Memakai sabuk pengaman, Junkyu duduk di samping ibunya yang memegang kemudi. Putra tunggal di keluarga Kim itu bertanya. "Eomma, kita mau ke mana?"
"Ke Mapo-gu, Eomma akan mengunjungi teman lama di sana."
Alis Junkyu mengernyit. "Teman yang mana?"
"Kau lupa? Namanya Nyonya Sung." Ketika melihat putranya hanya memasang ekspresi bingung, sang ibu menambahkan.
"Ibunya Sung Chani, temanmu saat Sekolah Dasar dulu?"
"Oh, yang itu." Junkyu ingat anak perempuan yang sering dijodoh-jodohkan dengannya saat mereka masih kecil. "Itu sudah lama sekali."
"Kalian masih berteman, 'kan?"
Sejujurnya, tidak. Tidak sejak Junkyu menolak Sung Chani ketika gadis itu menyatakan perasaannya. Waktu itu, dia begitu stress dengan ujiannya, dan Sung Chani datang di saat yang tidak tepat. Singkatnya, Junkyu bisa menolak gadis itu dengan lebih lembut, tapi dia tidak melakukannya. Pertemanan mereka kemudian menjadi renggang, terlebih keduanya mendaftar di SMA yang berbeda.
Junkyu tidak pernah menceritakan peristiwa itu kepada siapapun. Melihat bagaimana ibunya dan Nyonya Sung membuat janji untuk bertemu, Junkyu rasa Sung Chani juga tidak mengatakan apapun pada ibunya soal kejadian itu.
Di satu sisi, Junkyu merasa lega. Di sisi lain, ia merasa enggan. Membayangkan kecanggungan yang akan terjadi saat mereka bertemu, sudah cukup untuk membuat perut Junkyu terasa mulas.
'Ini mengerikan,' pikir Junkyu.
Dia berbagi sofa dengan Sung Chani sementara orang tua mereka asik mengobrol. Keduanya bahkan mengungkit perihal wacana perjodohan yang pernah mereka bicarakan di masa lalu.
"Junkyu tumbuh dengan baik," puji Nyonya Sung. "Dia sangat tampan. Bukan begitu, Chani-ya?"
Di samping Junkyu, Sung Chani, gadis dengan potongan rambut bob, tidak mengatakan apapun. Dia hanya sesekali memainkan ponselnya dan mengabaikan Junkyu.
Sung Chani mungkin masih merasa marah. Namun, jujur saja, Junkyu tidak peduli. Dia tidak bisa peduli.
Selagi dia duduk di sofa dan menyesap secangkir teh yang sedikit terlalu manis, pikirannya melayang. Untuk pertama kalinya, ia ingin pergi ke luar, menjelajahi Distrik Mapo. Mungkin, jika ini adalah hari keberuntungannya, dia akan bertemu anak SMP dengan senyum berbentuk hati yang duduk bersamanya di bus kemarin.
Haruto, namanya Haruto. Yang suaranya terus bergema di kepala Junkyu.
'Hyung, Hyung, Junkyu-hyung!'
"Junkyu? Junkyu-ya?" Ibunya menepuk pelan lututnya. "Apa kau melamun?"
Junkyu menggeleng, lalu melihat ke luar jendela. Terjebak dalam situasi canggung dengan Sung Chani, mendadak terasa seperti sebuah masalah kecil yang tidak perlu dipikirkan. Dada Junkyu menghangat, seolah dia extra bahagia hari ini.
Remaja itu melirik curiga pada cangkir di tangan. Sungguh, apa yang dicampurkan Nyonya Sung dalam teh ini?
Ibunya dan Nyonya Sung, memandangnya dengan sorot mata geli. Sung Chani bahkan mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel untuk melirik Junkyu.
Menyadari itu, Junkyu bertanya. "Kenapa?"
"Feromonmu menguar ke mana-mana," jawab gadis itu. Dia mengangkat lengan, seolah menutupi hidungnya.
"Ah, maaf, maaf!" Junkyu berdiri. "Aku ... aku akan pergi keluar untuk menenangkan diri."
"Chani-ya, kau juga keluar," pinta sang ibu. "Temani Junkyu. Dia belum pernah pergi ke Mapo-gu sebelumnya. Bagaimana kalau dia tersesat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Double Shots (END)
FanfictionJunkyu adalah seorang Alpha. Haruto--yang masih belia--tidak mungkin bermanifestasi sebagai apapun kecuali Alpha. Masalahnya, Junkyu tidak bisa lepas dari gravitasi seorang Haruto Watanabe.
