"Duduk."
Alpha dalam diri Junkyu memberi instruksi. Sebelah tangan menepuk ruang kosong di sisinya, yang segera ditempati Haruto. Duduk berhadapan, Junkyu menggulung tepian celana sosok yang lebih muda dan memeriksa kondisi lututnya. Ada memar kemerahan di sana, di lutut sebelah kanan, bekas terbentur meja.
"Sakit?" tanyanya.
"Tidak," jawab Haruto.
Namun, ketika Junkyu menekan bagian lututnya yang memar, Haruto mengaduh.
"Apa yang biasa dilakukan ibumu jika kau terluka saat bermain?" tanya Junkyu.
"Meniup bekas lukanya!" seru Haruto.
Sudah Junkyu duga, rupanya setiap ibu adalah sama. "Dan kenapa ibumu melakukan itu?"
"Oka-san bilang, itu membuat lukanya cepat sembuh." Haruto lalu memelankan suaranya. Seolah jika ia bicara sedikit lebih keras, maka sang ibu, yang berada jauh di Distrik Mapo, bisa mendengarnya. "Tapi aku sudah tahu kalau Oka-san berbohong soal itu."
Junkyu tertawa dan sedikit menunduk, membuat Haruto berpikir kalau dia berniat meniup memar di lututnya, seperti yang sering dilakukan ibunya. Namun, Junkyu justru memberikan kecupan kecil di sana.
"Nah, cepat sembuh," katanya.
Sosok yang lebih tua menurunkan kembali celana yang sebelumnya tergulung, menutupi lutut yang memar kemerahan. Junkyu mengalihkan pandangannya, tepat waktu untuk menyaksikan bagaimana pundak Haruto bergetar dengan tawa tertahan.
Anak itu memeluk kaki-kakinya, menyandarkan kepala pada sebelah lutut yang tidak memar. Lalu bertanya, "Apa Junkyu-hyung adalah ibuku sekarang?"
Terdengar suara dengkusan halus. "Kurasa aku tidak punya anatomi yang tepat untuk menjadi seorang ibu."
Namun, Junkyu tidak akan keberatan. Memiliki versi kecil dari Haruto sebagai anaknya, bukanlah sesuatu yang menyulitkan. Untuk pulang bekerja, dan menemukan anak-anak dengan mata bundar dan senyum berbentuk hati menunggunya di rumah.
Haruto adalah remaja yang relatif tenang. Seharusnya, tidak sulit untuk membesarkannya. Lain cerita jika anaknya nanti seperti Park Jihoon, yang lari dari Busan ke Seoul karena tidak mau mengikuti pendidikan militer. Setidaknya, perlu sepuluh baby sitter untuk mengurusnya. Memikirkannya saja membuat Junkyu bergidik ngeri.
Sesuatu tentang percakapan ini menggelitik nurani Junkyu. Membuat dia ingat tentang usia belia Haruto. Betapa sudut pandang mereka bisa jadi sangat berbeda. Junkyu adalah sosok dewasa dalam interaksi keduanya, dan status itu datang bersama sebuah tanggung jawab besar.
Ia bertanya, dengan hati-hati. "Apa kau ingin aku jadi ibumu?"
Haruto mengernyit. "Aku sudah punya Oka-san."
"Ayahmu, kalau begitu?"
Haruto tertawa mendengar sugesti itu. Junkyu yang dia kenal dan ayahnya adalah dua orang yang nyaris tidak punya kesamaan. Pertama-tama, Haruto bukan seseorang yang dibesarkan untuk melihat orang-orang berdasarkan gender kedua mereka, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa Junkyu adalah seorang alpha, sedangkan ayahnya adalah seorang omega. Membandingkan keduanya adalah hal yang tidak mungkin.
"Hyung sama sekali tidak mirip dengan Otou-san."
"Benarkah?" Junkyu mengubah posisinya, berbaring dengan sisi tubuhnya menghadap Haruto. "Ayahmu, seperti apa dia?"
Haruto menempelkan ujung jari telunjuk dengan ujung ibu jarinya, membentuk lingkaran yang selanjutnya dia posisikan di depan mata. "Otou-san berkacamata, seperti Asahi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
أدب الهواةJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
