Malam ini, Junkyu berkendara melewati jalan distrik yang penuh dengan lampu kerlap-kerlip dan ornamen natal. Udaranya dingin, tapi atmosfer festival yang datang bersama perayaan natal membuat wajah Mapo-gu tampak hangat.
Dia memakai celana hitam polos dan sweater bermotif kupu-kupu, dirajut penuh cinta oleh neneknya yang tinggal di Jeju.
('Sejak kapan Junkyu kita peduli soal kupu-kupu?'
'Mungkin sejak dia mengenal seseorang yang menyukai kupu-kupu?'
Setelahnya, Halmeoni terus-menerus bertanya kapan Junkyu akan punya kekasih).
"Aku akan membawa seseorang untuk Halmeoni temui lain waktu," kata Junkyu, terakhir kali dia berkunjung ke kediaman nenek dari pihak ayahnya.
"Kapan?" Neneknya bertanya dengan nada tidak sabaran. Bagaimana wanita itu bisa fokus pada gulungan benang wol dan jarum rajut di tangan seraya menjalankan roda percakapan dengannya adalah sesuatu yang selalu Junkyu kagumi.
Junkyu memandang lekat api yang menyala di perapian. "Aku masih muda, Halmeoni. Tidak perlu terburu-buru."
"Usiamu sudah dua puluh enam tahun. Junkyu-ya, kau itu sudah tua!"
Junkyu tertawa dan menyamankan diri di sofa tua yang spiral kawatnya mulai mencuat keluar di beberapa tempat. Sofa ini jauh lebih tua darinya, Junkyu ingat foto masa kecil di mana ibunya--yang masih balita, duduk di sofa yang persis sama. Kelak, anak-anak Junkyu mungkin akan duduk di sofa ini--itu pun jika dia memilih untuk memiliki anak-anaknya sendiri.
Perhatiannya teralih pada sebuah sweater rajut berwarna maroon dengan motif salju di bagian tepi bawah dan lehernya. Benda itu tergeletak di meja, satu lagi karya hasil rajutan tangan terampil neneknya.
"Apa ini hasil komisi?" tanya Junkyu.
Ketika dia mencoba menyentuh sweater itu, Halmeoni memukul tangannya dengan penggaris kayu.
"Ow!"
"Jangan sentuh, itu bukan untukmu."
"Aku hanya ingin melihat!" protes Junkyu. "Memangnya itu milik siapa?"
Ekspresi di wajah neneknya seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Wanita itu tersenyum cerah, dan memamerkan sweater rajut itu pada Junkyu. Halmeoni sedikit berbisik, "Ini untuk seseorang yang akan kau ajak berkunjung nanti."
Senyuman Junkyu berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang rapuh dan getir. Hari itu, dia mengambil jadwal libur militernya dan memesan penerbangan tercepat menuju Jeju tanpa memberitahu orang tuanya lebih dulu. Itu membuat mereka kecewa.
"Sejak kau pergi, kau nyaris tidak pernah pulang," keluh ibunya. "Junkyu-ya, apa kau tidak merindukan rumah?"
Bagaimana Junkyu mengatakan pada mereka bahwa menginjakkan kaki di Seocho-gu sama seperti masuk ke dalam pintu memori yang telah ia tutup rapat-rapat selama bertahun-tahun. Bertemu dengan teman-temannya, berjalan di persimpangan, dan melihat halte bus tua dengan segala kenangannya. Bahkan dalam privasi kamar tidur di rumah masa kecilnya, memori itu melekat dan bergentayangan.
Jika Junkyu menutup mata, dia bisa melihat seseorang dengan sarung tangan tanpa jari yang berpegangan pada selimut tempat tidurnya dan rambut hitam dengan aroma khas yang melekat di bantalnya selama berhari-hari. Dia melihat senyuman dan bibir berbentuk hati di kaca spion bus. Junkyu bersumpah dia mendengar seseorang memanggilnya 'Hyung, Hyung, Hyung,' ketika dia berjalan seorang diri di trotoar. Itu seperti mimpi buruk, kecuali bagaimana Junkyu mengharapkan semuanya adalah nyata. Kemudian, dia akan merasa malu tentang itu. Kim Junkyu, dua puluh enam tahun, seorang dokter militer, masih terobsesi akan sosok anak Sekolah Menengah Pertama yang dia temui bertahun-tahun lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
FanfictionJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
