fokus mencari apa yang dia inginkan hingga menemukan sesuatu di laci terbawah dan terdalam sebuah bingkai foto yang diletakkan terbalik.

"Mbak cari apa? Biar aku bantu cariin," Bella menawarkan bantuan tapi tetap tidak mendapatkan respon, Berlian memilih fokus mencari apa yang dia inginkan hingga menemukan sesuatu di laci terbawah dan terdalam sebuah bingkai foto yang diletakkan te...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sumber pinterest and cr in pict

Berlian tau betul foto ini, foto yang sempat menghiasi meja kerja milik Jehan dulu dan juga, Berlian tau kapan foto ini diambil. Foto yang menjadi awal hubungan kedua adiknya itu, bagaimana ekspresi bahagia Jehan saat di terima oleh Raisa masih terukir jelas di ingatannya.

"Mbak?"

"Cih!" kesal Berlian sambil melempar kembali bingkai itu ke dalam laci, berdiri dan melihat Bella dengan raut yang sangat jelas tidak sukanya, mengingat penghancur hubungan adik adiknya adalah orang di depannya ini membuat dirinya muak. "Sial, dimana Jehan menyembunyikannya!" geramnya dan keluar begitu saja dan lagi lagi tanpa peduli dengan keberadaan Bella.

Melangkahkan kakinya menaiki tangga hingga tepat di depan pintu besar yang belum pernah Bella masuki, "Kenapa dikunci? Cepet buka!" suruh Berlian pada Bella yang sejak tadi mengikutinya.

"Mbak cari apa, biar aku bantu cariin. Lagipula kamar ini nggak bisa dibuka mbak, aku nggak tau kuncinya, cuma mas Jehan yang bisa," jawab Bella jujur membuat Berlian menghentikan gerakan membuka pintu yang terkunci tersebut.

"Hanya Jehan?" Berlian memastikan tidak salah dengar, Bella mengangguk sebagai jawaban, "Lo tau kamar ini..." Berlian tidak melanjutkan ucapannya, dan beralih menatap Bella tidak percaya. Kalau begitu Jehan dan Bella tidak tidur di kamar utama ini selama pernikahan mereka?

"Kenapa mbak?" Bella semakin penasaran dengan sejarah dan dibalik pintu yang selalu tertutup rapat.

"Bella, nyatanya lo tertinggal jauh di belakang sana," ujarnya sambil terkekeh kecil, "Semua masih sama, kenangannya masih tersusun rapi disini hanya saja ada sedikit yang berubah," tambahnya sambil melihat sekeliling rumah milik adiknya itu, Berlian baru menyadari bahkan tata letak barang barang masih sama bahkan warna cat yang digunakan juga sama seperti dulu, jadi siapa yang sebenarnya menjadi bayang bayang disini?

Berlian meninggalkan rumah itu dengan memberikan tanda tanya besar pada Bella yang tidak mengerti maksudnya, ini kali kedua Berlian datang ke rumah ini setelah yang pertama tujuh tahun lalu saat mereka baru saja menikah dan mengetahui Jehan bercerai.

🌷- 🌹

Orang yang membuat Berlian sering mengumpat, sekarang sedang sibuk dengan kertas kertas yang bertumpuk di atas mejanya, hingga tidak menyadari seseorang telah masuk.

"Ini yang lo minta," suara itu membuat Jehan mengalihkan fokus, mendapati berkas yang di lempar oleh Mavin begitu saja di atas tumpukan map map lainnya. "Apa nggak terlalu beresiko lo ngelakuin ini semua? Raisa bisa aja semakin benci sama lo dan bikin lo bener bener nggak bisa melihat Daehan lagi,"

Temannya itu mengingatkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika sampai semua terbongkar, Raisa, Bella, Berlian dan anggota keluarga lainnya tidak akan tinggal diam, mungkin akan ada perebutan hak asuh anak nantinya di antara mereka semua terutama keluarga Ardiethama yang begitu menginginkan penerus untuk Jehan.

"Gue nggak ada niat untuk mengambil hak asuh Daehan, gue cuma pengen dia tau gue ayahnya, gue pengen denger Daehan manggil gue ayah bukan om, rasanya menyenangkan saat pertama kali dia panggil gue ayah setelah sadar dari operasi waktu itu, gue pengen denger lebih sering lagi,"

"Tapi cara lo ini nggak bener Jehan, yang ada semua orang akan merasa sakit, lo juga nggak bilang sama Bella soal ini kan? Gimana kalau dia tau nanti kalau lo diem diem ngawasin anak Raisa?"

"Daehan anak gue juga!" sahut Jehan sambil mengebrak meja kerjanya, "Daehan bukan cuma anak Raisa, dia juga anak gue! Sampai kapanpun nggak ada yang bisa ngerubah jika darah gue juga mengalir di tubuh Daehan, bahkan Raisa nggak bakal bisa menyangkal itu!"

Plak!

Berlian yang baru datang langsung menampar wajah adiknya itu, pintu ruangannya terbuka lebar, para karyawan melihat dengan jelas atasannya di tampar oleh kakaknya, semua orang mulai bertanya tanya apa yang telah terjadi?

"Jehan tetaplah Jehan yang bajingan! Gue pikir setelah lo nikahin cewek yang paling lo cintai itu lo bakal berubah, ternyata nggak! Lo mau ngusik cewek yang udah lo buang itu hah?!" maki Berlian dengan di tonton oleh parah karyawannya.

"Suruh anak buah lo itu berhenti ngikutin Daehan sebelum Raisa tau, atau gue pastiin lo nggak akan pernah bisa lihat Raisa dan Daehan lagi sekalipun!"

"Dan lo Mavin, berhenti berada di pihak si bajingan ini,  kalau lo nggak mau kena imbasnya nanti!"

Berlian berbalik dan ingin keluar dari ruangan Jehan, namun, satu langkah sebelum benar benar keluar dirinya kembali membuka suara, "Ingat perkataan Raisa, jangan bersikap sama ke Bella, bukannya lo udah sejatuh itu ke dia, tapi kenapa lo masih menyimpan banyak kenangan tentang Raisa di dalam rumah kalian?"

🌷—🌹

Untuk semuanya terimakasih masih mau menetap dan baca cerita aku ini, huhuhu aku seneng masih ada yang baca padahal aku updatenya lama banget, maaf banget.

Pas baca chap ini kalian udah bisa menebak apa yang bakal terjadi? Atau apa yang bakal dilakuin sama Jehan? Oh ya aku tekankan nggak bakal ada adegan balikan!!! Karena plotnya udah aku bikin serapi itu, mungkin bakal ada plot twist tapi bukan soal balikan, jadi tunggu aja, aku juga masih riset juga, bahkan aku langsung tanya temenku yang paham soal permasalah selanjutnya, jadi aku bakal berusaha membuat chapter ke depan sesuai.

Jadi mohon di tunggu!


BROKEN FAMILYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang