Teman Seperti Itu, Tidak Datang Dua Kali

518 62 9
                                        

Stasiun Balai Kota penuh sesak, dari kejauhan, nyaris seperti kerumunan semut yang berjalan memasuki sarang. Di benak Jeongwoo, segalanya tergambar lebih buruk.

"Aku tidak bisa melakukan ini."

Dia menggelengkan kepala. Badannya gemetar. Membayangkan dirinya menuruni tangga, memasuki stasiun bawah tanah, itu membuat bulu kuduknya meremang dan dadanya sesak. Bagaimana jika dia dan Haruto terpisah? Tubuhnya terhimpit atau jatuh terinjak-injak. Dengan begitu banyak orang, tidak ada yang bisa mendengar teriakannya.

Jeongwoo limbung, terjatuh dan nyaris membenturkan kepalanya ke badan trotoar jika Haruto tidak sigap menangkapnya. Netra cokelat tua itu memancarkan kekhawatiran.

"Jeongwoo-ya, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja."

"Tidak. Tidak. Tidak." Jeongwoo meracau dan menggeleng keras, Haruto takut dia akan melukai diri sendiri.

"Kita tidak akan bisa pulang." Jeongwoo memandang pintu jalur masuk stasiun dengan mata berkabut. Kepalanya yang penuh histeria, tidak bisa berpikir jernih. Haruto segera menangkup wajah Jeongwoo, memalingkan pandangannya dari kerumunan yang menjadi mimpi buruknya.

"Bus!" seru Haruto. "Kita akan naik bus!"

Keduanya menunggu di halte bus, tapi Distrik Jongno seolah dipenuhi orang-orang yang ingin bepergian. Nyaris semua bus yang rutenya melewati Distrik Mapo tidak berhenti di halte tempat mereka menunggu, karena kapasitas penumpang telah penuh.

Dengan harap-harap cemas, mereka menanti sebuah bus untuk berhenti. Merasa lebih tenang, Jeongwoo memberitahukan kepada Haruto kode-kode bus yang rute perjalanannya melewati Distrik Mapo.

"Kodenya ada di bagian depan bus," kata Jeongwoo. "Seharusnya tidak sulit untuk--"

"Jeongwoo-ya!" Haruto menepuk pundak Jeongwoo dan menunjuk ke arah bus yang datang mendekat. Keduanya segera berdiri, menunggu di sisi trotoar.

Bus berhenti dengan bunyi decit rem. Pintu belakang bus terbuka, seorang pria paruh baya dengan seragam menyembulkan kepalanya ke luar. Pria itu tidak memiliki aroma seperti apapun, seorang beta, kalau begitu.

Melihat bahwa ada dua orang yang menunggu untuk menaiki bus, dia segera menginformasikan. "Maaf, hanya ada ruang untuk satu orang."

"Jeongwoo-ya naik saja, aku bisa kembali ke stasiun dan pulang dengan subway."

"Bagaimana mungkin? Kalau kau tidak naik, aku juga tidak akan naik!" Jeongwoo segera menepis ide tersebut.

"Tolong biarkan kami berdua naik, berdiri juga tidak masalah," Jeongwoo melobi.

"Itu melanggar protokol, ada pemeriksaan di perbatasan antar distrik, aku bisa terkena masalah."

Jeongwoo berpikir sebentar. "Kalau begitu, kami akan naik bus yang berikutnya saja."

Pria petugas bus menghela napas. "Sayangnya, ini bus umum terakhir yang akan melewati Distrik Mapo. Bus lain sudah disewa rombongan study tour SMA Seocho."

Mendengar itu, kening Haruto mengernyit, alisnya bertaut cemas. Meski begitu, dia tetap menyuruh temannya untuk pulang lebih dulu. "Jeongwoo, pergi saja."

"Apa kau tidak mengerti?" marah Jeongwoo. Dia mengguncang bahu Haruto, mencoba untuk membuatnya mengerti.

"Aku menjemputmu dari rumahmu, aku juga harus mengantarmu pulang." Kemarahannya seperti letupan kembang api. Mereka membara dan sarat melankoli.

"Jika aku meninggalkanmu sendirian, teman macam apa aku ini?" lirih Jeongwoo.

Remaja dengan hanbok kuning itu beralih ke petugas bus dan menegaskan. "Kami tidak akan naik."

Bus berwarna biru tua itu berlalu, meninggalkan Jeongwoo dan Haruto dengan tensi yang sempat tersulut di antara keduanya.

"Maaf, aku tadi memarahimu," tutur Jeongwoo. Dia tidak berani menatap mata Haruto. "Aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu naik subway sendirian."

"Tidak apa-apa," jawab Haruto. Dia mendekat dan berdiri di samping Jeongwoo. Pundak mereka bersentuhan, dan semudah itu, keduanya berbaikan.

Haruto melihat seberkas warna jingga yang mulai terlukis di langit barat. Bibirnya menyunggingkan senyum. "Semua orang harus memiliki teman seperti Jeongwoo-ya."

Jeongwoo tersipu malu. Tubuhnya tercium seperti susu cokelat, aroma yang kadang menyeruak ketika dia merasa bahagia. Dengan gemas, lengannya merangkul Haruto. Aroma tubuh mereka bertaut.

Katanya, "Di masa depan, mari tumbuh besar dan saling menjaga."

-----

Jari telunjuk Haruto, yang panjang dan lentik, menunjuk ke arah rombongan bus yang lewat. "Kenapa bus-bus itu memiliki bendera?"

"Aku rasa ini bus-bus sewaan yang dikatakan Paman tadi," kata Jeongwoo. "Itu bendera dengan logo SMA Seocho."

Haruto menyadari, tidak semua bus terisi penuh oleh siswa-siswi SMA Seocho, terlihat dari kaca jendela yang kosong di beberapa tempat. Remaja itu memeluk lututnya dan berpikir, sayang sekali. Dengan mata sedih, dia melihat bus terakhir melaju melewati halte.

Kecuali, bus berbendera itu mendadak berhenti, rodanya perlahan bergerak mundur, dan berhenti di halte. Di depan dua bayi yang melongo takjub.

Pintu belakang bus terbuka. Seorang remaja perempuan menyembulkan kepalanya keluar. "Anak-anak, kalian mau ke mana?"

"Eh? Di-distrik Mapo."

"Kebetulan sekali, ayo naik!"

Sebelum perempuan itu berubah pikiran, Jeongwoo dan Haruto buru-buru menaiki bus.

Hanya ada satu kursi kosong di deretan belakang, tepat di samping anak perempuan yang tadi mengajak mereka naik.

Sebelum Jeongwoo bisa membuka mulut, Haruto lebih dulu memicingkan mata. "Jeongwoo, cepat duduk," titahnya.

Untuk sekali ini, temannya menurut dan duduk di kursi.

"Terima kasih sudah membiarkan kami ikut." Sosok yang lebih muda membungkuk berkali-kali.

Remaja perempuan yang tadi menggeleng. "Bukan aku, tapi anak laki-laki yang di depan sana. Dia yang meminta pengemudi bus untuk berhenti."

Haruto melihat ke bagian depan bus. Ada begitu banyak anak laki-laki di sana.

"Dia duduk sendiri." Perempuan itu menambahkan, "Kau bisa duduk dengannya di depan. Dia tidak keberatan."

Haruto melihat ke arah Jeongwoo, melambaikan tangan, dan berjalan ke depan.

Dia melihatnya. Seorang remaja laki-laki yang duduk sendiri, memakai hoodie bermotif kupu-kupu dan headset di telinga. Tidak jelas apakah dia seorang alpha atau omega, karena di tengkuknya, ada stiker besar yang berguna untuk menetralkan feromon tubuh.

Namun, ada sesuatu yang familiar tentang lebar bahu dan jari tangan remaja itu, yang dia gunakan untuk melepas headset di telinganya.

Haruto memiringkan kepala, mencoba mengingat-ingat di mana mereka pernah bertemu.

Sosok itu kemudian menoleh, tepat ke arah Haruto yang matanya membesar dan jantungnya nyaris jatuh.

Itu Kim Junkyu.

-----

Double Shots (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang