Aku Ingin Bertemu Junkyu Hyung Lagi

769 74 4
                                        

Hari Sabtu ini, Asahi pergi ke pusat optik untuk mendapatkan kacamata baru. Jadi, Haruto tidak bisa pergi bersepeda bersamanya. Cuaca di luar juga sangat panas, mungkin tetap berada di dalam rumah adalah hal yang terbaik.

Kecuali, seseorang membuat bell kediaman keluarga Watanabe berbunyi. Nyonya Watanabe, yang membuka pintu, menemukan sosok remaja berkulit kecokelatan di teras rumahnya.

---

"Istana Changgyeong?"

"Kau mau menemaniku? Besok?" tanya Jeongwoo.

"Bukankah Istana Changgyeong adalah tempat yang ramai di hari Minggu?"

Haruto tidak pernah lupa kalau Jeongwoo tidak suka keramaian, itu membuatnya merasa tertekan dan panik. Dia juga tidak suka flash kamera atau cahaya yang berkedip terlalu cepat.

"Aku sudah lebih baik," kata Jeongwoo. "Terapisku bilang ini seperti latihan."

Tempo hari, remaja kelahiran Iksan itu pernah bercerita kalau ia menemui dokter setiap dua minggu sekali, untuk memperbaiki sesuatu di kepalanya.

"Kau harus memakai ini."

Haruto melihat isi paper bag yang dibawa Jeongwoo. Ada setelan hanbok untuk anak laki-laki terlipat rapi di dalamnya.

"Ini untuk apa?"

"Pengunjung yang memakai hanbok diperbolehkan masuk ke istana secara gratis. Aku pikir, karena orang Jepang, kau mungkin tidak memilikinya. Dari pada menyewa, lebih baik aku pinjamkan milikku saja."

Jeongwoo adalah anak yang peka dan inisiatif. Menurut Haruto, tidak ada satu hal pun yang perlu diperbaiki tentang dirinya.

"Tidak apa-apa, 'kan?" Jeongwoo sedikit gelisah. Ketika gelisah, anak itu mulai melakukan kebiasaan buruk dengan menggigiti kukunya. Kadang, dia melakukannya hingga berdarah.

"Apa aku membuatmu tersinggung dengan apa yang kulakukan?" tanya Jeongwoo.

Haruto menggeleng cepat. "Tentu saja tidak!"

Dia menarik tangan Jeongwoo agar remaja yang beberapa bulan lebih muda darinya itu berhenti menggigit kukunya.

"Jeongwoo-ya sangat baik," kata Haruto.

Jeongwoo selalu malu saat seseorang memujinya. "Ah, tidak, tidak. Tidak seperti itu."

Haruto tertawa. Dia mengeluarkan setelan hanbok yang dibawa Jeongwoo.

"Bagian ini namanya jaegori." Jeongwoo mengangkat atasan panjang berwarna biru muda.

"Kalau celananya, disebut baji," imbuhnya.

Ketika dicoba, jeogori itu pas untuk figur Haruto. Sedangkan celananya, adalah cerita lain.

Jeongwoo tertawa terbahak-bahak saat melihat baji miliknya terlalu pendek di kaki Haruto.

"Ya! Kenapa malah tertawa?"

-----

Waktu yang diperlukan untuk sampai ke Distrik Jongno, tempat berdirinya Istana Changgyeong, adalah satu setengah jam dengan berjalan kaki.

Haruto hendak melotot ke arah Jeongwoo. Namun, hanbok bernuansa kuning yang dipakai temannya itu begitu menyilaukan di bawah sinar matahari. Jadi, ia mengurungkan niatnya.

"Kita tidak akan berjalan kaki, 'kan?"

"Tentu saja tidak." Jeongwoo mengeluarkan ponsel dari tas dan menunjukkan laman akses transportasi dari Distrik Mapo menuju Distrik Jongno. "Kita bisa naik subway atau taksi."

Double Shots (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang