38. puncak kegilaan

762 40 16
                                        

"Gue udah baikan sama Yaksa!"

Rena yang lagi berdiri di samping meja terdiam sebentar. Alisnya mengernyit tipis sambil menurunkan semangkuk bakso dan segelas Marimas anggur dari atas nampan. Cairan ungu di gelas cantel itu masih bergoyang pelan sewaktu dia menggeser nampannya ke pinggir meja agar pemiliknya dapat mengambil dengan mudah.

"Jadinya baikan?" tanyanya kemudian saat sudah duduk di depan Alurra.

"Iya. Yaksa juga ngaku kalau dia sempet ... ya, agak terlena ke Nala."

Rena mendengkus kecil. Niatnya mau mencibir, tapi Alurra yang tahu niat jahat itu segera menyela, "Zion juga bilang kalau Yaksa udah nggak pernah deketin Nala lagi."

"Bagus deh," sahutnya sebelum meniupi kuah bakso di sendok. "Berarti dia emang serius sama lo."

Agaknya Rena telah salah berucap. Soalnya sehabis dia melontarkan kalimat itu, Alurra seketika tersenyum pongah pun mengangkat dagu tinggi-tinggi.

"Iya, lah. Emang mantan lo!"

Cih. Gadis itu tak tahan untuk berdecih, yang membuat Alurra malah terkikik, lalu menggerakkan kepala ke kanan-kiri sembari menyuap bakso yang sudah ia belah dua.

"Ngomong-ngomong." Wajah Alurra berubah serius. Bahkan ia menyempatkan diri menghela napas panjang sebelum melanjutkan bicara. "Dari tadi gue udah nahan banget biar nggak ngomong ini tapi gue nggak tahan."

"Ngomong apa?" tuntut Rena saat melihat Alurra yang tiba-tiba serius begitu.

"Rambut lo. Lo aneh banget kalau bondol kayak gini, asli."

"... Jelek, ya?"

"Bukan jelek!" Alurra sontak mengangkat kedua tangan defensif. Was-was takut Rena tersinggung atau malah jadi tidak percaya diri. "Sumpah. Cuma ... apa, sih? Kek aneh aja gitu, loh. Soalnya seumur-umur gue kenal lo, baru kali ini rambut lo sependek ini."

Hampir saja Rena menangisi keputusannya yang memang waktu itu tidak dia pikir panjang dulu. Soalnya dia sudah terlanjur kemakan rayuan Fio, mana Rena juga dihantui ketakutan kalau rambutnya malah jadi rontok banyak kalau dipaksa disisir dalam kondisi sekacau itu.

"Beneran nggak jelek?" tanyanya masih agak kepikiran. Rena itu kepenginnya glow up bila sudah jadi mantan, bukan malah glow down dan bikin mantan ilfeel. Biar Rena aja yang ilfeel karena keplengeran mereka, jangan karena Rena yang tiba-tiba berubah jadi Dora the Explorer.

"Bener! Cantik, kok. Terus look lo jadi lebih fresh gitu. Itu makhluk yang di pojokan aja sampe mirip monyet ditulup ngelihatin lo nggak kedip-kedip."

Rena tahu siapa orang yang dimaksud Alurra. Mantan terakhir Rena-Bendjamin Kalandra, yang hari ini entah bagaimana duduk seorang diri tanpa ada Lavi yang menemani. Namun lantaran Rena kepalang gengsi buat menengok sekadar membuktikan ucapan Alurra, dia bersikap sok cuek. Padahal leher rasanya sudah gatal dan hampir memutar sendiri.

"By the way, Lavi nggak ada ngomong ke lo kenapa hari ini nggak berangkat?" Bukannya Alurra sudah kembali peduli ke Lavi, tidak sama sekali. Dia cuma heran karena biasanya Lavi akan sangat menjaga citranya di sekolah, jadi misalnya absen, pasti bakal ada alasan jelas biar tak dianggap bolos. Tapi hari ini semua guru tak ada yang tahu ke mana perginya murid teladan Nawasena itu, ketua kelas mereka juga sama tidak tahunya. Makanya Alurra yang tadinya mau masa bodoh, lama-lama jadi kepikiran.

Sayangnya, tanggapan Rena pun tidak jauh berbeda dengan guru serta si ketua kelas. Rena menggeleng. Diimbuhi dengan pernyataan, "Nggak. Gue WA juga nggak dibales sampe sekarang," sembari mengecek ruang obrolan dengan Lavi yang pesan tetakhirnya masih berstatus terkirim.

FOOLAFFAIR Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang