Ekstra : Gloves

370 26 2
                                        

Junkyu tahu, ibunya, yang sangat menyukai anak-anak, tidak mungkin tidak menyukai Haruto. Itu bukan sekedar teori, itu adalah fakta universal.

"Halo, siapa ini?" Suara ibunya sedikit bergetar di depan pintu. Tangannya menangkup wajah Haruto yang merah karena cuaca dingin.

"Eomma," kata Junkyu. "Ini Haruto."

"Halo, Eomma."

Remaja yang hampir sama tingginya dengan putranya itu membungkuk rendah. Matanya melirik gugup ke arah Junkyu, seolah meminta izin sebelum memeluk ibunya singkat dan menenggelamkan wanita itu dalam aroma manis yang menguar dari tubuhnya.

Sementara itu, Junkyu membuang muka, mencoba menyembunyikan senyum misterius yang muncul begitu saja ketika ia mendengar Haruto memanggil ibunya dengan sebutan Eomma.

"Halo, Haruto." Sang ibu tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok yang muncul begitu saja di pekarangan rumahnya. Junkyu-nya hampir tidak pernah membawa siapa pun ke rumah, jadi ini adalah kejutan. Nyonya Kim menemukan dirinya kehilangan kata-kata. "Kau ...."

"Eomma," Junkyu menegur halus. "Kau membuatnya gugup."

"Oh, Eomma tidak bermaksud begitu. Hanya saja ...." Ucapannya terputus, dan wanita itu kembali memandang sosok asing di depannya seolah dia adalah enigma. Jelas, Haruto adalah seorang remaja, dia mungkin seusia Junkyu. Tapi, sorot mata polos dan aroma tubuhnya tidak selaras dengan postur badan yang tinggi atau getar suaranya yang rendah.

"Eomma, bisakah kita masuk sekarang? Ruto-ya memakai sarung tangan yang tidak menutupi jari-jarinya."

Kalimat itu membuyarkan kabut di kepala sang ibu, yang segera terfokus pada jari-jari merah muda yang tampak kedinginan yang coba untuk disembunyikan Haruto di dalam saku jaketnya.

"Ah, kenapa Junkyu-ya tidak mengatakan apapun. Ayo masuk!"

Pintu dibuka lebar untuk membiarkan dua remaja itu masuk. Junkyu melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sambil sesekali mengomel. "Di cuaca yang seperti ini, dan kau memakai sarung tangan tanpa jari?"

"Aku melakukannya agar bisa menggunakan ponsel dan melihat peta elektronik. Bagaimana jika aku tersesat dalam perjalanan?"

"Busnya tidak mungkin tersesat." Junkyu segera mematahkan argumen itu dan menyentil pelan keningnya.

"Ow!" Haruto mengelus keningnya, sudut-sudut matanya bergerak turun dan memberikan reaksi yang dramatis. Lalu, dia tertawa dan mencoba kabur ketika Junkyu menggelitik pinggangnya. "Geli!"

Junkyu melepaskan Haruto sebelum dia benar-benar menangis atau semacamnya. Dia berkacak pinggang. "Kau pintar membuat alasan."

Nyonya Kim datang dari arah dapur dengan teko panas dan dua cangkir kaca. Ia menawarkan, "Teh?"

"Tentu saja." Junkyu mengambil nampan itu dari sang ibu dan menatanya di meja. Setelah selesai, dia  membuat gestur ke arah sofa dan mengatakan. "Haruto, kemari. Duduk di sini."

Remaja itu lantas mengerutkan keningnya saat sang ibu mencoba untuk mengambil nampan kosong di tangannya.

"Eomma akan mengembalikannya ke dapur."

"Tidak," tolak Junkyu. "Aku saja."

Junkyu pergi ke dapur dan kembali dalam waktu singkat dengan camilan. Dia menemukan Haruto dan ibunya duduk di lantai. Nyonya Kim tengah menuangkan teh untuk Haruto. Mereka saling memandang seolah mereka telah mengenal satu sama lain sejak lama.

"Ini teh favorit Junkyu-ya."

"Benarkah?"

"Cobalah."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 23, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Double Shots (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang