Haga
Gue udah aman.
Dia barusan pergi.
Nanti malem gue nginep
Menekan tombol kembali, Kala mengembuskan napas berat. Sorotnya sendu menatap kontak tersemat di tampilan awal aplikasi chat miliknya. Nama Rena dengan love transparan itu masih singgah di sana, tak pernah sekali pun ia berniat melepas sematan itu meski tak ada pesan yang dia kirim maupun terima.
Ia sadar sekali bila akhir-akhir ini Rena sudah jarang mengiriminya pesan, tak seperti dahulu yang setiap hari pasti ada saja pesan yang ia terima. Entah untuk menanyakan hal basic seperti apakah Kala sudah makan atau belum, apakah hari Kala berjalan dengan baik atau sebaliknya, hingga menanyakan apakah Kala kewalahan dengan tugasnya atau tidak, yang selalu berakhir Rena membantu mengerjakan tugas tersebut.
Tak jarang pula, Rena memenuhi room chat mereka dengan segala laporan kegiatan yang tengah gadis itu lakukan, tak lupa dengan dokumentasi berupa foto random Rena yang tak pernah luput dari album khusus yang Kala buat untuk Rena.
Mengingat itu, sudut bibir Kala sedikit terangkat. Memori ketika Haga mengejeknya habis-habisan gara-gara ia sampai rela menghapus game dalam ponselnya demi menyiapkan penyimpanan yang cukup untuk segala foto kiriman Rena itu menguar begitu saja. Memunculkan perasaan rindu yang teramat pada gadis pujaannya itu.
Kala tak pernah melupakan Rena, tak peduli sebanyak apa pun waktu yang dia habiskan dengan Lavi. Sebab, sang kekasih akan selalu memiliki ruang khusus dalam ingatan serta hatinya. Terlebih dengan album khusus Rena yang tersimpan abadi di galerinya, serta catatan berisi semua hal yang berkaitan dengan Rena-seperti apa yang Rena suka dan tidak suka-yang menjadi satu-satunya penghuni di aplikasi notes-nya. Semua hal tersebut selalu mengingatkan Kala pada gadis itu.
Namun, nahas, situasinya begitu rumit. Hingga untuk sekadar menyuarakan kerinduannya yang mendalam serta bagaimana selama ini perasaannya pada Rena tak pernah berubah maupun berkurang walau sedikit, ia kesulitan. Bukan sulit untuk mengungkapkan, tetapi sulit untuk membuat Rena yakin pada perasaannya.
Karena, setiap kali Kala mencoba memberi tahu perasaannya, gadis yang kini bersamanya selalu melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat Rena ragu padanya. Situasi sekarang benar-benar membuat Kala seolah menjadi lelaki berengsek yang menginginkan dua perempuan sekaligus.
Rena
Aku pengin ngobrol, Ren. Mau ketemu? Kalau nggak, it's ok kalau cuma call.
Selama ini Kala menahan diri demi menjaga hidup Rena tetap tenang, serta agar kasihnya selalu dalam suka cita. Sayangnya ia benar-benar tidak tahan dengan semua sandiwara ini. Cepat atau lambat, Rena pasti akan tahu kebusukan orang-orang di sekitarnya.
"Kala!"
Lelaki itu tersentak, cepat-cepat mengembalikan ponselnya ke tampilan awal sebelum kemudian mematikannya. Tanpa ia sadari bila jarinya tak sempat mendarat pada ikon pesawat. Pesan yang ia harapkan segera mendapat balas itu bahkan tak pernah terkirim. Berakibat pada kejujuran yang harusnya terungkap malam ini, malah jadi tertunda entah sampai kapan.
"Kenapa, La?" sahutnya, sembari menyimpan ponsel dalam saku jaket.
"Gue nyuruh lo ke sini, tuh, buat nemenin gue. Bukan buat lihatin lo sibuk sama HP!"
"Maaf," ujar Kala singkat. Bukan merasa bersalah. Ia hanya merasa energinya cepat habis ketika menghadapi Lavi. Dia tak cukup tenaga buat memberi tanggapan pada semua kata yang terlontar dari bibir mematikan cewek itu.
"Maaf buat yang mana? Yang tadi pagi, sore, atau barusan? Kesalahan lo hari ini terlalu banyak asal lo tahu."
Alis Kala menyatu. "Apa yang salah? Gue cuma salah barusan."
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Teen FictionKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
