Cepat atau lambat ini akan terjadi. Jika dipikir-pikir, ruang pertemanan Junkyu dan Haruto sangatlah sempit. Masuk akal jika mereka semua pada akhirnya bertemu.
Mereka berempat duduk di teras belakang rumah Mashiho dan makan siang bersama untuk merayakan kesembuhan remaja bermarga Takata itu.
Kalau boleh jujur, Junkyu tidak yakin kalau temannya itu terkena cacar air. Kulit wajah, kaki dan lengan Mashiho tampak bersih. Tidak ada bekas bintik cacar.
"Kau yang yakin doktermu tidak salah diagnosis?"
Mashiho mengangguk mantap. "Kemarin saat aku mandi, aku melihat benjolan kecil di punggung. Aku langsung pergi ke dokter dan meminta obat dengan dosis tinggi."
"Bukankah itu sedikit berlebihan?" tanya Asahi. "Bukankah cacar akan sembuh dengan sendirinya?"
"Cacarnya sembuh," tutur Junkyu. Dia bicara dari pengalamannya saat terkena cacar. Waktu itu dia masih Sekolah Dasar, Junkyu tidak ingat kelas berapa. "Tetapi, bekas lukanya mungkin akan menetap untuk waktu yang lama, bahkan menjadi permanen."
Asahi mengangguk paham. Dia seseorang yang mengagumi estetika, mudah baginya untuk mengerti kenapa Mashiho begitu preventif soal penyakit cacarnya ini.
"Untungnya seseorang hanya bisa terkena cacar sekali seumur hidup mereka."
Junkyu menyikut Haruto yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. "Bagaimana denganmu?"
"Aku?"
"Pernah terkena cacar?"
"Aku tidak ingat," Haruto menjawab jujur.
"Kau bisa bertanya pada ibumu," Junkyu menyarankan. "Beberapa orang terkena cacar saat mereka masih balita, mungkin kau salah satunya."
Haruto mengangguk. Rambutnya bergerak tersapu angin. Dia mengenakan kemeja pendek bernuansa baby blue.
Bagi Junkyu, warna itu begitu berkesan. Dia ingat bagaimana di satu titik dalam hidupnya, dia pernah memiliki kamar dengan dinding, tempat tidur, dan meja belajar dengan warna itu. Kemudian, Junkyu tumbuh begitu cepat, sedangkan seperangkat furnitur itu tertinggal. Mereka tidak tumbuh bersamanya. Junkyu ingat dia menangis saat ibunya mengganti furnitur kamarnya dan mengatakan kalau furnitur lamanya akan disumbangkan ke panti sosial.
Jemari Junkyu meraih leher Haruto, membenarkan kerah kemejanya yang sedikit terlipat.
Remaja yang lebih muda memandangnya dengan mata yang menari-nari. Dia baru saja hendak mengatakan sesuatu kepada Junkyu, tapi ucapan Asahi mencuri perhatiannya.
"Menurutmu kenapa Yoshi-hyung belum datang?" tanya Asahi.
Junkyu mengerutkan kening, dia tidak tahu kalau mereka masih menunggu satu orang lagi.
Mashiho menjawab, "Mungkin dia terjebak di klub karate?"
"Dia akan datang sebentar lagi," Haruto meyakinkan.
Benar saja. Tidak sampai lima menit setelahnya, sosok yang bernama Yoshinori itu datang dan bergabung bersama mereka.
Junkyu membungkuk dan berjabat tangan dengan Yoshinori, yang merupakan teman les Mashiho dan Haruto. Ini adalah kali pertama keduanya benar-benar bertemu.
Hal yang menarik dari remaja itu adalah, meski ia lahir dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Jepang, Yoshinori rupanya berkebangsaan Korea Selatan. Ketika bicara mengenai keluarga, sosok bermarga Kanemoto itu menyebutkan kalau dia memiliki tiga kakak perempuan. Dia juga bercerita soal ibunya yang merupakan instruktur karate.
Yoshinori tidak bicara tentang ayahnya. Haruto, Mashiho, dan Asahi bersikap seolah itu bukanlah hal yang aneh. Jadi, Junkyu tidak bertanya.
Lagipula, jawabannya cukup jelas. Ada sesuatu yang padam di mata Yoshinori. Bukan karena dia tumbuh dengan kasih sayang yang kurang. Dia dewasa sebagai pribadi yang penyayang, itu adalah cerminan dari banyaknya perhatian yang diberikan ibu dan kakak-kakak perempuannya. Namun, sampai kapanpun, tidak peduli sebanyak apapun cinta yang dia terima. Hati Yoshinori akan selalu haus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
Fiksi PenggemarJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
