"Aku benci rumah sakit."
Junkyu akan nengenali suara itu di mana pun. Dia juga akan mengenali sosok tinggi ramping yang berjalan mondar-mandir di lorong tunggu dengan kemeja flanel cokelat, jeans longgar, dan tato kupu-kupu yang menutupi bekas luka di punggung tangannya.
Sebut itu refleks, tapi Junkyu segera memposisikan diri di balik lorong kosong dan membuat keberadaannya sesenyap mungkin, seolah lukisan kupu-kupu di tangan Haruto akan terbang tiba-tiba dan memberitahu sang pemilik tentang keberadaannya.
Menggelikan, bagaimana Lieutenant Kim, dengan lebih dari delapan tahun pengalaman di dunia militer, bersembunyi seperti seekor tikus ketika berhadapan dengan sosok dari masa lalu. Namun, Junkyu sendirian di sini, rumah sakit masih begitu sepi di pagi hari. Dia tidak perlu menjaga wibawanya di hadapan dinding-dinding putih atau lorong-lorong kosong rumah sakit.
Pria dengan kaos bercorak militer dibalik jas dokternya itu membiarkan dirinya mengintip, mengamati situasi tidak terduga di depan poli gigi yang menghambat pekerjaannya. Junkyu bahkan belum meminum secangkir kopi. Dia ingin berlari, menjauh dari krisis yang memburunya di waktu yang terlampau pagi.
Namun, berlari artinya mengulang masa lalu dan Junkyu cukup positif bahwa dia bukan lagi seseorang yang seperti itu. Jadi, dia tetap berdiri di sana, meski mendadak ia merasa seolah menggigil.
Sebuah memori buruk, dengan tangan-tangan hitam dan kuku tajam, muncul ke permukaan. Dalam sepersekian detik, Junkyu seolah kembali diteleportasikan ke masa remajanya. Di lorong sepi yang sama, berlatar di rumah sakit yang berbeda. Jas kelulusan yang basah, aroma muntahan, dan seseorang yang menangis sendirian di ruang instalasi gawat darurat. Itu tidak berlangsung lama, dia dengan cepat kembali pada kenyataan. Waktu-waktu itu telah lama berlalu. Junkyu bukan lagi seorang siswa SMA yang pengecut dan tidak dapat diandalkan. Dia adalah seorang tentara dan seorang dokter sekarang. (Junkyu tidak lagi takut akan darah.)
"Gusiku bengkak," keluh suara itu lagi, memecah keheningan. "Gigi bungsuku tumbuh, aku mungkin perlu mencabutnya."
Gigi bungsu?
Pegangan erat Junkyu pada papan data di tangannya melonggar. Meski dia mencoba untuk tidak begitu peduli, tidak dapat dipungkiri bahwa hatinya diliputi rasa lega. Jadi, itulah alasan mengapa Haruto ada di sini. Bukan karena dia sakit atau mengalami sesuatu yang buruk, tapi karena gigi bungsunya tumbuh.
Pria itu melakukan kalkulasi singkat di kepalanya. Jika dipikir-pikir, Haruto berada di usia yang sedikit terlalu dewasa untuk mengalami masalah dengan pertumbuhan gigi bungsunya. Pasien lain umumnya mengalami kondisi itu di akhir usia belasan atau mungkin awal dua puluhan.
Junkyu membiarkan tawa kecil yang tanpa suara lolos dari sela bibirnya.
Tentu saja, gigi bungsu Haruto akan muncul sesuka hati. Persis seperti pemiliknya.
"Uh huh, yang kuceritakan padamu kemarin." Haruto terdengar sedikit sebal. Dia masih berbicara lewat sambungan telepon dengan seseorang. Ada helaan napas panjang, diikuti gelengan singkat, lalu Haruto menjelaskan. "Bukan di kanan, tapi di sebelah kiri ...."
Apapun itu yang dia dengar di sisi lain sambungan telepon membuatnya mengerutkan kening. Namun, Haruto tidak sempat merespons karena langkah kaki yang terburu-buru dari sisi lain lorong rumah sakit mengalihkan perhatiannya.
Seseorang dengan jas yang persis sama dengan yang Junkyu kenakan berjalan menuju pintu kelabu poli gigi. Junkyu mengenali sosok itu sebagai drg. Song, salah satu dokter senior rumah sakit.
Haruto segera menyudahi sambungan teleponnya dan berjanji untuk bicara lagi nanti. Figurnya lantas menghilang bersama dokter Song di balik pintu abu-abu yang tidak benar-benar tertutup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
Fiksi PenggemarJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
