Jihoon berkacak pinggang dan bicara pada Junkyu tanpa benar-benar melihat ke arahnya. "Kau selalu datang di saat yang tidak diduga."
Junkyu ingin membalas dengan sesuatu yang sama ketusnya. Namun, saat matanya benar-benar melihat Jihoon, otaknya seolah mengalami korslet. Apa-apaan dengan kaus yang berlubang dan jeans compang-camping itu?
"Apa kau memakai rok?"
"Ini sebuah fashion statement," kata Jihoon dengan penuh penekanan. "Fashion. Kau mungkin tidak akan mengerti, melihat kau selalu memakai hoodie yang sama, kemeja yang sama, celana yang sama, dan kaos yang sama setiap harinya!"
"Ini seragam, Jihoon. Aku memang harus memakainya setiap hari, aku masih sekolah, kau ingat?"
Sesuatu tentang nada bicara Junkyu, atau mungkin aura mereka yang bertolak belakang, membuat sumbu pendek Jihoon tersulut. "Anak ini ... kau mau berkelahi denganku ya?!"
"Eum, teman-teman?" Yoshinori mencoba menengahi.
Junkyu mengangkat dagunya, angkuh. "Aku tidak berkelahi dengan seseorang yang memakai rok."
"Ahahah, Jihoon Hyung." Yoshinori yang ada di tengah-tengah perdebatan tampak berkeringat dingin. "Junkyu-ssi hanya bercanda. Iya, 'kan, Asahi?"
Asahi menguap. "Tidak."
"Ahahah, lucu sekali." Yoshinori tertawa canggung lalu berbisik pada Haruto. "Cepat, lakukan sesuatu!"
-----
Duduk di bangku ayunan bersama Haruto, Asahi melakukan metode komunikasi aneh dengan melebarkan mata, mengangkat bahu, dan gestur-gestur lain yang sepertinya hanya dimengerti oleh teman kecilnya. Puncaknya, dia membisikan sesuatu yang membuat Haruto menjadi malu, lalu marah, membuang muka, dan meninggalkan ayunan. Dia bergumam tidak jelas di sepanjang langkah yang dia ambil sebelum duduk di bak pasir bersama Junkyu.
"Kalian berkelahi?" tanya Junkyu, keheranan.
"Tidak," jawab Haruto, sedikit ketus.
Sedangkan Asahi, dari tempatnya bermain ayunan, menyahut kencang. "DIA BOHONG!"
"Kenapa kalian berkelahi? Apa yang dia katakan?" tanya Junkyu, lagi.
Haruto memutar bola matanya. "Dia tidak mengatakan apa-apa."
"ITU HANYA LELUCON. DIA TIDAK BISA MENERIMA SEBUAH LELUCON."
"Jangan terlalu serius menanggapi Asahi. Bukankah dia memang sedikit konyol?"
"Ya, kurasa."
"JANGAN BIARKAN SEMUA HORMON PUBERTAS ITU MENGUASAI PIKIRANMU."
"TIDAKKAH KAU TERLALU BANYAK BICARA?" Haruto melempar segenggam pasir ke arah Asahi, membuat yang bersangkutan berlari meninggalkan ayunan untuk berlindung di balik Jihoon dan Yoshinori yang bermain perosotan.
Junkyu mengganti topik pembicaraan. "Bagaimana rasanya menjadi murid di sekolah umum yang penuh dengan remaja pubertas? Ceritakan padaku."
"Hyung tahu sendiri rasanya seperti apa." Jari telunjuk Haruto bermain di pasir, menggambar bentuk-bentuk abstrak. "Kenapa masih bertanya?"
"Kudengar tiap-tiap orang memiliki pengalaman berbeda, itu sebabnya aku bertanya."
"Sekolahnya baik-baik saja, tapi bertemu begitu banyak orang asing secara tiba-tiba, itu ... aneh."
"Aneh?"
"Itu aneh karena ...." Haruto membuat gestur aneh dengan jemarinya, yang sayangnya tidak dimengerti oleh Junkyu. Kemudian, ingat bahwa dia tidak sedang bicara dengan Asahi, Haruto mencoba menjelaskan dengan kata-kata. "Terlalu banyak dan begitu cepat. Terlalu banyak sifat, terlalu banyak suara, terlalu banyak aroma feromon. Itu menyenangkan, tetapi di beberapa hari pertama hidungku seperti akan meledak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
Fiksi PenggemarJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
