Haruto akhirnya menanyakan hal yang paling ingin ia tanyakan sepanjang hari ini. "Apa aku terlihat berbeda?"
Asahi justru balik bertanya. "Apa kau merasa berbeda?"
Sepasang bahu, yang kian hari kian lebar, terangkat. "Aku bermimpi aneh semalam."
Rasa ingin tahu muncul. Asahi bertanya, "Mimpi apa?"
Haruto mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Asahi. Keduanya berhenti di tengah-tengah trotoar, terpisah dari kerumunan. Beberapa orang melihat ke arah mereka, dan berpikir bagaimana keduanya sangat cocok untuk menggambarkan istilah two pretty best friend.
"Jadi, apa sekarang kau seorang alpha?" tanya Asahi.
"Aku tidak tahu, makannya aku bertanya."
"Memangnya sebelumnya kau sudah pubertas?" tanya Asahi, dia terdengar ragu.
"Bukannya itu sudah jelas? Dengarkan saja suaraku."
"Yang seperti ahjussi itu?"
"Ya!"
"Kau tahu, itu bukan satu-satunya tanda pubertas. Kau bahkan tidak punya bulu ketiak."
"Kau juga tidak punya!"
"Aku melakukan shaving, kau tahu? Itu sebabnya kau tidak pernah melihatnya," Asahi beralasan. "Apa kau yakin kalau mimpimu itu memang sebuah wet dream?"
"Aku bangun dan semuanya terasa basah. Itu namanya mimpi basah, 'kan?"
"...."
Haruto menyikut lengannya. "Oi, kenapa diam saja?"
"Sebenarnya, apa yang kau lihat di mimpimu itu?"
"Aku lupa."
Sepanjang hari dia berusaha mengingatnya, tapi nihil. Rasanya seperti ia tengah menguatkan pegangannya pada segenggam pasir, yang malah melepaskan diri lewat sela jemari.
"Memang dulu kau memimpikan apa?" tanyanya penasaran.
Asahi, yang seumur hidupnya sering disalahgenderkan sebagai seorang omega karena struktur tubuhnya, sebenarnya adalah seorang beta. Asahi juga, dalam tiga bulan terakhir, kembali disalahgenderkan, bahkan dikira bocah. Alasannya bukan lain karena ia nyaris setiap waktu bersama Haruto. Aroma tubuh remaja bermarga Watanabe itu menempel padanya. Orang-orang lantas menganggap kalau mereka seumuran, padahal Asahi tiga tahun lebih tua dari Haruto.
Raut wajah Asahi berubah serius. "Aku memimpikan Nyonya Tsunade."
Haruto tersandung sepatunya sendiri. "Tsu-tsunade yang itu?!"
"Yang mana lagi?"
"Ya, ya ampun!" Haruto lalu melihat Asahi menyeringai, otaknya otomatis berasumsi. "Kau berbohong ya?"
Senyum Asahi mengembang. "Aku serius!"
Haruto membuka mulutnya, hendak mencecar Asahi soal candaannya yang terkadang di luar nalar. Namun, seseorang menginterupsi.
"Benar, 'kan?" kata Junkyu, alih-alih menyapa. "Setiap kali aku melihatmu, kau selalu bersama anak laki-laki yang berbeda."
Dengan wajah tanpa ekspresi, Asahi mengamati Junkyu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Siswa SMA Seocho itu memakai sweater berwarna pink dan celana putih. Rambutnya di-gel dan disisir rapi ke belakang, menampakkan keningnya. Terlepas dari wajah yang babyface, tidak salah lagi, dia adalah seorang alpha.
Asahi merapat ke sisi Haruto dan berbisik. "Apa ini orangnya?"
Haruto tidak menjawab, tapi rona merah yang menyebar sepanjang tulang pipi hingga telinga, menjelaskan segalanya. Walaupun secara tidak sengaja, karena ketiganya telah bertemu, Haruto memperkenalkan mereka. "Asahi-hyung, ini Junkyu-hyung, temanku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
FanfictionJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
