10. lovesick

244 22 5
                                        

Rupanya Kala benar-benar membuktikan ucapannya. Beberapa hari setelah itu, rumor tentang Lavi dan Kala tak lagi ada, yang ada hanya berita mengenai Rena dan Kala.

Yah, meskipun pada dasarnya hanya segelintir orang yang peduli pada kerumitan hubungan ketiganya. Itu pun cuma orang-orang yang katanya merupakan penggemar dari Bendjamin Kalandra yang suara emasnya berhasil menyihir para penonton ketika pentas seni di hari terakhir MPLS dulu, sebagai perwakilan regunya. Juga siswa-siswi kelas sepuluh yang mengagumi ketegasan Lavina Elmeera si sekretaris OSIS. Sisanya ya masa bodoh. Tak mau mengurusi hidup orang lain yang tak ada sangkut-pautnya dengan hidup mereka. Apalagi Rena, kan, bukan selebritas yang kalau ada apa-apa langsung viral.

Pada awalnya pembuktian itu sempat membuat Rena goyah. Rena sempat merasa kalau ternyata perasaan Kala padanya mungkin saja masih sama seperti dulu. Sampai Rena memilih menahan kuping panas setiap hari akibat sindiran Reno yang kesal lantaran hubungan Rena dan Kala yang bukannya berakhir, malah jadi tersebar di mana-mana.

Rena merasa jika dia telah mendapatkan kembali rasa percayanya pada Kala yang sempat lenyap.

Namun seolah ditampar kenyataan, hari ini Rena kembali dibuat hilang harapan. Kala kembali menyakitinya. Kala masih mendekati Lavi, dan masih memperhatikan Lavi melebihi lelaki itu memperhatikan Rena.

Tadi Lavi pingsan ketika upacara hampir selesai dan berujung dibawa ke UKS oleh anak PMR yang salah satunya adalah Rajev. Namun Rajev hanya dapat menemani Lavi beberapa saat karena gurunya keburu masuk.

Ketika Rajev telah pergi, giliran Kala yang menunggui Lavi. Bahkan lelaki itu sampai membolos pelajaran demi bisa menemani Lavi hingga gadis itu tersadar.

"Kenapa belum makan?" Suara lembut Kala kembali terdengar dari bangsal di sebelah Rena yang dibatasi tirai.

Lavi sudah sadar dari beberapa menit yang lalu. Saat ini Kala sedang menanyakan alasan dia bisa sampai pingsan.

"Gue kesiangan. Nggak sempet sarapan." Suara Lavi terdengar lemah.

Di UKS ini hanya tersisa mereka bertiga. Jadi ruangan terasa sepi. Maka dari itu Rena dapat mendengar jelas percakapan dua manusia di sebelahnya.

"Kenapa nggak bilang ke gue, La? Kalo lo ngomong belum sarapan, gue pasti bakal bawain lo makanan."

"Gue nggak mau ngerepotin lo."

"Nggak ada yang namanya repot kalo itu buat lo. Sekarang lo makan, ya? Biar gue suapin."

Rena yang terus-menerus mendengar percakapan Kala dan Lavi hanya bisa tersenyum getir, sembari menahan air matanya yang sudah menggenang supaya tak luruh.

Kala begitu membingungkan. Kadang perilaku laki-laki itu seperti menunjukkan jika dia enggan membuat Rena kecewa, dan berakhir meninggalkannya. Namun di lain sisi, segala perhatian yang Kala beri pada Lavi membuat Rena merasa kalau sebetulnya yang Kala inginkan adalah Lavi. Bukan dirinya.

Apa memang dia yang terlalu berharap?

Sebetulnya Kala hanya kasihan padanya, makanya dia enggan meninggalkan Rena.

Apakah Kala akan senang jika Rena memutuskan hubungan mereka? Tapi melihat bagaimana Kala sampai repot-repot klarifikasi pada orang-orang jika berita antara dia dan Lavi tidaklah benar membuat Rena lagi-lagi ragu tentang perasaan Kala yang sebenarnya.

Namun bukankah akan terlalu bodoh bila Rena memilih bertahan ketika dia saja tahu kalau dia hanya menjadi pilihan ke dua? Kalau begitu, jika dia enggan memutuskan Kala maka dia harus membuat Kala memutuskannya.

"Ren, lo kenapa nangis?"

Rena tersentak ketika telinganya tiba-tiba merasakan hangatnya deru napas seseorang.

FOOLAFFAIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang