Mereka berkeliling Distrik Seocho. Junkyu menunjukkan toko aksesoris tempat dia membeli anting-anting panjang yang begitu disukai Haruto. Mereka kemudian mampir ke sebuah kedai yang menjual samgyetang. Saat pertama kali memakannya, Haruto sedang sakit, jadi dia tidak benar-benar bisa mengapresiasi ledakan rempah dan lezatnya sup ayam itu. Hari ini, dia menghabiskan satu porsinya sendirian.
"Hyung, apa kita tersesat?" tanya Haruto.
Keduanya telah meninggalkan kedai samgyetang dan area streetfood jauh di belakang mereka. Menjejaki deretan toko retail dan peralatan rumah tangga.
"Tidak," jawab Junkyu. Suaranya terdengar solid.
Benarkah? Bukankah di lima belas menit terakhir mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama?
Kemudian, sosok yang lebih tua dengan cepat mendorong Haruto ke dalam gang sempit di antara dua ruko. Punggungnya rapat dengan dinding berlukis grafiti. Tubuh Junkyu memerangkapnya dalam kontak fisik yang tidak terhindarkan.
"H-Hyung?" Remaja itu tergagap.
Junkyu segera menutup mulut Haruto dengan telapak tangannya. Matanya fokus ke mulut gang, dia tidak melihat wajah Haruto yang berubah merah.
"Shh ... tolong tunggu sebentar," pinta Junkyu.
Haruto mengangguk, menyandarkan kepala pada dinding. Telapak tangan Junkyu masih membungkam bibirnya.
Sepasang matanya yang bulat menangkap potret kalimat provokatif yang tercoret di dinding, tepat di belakang kepala Junkyu. Sungguh, dunia artis jalanan penuh dengan imagi dan subjek sensitif. Mungkin, karena senimannya adalah anak-anak pubertas yang tidak punya sarana untuk menyalurkan hasrat mereka.
Pandangan Haruto beralih ke mulut gang, bertanya-tanya apa gerangan yang ditunggu oleh Junkyu.
Jalanan relatif ramai.
Figur asing berlalu-lalang dengan cepat. Seocho-gu penuh dengan orang-orang yang super sibuk. Mereka semua punya tempat untuk dituju.
Kemudian, seperti sebuah anomali, seorang gadis dengan ransel pink berjalan kebingungan sambil membawa ponselnya. Dia berhenti beberapa langkah dari mulut gang dan memperhatikan sekeliling.
Haruto menangkap sesuatu yang menarik tentang penampilan gadis itu. Dia menggunakan seragam yang sama dengan Junkyu.
"Hyung--"
Junkyu merangsak keluar dari gang sebelum Haruto selesai bicara.
Di sisi lain, si gadis nyaris menjatuhkan ponselnya, tersentak ketika Junkyu muncul begitu saja di hadapannya.
-----
"Kenapa. Kau. Mengikutiku."
Suara Junkyu penuh dengan penekanan. Matanya memandang tajam pada gadis dengan rambut bob yang hanya bisa membeku di atas trotoar.
Haruto sedikit berbisik. "Hyung, dia siapa?"
Suara gadis itu bergetar. Pandangannya bergulir dari Junkyu, menuju Haruto, lalu kembali pada sosok alpha yang tampak marah. "Aku--"
"Dia murid yang satu kelas denganku. "
"Oh," kata Haruto. Ia sedikit membungkuk pada Sung Chani. "Halo."
Junkyu memberikan kartunya pada Haruto dan memberikan instruksi. "Pergilah ke minimarket dan belilah sesuatu."
"Eh, kenapa tiba-tiba?"
"Beli saja es krim atau minuman dingin."
"Eum, oke." Haruto berbalik, hendak memasuki minimarket ketika dia teringat sesuatu. "Pin-nya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
Fiksi PenggemarJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
