35. yang datang akan pergi

243 9 0
                                        

Reno tidak biasanya bertindak impulsif. Sebelum melakukan atau mengucapkan sesuatu, ia akan memikirkan imbas yang ditimbulkan setelahnya. Terutama pada hal-hal yang berisiko melukai harga diri. Namun, ada satu hal yang mampu meruntuhkan pendirian itu. Rena. Untuk Rena, Reno akan melakukan hal memalukan bila perlu. Untuk Rena, Reno akan melakukan hal mematikan bila harus. Tak perlu ditegaskan berkali-kali jika Rena adalah semesta untuk Reno. Maka demikian, segala sesuatu bisa menjadi mungkin apabila menyangkut si kakak perempuan.

Seperti halnya tatkala Reno meminta Fio menemani Rena untuk menghibur sang kakak, seandainya saja bukan karena Rena, maka Reno takkan sudi menurunkan ego meminta seseorang datang ke rumahnya. Tapi, dalam hal ini ia merasa Rena membutuhkan lebih banyak teman, sehingga muncullah tawaran yang tadi siang sempat terlontar pada Fio.

Fio sempat mengabari kalau dia akan tiba di rumahnya sekitar jam delapan, maka dari itu sejak 15 menit lalu, Reno sudah singgah di ruang tamu guna menanti hadirnya Fio. Ia tak mau membiarkan Rena membukakan pintu, enggan membiarkan Fio berucap macam-macam atas undangannya.

Lama menunggu, akhirnya lewat tujuh menit dari waktu yang ditentukan, bel rumah berbunyi tepat setelah Reno mendapat pesan kalau Fio sudah tiba, usai membuat lelaki itu menunggu di ruang tamu 22 menit lamanya.

"Hai!"

Pintu terbuka, dan langsung menampilkan Fio dengan senyuman lebarnya. Fio seorang diri di sana, hanya bertemankan dua kresek besar di kedua sisi tubuhnya.

"Gue bawain buah buat Tante Lina sama cemilan buat Kak Rena. Reno tolong bawain, dong!"

Reno agak mengernyit. Tak ayal mengartikan tindakan Fio sebagai kelancangan. Namun, mengingat dialah sejatinya yang telah mengundang Fio kemari, niat untuk protes itu ia buang jauh-jauh. Akhirnya maju selangkah lebih dekat guna mencangking dua kresek besar itu.

"Tadi ke sininya dibawain Mas Rajev, tapi orangnya nggak mau diajak masuk. Yaudah, deh, gue minta tolong sama lo." Gadis itu mengedikkan bahu seraya membuntuti langkah Reno ke dapur, abai bahwasanya si tuan rumah belum menyilakannya masuk.

Mendengar suara cempreng nan menyebalkan dari arah samping agak belakang, Reno menoleh sesegera mungkin dengan alis bertaut. Menghentikan langkah. Yang juga membuat Fio berhenti berjalan.

Sebab, Reno pikir Fio sudah langsung melenggang ke lantai dua di mana kamar Rena selalu bersemayam. Malah rupanya cewek itu menjelma menjadi anak ayam dengan ia sebagai induk.

"Rena di kamar. Lo langsung ke kamar aja."

"Kan gue nggak tahu kamar Kak Rena yang mana. Terus gue kepengin ketemu Tante Lina juga, sih ... gue mau ngucapin banyak-banyak terima kasih! Tante Lina ke mana?"

"Belum balik," jawab Reno, sudah menyambung langkah. Tentunya dengan Fio yang masih setia menjadi buntut.

"Yahh ... sayang banget. Nggak apa-apa, deh, bisa ketemu besok lagi."

Reno enggan susah payah menanggapi. Setelah meletakkan buah serta cemilan pemberian Fio di atas meja makan, ia berbalik badan guna memandangi Fio yang mengharuskannya menunduk ketika berinteraksi.

"Stiker Cinnamoroll. Lo masuk ke situ."

Hidung Fio mengerut tak mengerti. "Maksudnya pintu kamar Kak Rena yang ada stiker Cinnamoroll-nya?"

"Iya."

"Oohh...." Dia manggut-manggut. "Pinter juga gue. Tahun depan daftar Clash of Champions, aah." Melihat Reno acuh tak acuh dan kini malah berlalu meninggalkannya begitu saja, Fio yang lagi dalam prosesi bangga-banggaan usai berhasil mengartikan kalimat rumpang Reno pun terpaksa berhenti.

FOOLAFFAIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang