31. siasat

212 10 0
                                        

Hari ini, Kala masih izin tidak sekolah sebab harus menemani Haga, makanya meskipun dia sudah punya akses eksklusif buat mengantar jemput Rena setiap hari, dua hari belakangan ini ia membiarkan Rena ke sekolah tanpanya. Rena juga tak mempermasalahkan. Dia tak segila itu buat marah ke Kala perkara Kala lebih mementingkan sahabatnya yang lagi berduka. Cuma yang bikin Rena sangsi adalah tingkah Kala yang seolah mengabaikannya.

Decakan penuh murka melayang begitu saja saat pesan yang Rena kirim lima jam lalu tak kunjung dapat balasan. Padahal dari status online yang tertera di bawah nama kontak Kala, laki-laki itu sempat online 10 menit lalu. Lantas, mengapa pesan Rena yang aslinya tak butuh banyak kata buat menjawab itu tak tersentuh sedikit pun? Dibaca saja tidak.

"Ck ck ck. Kayaknya sekarang Kala udah naik jabatan dari cowok ganjen ke presiden ya, Kak. Sibuknya bikin kepengin sungkem."

Rena kontan terperanjat begitu menyadari ada kepala menempel di lengannya. Begitu ia beringsut menjauh dan si pemilik kepala mendongak sambil cengengesan, baru syoknya agak berkurang walaupun jantungnya sudah terlanjur deg-degan parah.

"Fio!"

Cengiran cewek itu kian melebar. "Abisnya Kak Rena aku panggilin nggak nyaut-nyaut. Terpaksa deh, aku ngintip."

"Ishh! Terus ngapain manggil-manggil?"

"Anu ... itu ... aku boleh ikut Kak Rena, nggak? Kata Reno, Kak Rena sama Reno mau langsung ke bakery shop-nya mama kalian, berhubung aku bosen di rumah, aku kepengin ikut."

Mata Rena memicing mendengar rentetan kata "kata Reno". "Sejak kapan lo deket sama Reno? Kok dia udah terbuka gitu sama lo?"

Napas berat Fio lolos, sudah cukup menjelaskan pada Rena kalau pertanyaan Rena itu jatuhnya fitnah. Sebab, nyatanya Fio menjawab, "Aku tahu soal ini aja mesti disinisin dulu sama dia! Pake bilang bukan urusan aku lah, jangan ikut campur lah, wess cocote adikmu iku nggateli tenan, Kak!"

"Hah?"

Fio menepuk dahi. Sebagai anak yang masih punya darah Semarang kental, ketambahan kebanyakan pekerja di rumahnya berasal dari Jawa bahkan sampai ke pengasuhnya sewaktu kecil, Bahasa Jawa jadi sering menyempil sewaktu dia bicara. Bahkan, saat dia masih jadi bocah ingusan SD, Fio sempat kesulitan bergaul perkara bahasanya tak menyatu dengan teman-temannya yang nyaris semuanya asli anak Jakartaan. Meski sekarang Bahasa Indonesianya lebih baik, dia masih sering kelepasan pakai Jawa kalau lagi misuh.

"Ih, pokoknya Reno nyebelin!"

Sebetulnya jawaban Fio kurang meyakinkan, cuma daripada topiknya malah kegeser, Rena memilih sok percaya. "Tapi Reno bilang kan, kalau gue sama dia ke sana buat bantu-bantu?"

"Enggak. Kan aku tanya abis sekolah Kak Rena ada acara apa enggak, Reno jawab mau ke toko roti punya mamanya, pas aku tanya sama siapa, Reno jawab sama dia. Sebenarnya aku tuh masih kepengin nanya-nanya lagi, Kak. Salah satunya nanya tujuan kalian ke sana. Tapi hati aku nggak sanggup lagi buat nampung kata-kata jahat Reno."

"Oh. Jadi?"

"Jadi apanya?"

"Lo tetep mau ikut apa enggak? Biasanya jam segini tokonya rame sama anak sekolahan kayak kita, belum lagi orderan online. Pasti hectic banget."

"Ikut, dong! Walaupun Papi aku kaya raya dan uangnya nggak akan habis tujuh turunan, aku bukan anak manja yang apa-apa minta tolong maid, kok!" ujar Fio penuh tekat.

Faktanya, kalau ada Rajev di sekitaran situ, pasti laki-laki itu sudah mengatai adiknya gendeng karena halunya sudah tidak wajar.

"Oke. Tapi toko roti nyokap gue nggak akan kedatangan ajudan bo-nyok lo, 'kan? Gue nggak mau ya, pelanggan pada kabur gara-gara ngira tokonya lagi digerebek."

FOOLAFFAIR Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang