Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Reno akhirnya keluar dari kamar Rena untuk mengantar makanan, sekaligus memastikan keadaan kakaknya setelah berjam-jam terjebak berdua dengan Fio. Setidaknya satu hal berjalan cukup baik malam ini, ditandai dengan wajah Rena yang tak lagi sekusut beberapa hari terakhir. Malah dua cewek itu lagi haha-hihi bareng sambil nonton kartun.
Keputusan membawa Fio agaknya membawa berkah.
Lalu saat ini Reno tengah menapakki petak demi petak tangga menuju lantai bawah, mau menemui Mama yang baru pulang setengah jam lalu-waktu yang cukup tidak wajar karena tidak biasa. Jadi Reno merasa mesti berbicara dengan Mama, ia ingin mengajukan banyak pertanyaan. Salah satunya: kenapa pulangnya bisa sampai selarut ini?
Saat sampai di depan kamar orang tuanya, langkah Reno melambat. Pintu kamar tidak tertutup rapat, menyisakan celah sempit dengan cahaya lampu yang masih menyala. Artinya, penghuni di dalam belum tidur. Mungkin Lina baru saja keluar-masuk kamar. Atau Zaka. Atau mereka berdua.
Reno mengangkat tangan, bersiap mengetuk. Namun sebelum buku-buku jarinya menyentuh permukaan pintu, suara keras dari dalam menghentikannya seketika.
"Udah sering Mas peringatin, 'kan? Jangan sering-sering buka toko! Kamu mau anak-anak curiga, hah?"
Reno membeku. Tangannya menggantung di udara begitu saja. Meski Zaka terkesan menahan teriakannya agar tak terdengar sampai luar, nyatanya suara pria itu masih terlalu tinggi untuk Reno dengar.
Pertama kali dalam 16 tahun ia hidup, Reno mendengar Papa semarah ini pada Mama.
"Aku nggak ada pilihan, Mas!" Lina menyahut tak kalah keras. "Uang yang kamu kasih nggak cukup buat menutup semua pengeluaran kita! Aku juga harus nabung buat biaya ujian Rena nanti, biaya kuliah, belum lagi kalau Rena kuliahnya jauh dan harus ngekos, berarti pengeluarannya jadi lebih banyak. Kalau aku nggak buka toko, mau dapat uang dari mana? Aku nggak mau masa depan anak-anakku jadi suram karena ego kamu!"
"Mas akan cari cara. Mas yang akan mengurus biaya pendidikan anak-anak sampai selesai. Kamu fokus aja urus mereka, jangan terlalu sering buka toko sampai larut kayak gini. Aku nggak mau mereka tahu masalah kita."
Hening sepersekian detik.
"Kamu juga nggak mau mereka tahu, 'kan?" Zaka lanjut bertanya. "Malah kamu yang duluan minta sembunyikan pernikahan siriku dari mereka?"
Pernikahan siri?
Jantung Reno seakan berhenti berdetak sekian detik mendengar dua kata itu. Tenggorokannya pun terasa tercekat.
Pernikahan siri, berarti ... Papa punya keluarga lain? Papa mengkhianati Mama? Mengkhianati Rena? Mengkhianatinya?
Tangan Reno gemetar. Punggungnya merapat ke dinding, menopangkan tubuhnya yang nyaris tak lagi sanggup menghalau tamparan kenyataan yang mendadak menyerang.
Sementara itu, di dalam kamar, suara kedua orang tuanya masih menyeruak, kian memporak-porandakan kegelisahan pikiran si bungsu.
"Biayain pakai apa, Mas?! Sekarang anak kamu sudah tiga sama Lavi! Dan-sebentar lagi anak kamu bertambah satu lagi setelah bayi dalam kandungan Ranti lahir. Gimana kamu mau biayain Rena sama Reno sampai selesai?!"
"Percaya sama aku, Lin. Aku janji-"
"Percaya kamu bilang? Kamu nyuruh aku percaya ke orang yang udah rusak janji pernikahan kita? Orang yang udah selingkuhi aku sampai punya anak dari wanita lain? Gimana aku bisa percaya, Mas?! Belum apa-apa kamu udah kasih setengah nafkah kamu ke mereka padahal jelas-jelas kebutuhanku yang lebih banyak! Ini masih awal, gimana seterusnya? Lama-lama aku sama anak-anakku kelaparan karena nggak kamu nafkahin!"
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Ficção AdolescenteKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
