Aku Melewati Sore Bersama Teman-teman

861 75 2
                                        

Kamis sore, Mashiho mengajak Yoshinori untuk bermain skateboard di taman. Dia juga mengirim pesan di KakaoTalk kepada Junkyu dan bertanya apakah dia ingin ikut. Di luar dugaan, remaja bermarga Kim itu tidak langsung menolak seperti biasanya.

Aku tidak punya skateboard, eung. Begitulah balasan Junkyu.

Mashiho membalas cepat. Aku akan pinjamkan skateboard-ku.

Sayangnya, Junkyu terlanjur log off. Pesan dari Mashiho tidak terbaca.

Terlepas dari semua itu, dia dan Yoshinori bersenang-senang. Remaja yang lebih tua darinya itu mengeluarkan teriakan melengking tiap kali dia gagal melakukan kickflip dengan skateboard-nya. Mashiho yang menyaksikan juga sama frustasinya.

"Aku sudah lama tidak melakukan ini," kata Yoshi.

Dia duduk di pinggir lintasan dan menggosok sela roda di papan luncurnya dengan jari telunjuk. "Oh! Lihat, ada debu!"

Mashiho, yang pembersih dan hobi bersih-bersih, memasang wajah masam. "Ew, jauhkan jarimu dariku."

Di antara pergulatan keduanya. Terdengar samar teriakan seseorang. "Yoshi Hyung!"

"Eh?" Yoshi menoleh kesana-kemari. "Apa kau dengar itu?"

"Dengar apa?"

"Ada yang memanggilku," jawab Yoshinori.

"Mashiho Hyung!"

Keduanya menoleh bersamaan. Di luar pagar, Haruto berseru memanggil nama mereka dan melambaikan tangan. Dia memakai celana pendek dan kaos dari tim sepak bola Jepang. Di belakangnya, seorang remaja berkacamata yang tidak Mashiho kenal duduk di sepeda.

"Haruto-kun! Asahi-kun! Kalian dari mana?" Yoshi begitu bersemangat melihat keduanya.

"Aku dan Ruto pergi bersepeda," jawab remaja berkacamata.

"Mashiho-hyung juga bisa bermain skateboard?" tanya Haruto.

Mashiho mengangguk, kemudian merendah. "Hanya trik-trik kecil."

"Boleh aku melihat?"

Pada akhirnya, Yoshinori dan Mashiho membantu Haruto dan Asahi melompati pagar pembatas. Sepeda milik Asahi diparkir di sisi trotoar. Mereka bergantian mencoba mengendarai skateboard di lintasan lurus. Mashiho mengambil kesempatan ini untuk berbincang dan mengenal Asahi.

Sama seperti Haruto, dia masih memiliki aroma khas yang melekat pada anak-anak yang belum memiliki gender kedua. Ketika ditanya soal kacamatanya, Asahi menjelaskan kalau matanya minus sejak Sekolah Dasar.

Tidak jauh dari mereka, Yoshinori menunjukkan trik kickflip-nya kepada Haruto.

"Aku mencoba melakukannya sejak tadi, tapi tidak berhasil," kata Yoshi. "Jadi, kalau aku gagal jangan kecewa ya?"

"Ne!"

Yoshinori menaiki skateboard, melaju, dan melakukan triknya.

Dia berhasil!

Haruto berseru riuh dan berlari menghampiri Yoshinori. Remaja kelahiran Kobe itu masih meluncur di atas papan, matanya membelalak takjub.

Mashiho dan Asahi menyaksikan keduanya saling rangkul dan melompat kegirangan.

"Selamat Yoshi-hyung!"

Untuk merayakannya, Mashiho mengajak mereka semua untuk pergi kafe favoritnya, Daelim Changgo.

Yoshinori meminjamkan ponselnya agar Haruto dan Asahi bisa menghubungi orang tua mereka dan meminta izin untuk bermain lebih lama.

Yoshinori melaju dengan skateboard-nya, diikuti Mashiho. Haruto mengayuh sepeda, sedangkan Asahi duduk di jok belakang. Mereka tiba di Daelim Changgo yang masih sepi pengunjung di sore hari.

"Aku akan traktir," kata Mashiho.

Asahi menyambar daftar menu. "Aku akan pilih minuman paling mahal kalau begitu."

Dia kemudian memesan ekspresso, dan menyesal karenanya.

Mashiho mengambil foto dan tertawa geli. Disampingnya, Yoshi menunjuk wajah Asahi yang ekspresinya tidak terkendali. "Kenapa dengan wajahnya? Hahah!"

"Pahit." Asahi menggeser cangkir berisi ekspresso, memposisikan minuman itu sejauh mungkin darinya. "Kenapa orang dewasa suka minuman seperti ini?"

Asahi memesan minuman lain, sesuatu yang manis. Kali ini, dia membayarnya sendiri.

Selagi Asahi pergi ke counter, Mashiho dan Yoshinori bicara soal tugas sekolah dan guru mereka yang terkenal galak.

Haruto tengah menyesap Milky Red Velvet-nya ketika dia mencium aroma kopi terbakar. Manik cokelatnya mengedar ke sekeliling kafe. Namun, apapun itu yang dia cari, tidak dia temukan.

Heran. Haruto mendekatkan hidungnya ke arah cangkir ekspresso milik Asahi. Namun, aroma kopi yang menguap justru berbeda.

Dia menoleh ke arah dapur. Di sana, seorang barista tengah meracik sesuatu sambil sesekali bicara pada seorang waitress.

"Hey."

Asahi menepuk pundaknya. Dia telah kembali. Remaja bermarga Hamada itu duduk dan bertanya soal persiapannya masuk sekolah. Haruto bercerita kalau dia beserta ibu dan adik perempuannya berbelanja peralatan sekolah di departement store kemarin.

Dinding kafe yang didominasi kaca menampakkan langit yang mulai jingga. Di luar, orang-orang berkumpul untuk menonton musisi jalanan. Mashiho dan Asahi tampak antusias melihat seorang penyanyi wanita usia tiga puluhan menyanyikan potongan lagu-lagu lawas yang tidak mereka ketahui judulnya.

Sementara Yoshinori dan Haruto tampak hanyut di antara orang-orang asing yang menari mengikuti alunan lagu milik SISTAR, grup idol wanita yang didaulat menjadi ratu musim panas tahun ini.

"Hari ini sangat menyenangkan," kata Mashiho.

"Sahi-ya! Ruto-ya! Ayo pergi bersama lagi lain waktu!" Yoshi melambaikan tangannya.

Haruto dan Asahi duduk di atas sepeda yang melaju ke arah blok tempat tinggal mereka, berseru kencang.

"Ne!"

"Sampai jumpa!"

-----

Double Shots (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang