Rena menyeka keringat yang tak berhenti mengucur di dahinya. Setelahnya mengibaskan tangan untuk mengipasi wajahnya yang kepanasan.
Saat ini Rena tengah bermain futsal bersama anak laki-laki sekelasnya dengan embel-embel akan ditraktir ketika istirahat ke dua nanti. Pasalnya jumlah laki-laki di kelas itu ganjil dan tak ada yang mau mengalah menjadi wasit. Jadinya mereka memaksa Rena untuk menjadi pelengkap walaupun harus merelakan uang mereka untuk mentraktir gadis itu.
Kebetulan Rena merupakan satu-satunya perempuan di kelas yang ikut ekstrakurikuler futsal, makanya dia yang dipaksa ikut.
Memang kedengaran aneh seorang Rena yang mageran itu mengikuti ekstrakurikuler yang melibatkan fisik. Namun faktanya memang seperti itu. Dahulu ketika kelas sepuluh, setiap anak diwajibkan mengikuti ekstrakurikuler atau organisasi. Lavi dan Alurra sempat mengajaknya mendaftar OSIS, tapi Rena yang masih gemetaran ketika presentasi di kelas itu menolak keras.
Saat itu Rena diajak lelaki yang kini sudah menjadi mantannya untuk masuk ekstrakurikuler futsal. Makanya dia bisa berakhir berada di ekstrakurikuler itu. Nahasnya, kini lelaki itu sudah tak ada lagi di ekstrakurikuler tersebut lantaran sudah pindah sekolah beberapa bulan lalu.
"Gue udahan. Capek!" ujarnya pada para laki-laki di sekitarnya, dibalas decakan oleh mereka. Baru sekitar dua puluh menit bermain tapi Rena sudah mengeluh.
"Lemah, lo! Gitu doang capek." Jastara yang kebetulan sedang berada di depan Rena sontak mencibir.
Rena berdecak. "Panas, elah. Gue nggak mau gosong."
Renan sebagai salah satu laki-laki yang berada di tim lawan merotasikan bola mata. "Dasar cewek. Sana minggir! Biar gue jadi wasit."
"Kenapa nggak dari tadi, kampret!" umpat Jastara yang merasa sangat dirugikan. Kalau saja Renan bilang begitu sejak tadi pasti mereka tak mesti melepas uang jajan untuk membayar Rena.
"Baru mau sekarang!"
Rena hanya cengengesan menyaksikan perdebatan para lelaki itu. Dia lantas melipir menuju tepi lapangan yang teduh. Tak memedulikan persengitan di lapangan sana. Pokoknya yang penting dia akan benar-benar mendapat gratisan sewaktu istirahat nanti.
Gadis itu duduk seorang diri. Teman-teman perempuannya sudah pada ke kantin sebab guru olahraga berhalangan hadir makanya anak-anak dibebaskan. Sementara Lavi tetap di kelas karena tidak mengikuti jadwal olahraga.
Renan dan Jastara sudah tidak berdebat. Permainan kembali dilanjutkan dengan pemain yang sudah berkurang. Rena menonton mereka dalam diam. Malas bila harus menjadi suporter dadakan.
"Sendirian aja, Mbak?"
Seorang lelaki duduk selonjoran di sampingnya. Turut menyaksikan pertandingan futsal kelas 12 IPA 2.
Rena hanya meliriknya sekilas. Tanpa menoleh pun dia sudah tahu kalau yang baru saja duduk di sebelahnya adalah Haga. Suara dalam lelaki itu terlalu khas.
"Lo nggak pelajaran?" tanya Rena dengan mata tetap tertuju ke depan.
Haga mengangguk. "Pelajaran, lah. Tapi gue haus makanya izin dulu beli minum."
"Emang boleh?"
"Apa yang nggak boleh buat manusia ganteng kayak gue?" Sesaat setelahnya Haga terkekeh karena ucapannya sendiri. "Nih," katanya sambil menyerahkan sebotol minuman kepada Rena.
Mata Rena memutar jengah. Haga dengan agenda kenarsisannya adalah sesuatu yang tak mungkin ada habisnya. Meski tangannya tetap menerima uluran minuman itu dan segera meminumnya sampai sisa setengah. Haga dan minumannya datang di waktu yang tepat. Dia benar-benar lagi kehausan.
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Teen FictionKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
