39. mengapa, Tuhan?

352 27 3
                                        

Orang bilang, Tuhan selalu memiliki rencana terbaik, yang jauh lebih indah ketimbang rencana paling baik yang mampu manusia susun. Sayangnya, rencana itu kadang berawal dari sesuatu yang membuat para manusia bertanya, "Mengapa, Tuhan?". Sebab bagi mereka, sesuatu itu laksana musibah yang nyaris mustahil mampu mereka jalani.

Semua yang terjadi hari ini terasa sangat berat bagi Rena, pastinya Lina dan Reno juga. Sampai Rena tak ingat sudah berapa kali pertanyaan "mengapa, Tuhan?" itu terlontar. Itu semua terlalu berat untuk Rena tampung, terlalu rumit untuk Rena cerna. Sampai Rena merasa bahwa Tuhan telah keliru dalam berencana. Kendati ia tetap berharap bila suatu hari, kata mengapa itu berubah menjadi ternyata. Seperti, ternyata dengan ini Tuhan ingin Rena tahu bahwa perempuan itu jauh lebih kuat dari yang ia kira, atau bahwa ternyata dengan ini lebih banyak hal indah terjadi. Maka demikian, Rena berharap apabila apa yang terjadi hari ini adalah awal untuk sesuatu yang jauh lebih baik.

Harapan itu terus Rena rapalkan sejak ia mengemasi barang-barangnya, lalu meninggalkan rumah—meninggalkan Zaka yang terus menunduk seolah tengah memikul beban teramat berat di pundak lelaki itu—lantas mengarungi jalanan kota menuju rumah Tante Ela yang tiba-tiba jaraknya terasa tak berujung, diiringi hujan sore hari yang seolah berusaha menemani kenestapaan mereka.

Sampai mereka tiba di rumah satu lantai itu, doa Rena belum jua terputus. Membuatnya tak banyak bicara. Pun ketika Ela menyampaikan kamar mana saja yang bisa mereka tempati, Rena hanya mengangguk, kemudian memasuki kamarnya.

Kamar untuk Rena ada di sebelah kiri rumah, bersebelahan dengan Reno. Sementara kamar Lina dan Ela berada di seberang mereka, dibatasi ruang tamu. Rumah Ela memang cenderung luas untuk seseorang yang tinggal sendiri.

Saat ini, Rena duduk di tepian ranjang dengan punggung sedikit membungkuk. Kedua tangannya bertumpu di samping paha, sementara tatapannya lurus ke lantai, seolah ada hal menarik di sana yang tak mampu dilihat orang lain.

Hingga Reno masuk sambil membawa tas Rena pun, ia tetap tak bergerak. Pemandangan itu kembali membuat Reno terganggu. Sampai alih-alih segera keluar dari kamar Rena guna mengangkut barang-barangnya yang masih di mobil ke kamarnya, ia memilih berdiam diri di sebelang barang-barang Rena.

Menit demi menit berlalu, setelah menghela napas yang terasa sesak di dada, Reno pun berucap, "Kak, dingin," dengan suaranya yang mulai bergetar sambil meraih selimut dari ujung ranjang lalu menyampirkannya ke bahu Rena. Nyatanya memang betul, hujan lebat yang baru saja turun membuat suhu kian menusuk. Anehnya Rena yang biasanya paling peka terhadap suhu dingin kemudian akan langsung mengeluh kedinginan malah terlihat acuh tak acuh.

"Iya."

Hanya itu jawaban yang ia dapat. Mengundang kesunyian kembali merayap.

Lelaki itu berpindah posisi ke hadapan Rena. Tangannya sempat masuk ke saku hoodie yang menutupi seragam, lalu keluar lagi. Banyak yang ingin ia sampaikan, tapi tak tahu harus mulai dari mana serta bagaimana caranya agar suaranya tak kedengaran sendu.

"Kak...."

Mati-matian dia menahan agar tak meluapkan kekacauan hatinya ke Rena. Biar bagaimana, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pundak bagi Rena dan Mama. Maka ia tak boleh menangis. Apalagi, tepat di hadapan sang kakak. Sayangnya, saat hanya mendapat dehaman sebagai respons, pertahanan Reno akhirnya runtuh. Dia bersimpuh tepat di hadapan Rena, menangis di sana, menumpukan dahi pada paha si puan.

"Tolong jangan kayak gini ... gue nggak suka lihat lo kayak gini, Kak." Kata-kata Reno tersendat. "Lebih baik gue lihat lo nangis sejadi-jadinya, nggak peduli baju gue basah karena lo nangis sambil meluk gue, gue nggak akan keberatan. Atau—atau kalau lo mau marah, lo bisa marah sepuas lo, nggak apa-apa gue jadi pelampiasan. Tapi tolong, tolong jangan kayak gini, gue nggak bisa," lanjutnya terbata.

FOOLAFFAIR Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang