"Ya Allah, Mas Haga!"
Baru pintu dibuka, Mbok Minah dan Rena sudah disambut dengan Haga yang kondisinya mengerikan. Lelaki itu tergeletak lemas di lantai, kepalanya bersandar pada ranjang dengan mata terpejam. Wajahnya penuh luka pukulan, pun dengan kausnya yang dipenuhi bercak darah.
Berbeda dengan Mbok Minah yang langsung cekatan menghampiri anak majikannya, Rena masih termangu di ambang pintu. Tangannya memegang kue yang Mbok Minah titipkan sebelum menghampiri Haga.
Dia berjalan pelan menghampiri. Matanya diselimuti kaca menyaksikan Mbok Minah tersedu-sedu sembari memeluk Haga.
"Mas ...," Perkataan Mbok Minah terjeda. Lidahnya kelu mendapati sosok yang sudah ia anggap anak sendiri dalam kondisi mengenaskan begini. Meski sudah sering melihat Haga diperlakukan tak layak oleh ayahnya, Mbok Minah tak bisa terbiasa. Dia sudah merawat Haga sejak anak itu dibawa ke rumah usai dilahirkan. Hatinya selalu hancur melihat Haga tidak baik-baik saja. "Mas Haga ikut Mbok ke kampung aja, ya? Walaupun rumah Mbok nggak sebesar rumah Mas Haga, Mbok akan bikin Mas Haga nyaman, aman, Mbok nggak sanggup lihat Mas Haga dipukul Bapak terus, Mas."
Masih dalam pelukan Mbok Minah, Haga menggeleng lemah. Mbok Minah baik, sangat baik. Wanita itu sering menawarkan Haga untuk tinggal di kediaman sederhananya di kampung. Haga sebetulnya tak masalah jika dia harus hidup sederhana di sana, hanya saja dia tak ingin merepotkan orang sebaik Mbok Minah. Belum lagi pasti akan ada banyak pro kontra di antara saudara atau kerabat beliau. Haga tak ingin membuat terlalu banyak masalah.
"Haga kuat, Mbok ...." Dia terkekeh pelan, mengabaikan sudut bibirnya yang terasa ditusuk-tusuk jarum. "Cukup Mbok selalu sama Haga, Haga akan selalu baik-baik aja."
"Nggak, Mas Haga nggak baik-baik aja. Ikut Mbok, ya? Biar Mbok yang akan bicara sama Bapak."
"Nggak, Mbok. Haga senang di sini ... sama Papa."
Mbok Minah tak ada pilihan selain pasrah. Namun, ia akan selalu menunggu Haga menerima bujukannya. Tangannya akan selalu terbuka jika Haga butuh dekapan. Pintu rumah sederhananya akan selalu terbuka lebar untuk menyambut Haga.
Tak lama, pelukan itu pun terurai. Mbok Minah mengelus surai kecokelatan Haga dengan hati-hati, tak mau membuat anak itu semakin kesakitan karena sentuhannya.
"Mbok bawa kue untuk Mas Haga," ujar Mbok Minah sembari meraih kue dari hadapan Rena. Hal itu membuat Haga menyadari eksistensi Rena. Netra sayu Haga bersitatap dengan sorot mendung Rena, keduanya terhanyut selama beberapa sekon hingga Bu Minah kembali berucap, "Selamat ulang tahun, Mas. Mbok nggak bisa bikin pesta yang mewah, tapi Mas Haga harus tau kalau Mbok benar-benar sayang Mas Haga. Semoga di hari spesial ini, Mas Haga bisa menemukan kebahagiaan Mas, ya? Semoga hidup Mas bisa berjalan jauuhh lebih baik dari sebelumnya. Tetap kuat ya, Mas? Mbok akan selalu ada di sini, untuk Mas Haga."
Sebulir air penuh haru merebah dari netra sayu Haga. Dua sudut bibir lelaki itu sedikit terangkat, dalam hati mengamini segala harapan yang terlontar.
"Ayo, Mas. Tiup lilinnya. Tapi sebelum itu, jangan lupa langitkan seluruh harapan Mas untuk tahun ini."
Haga mengangguk. Matanya terpejam. Menggumamkan doa dalam sanubari. Semoga Mbok Minah, Kala, dan Bunda selalu sehat, beruntung, dan bahagia. Hanya itu harapan Haga. Dia tak minta hal baik untuk dirinya. Sebab ketika orang-orang yang dia sebut selalu sejahtera, maka tanpa meminta pun Haga akan selalu terjaga.
Suara kepakan telapak tangan terdengar saling menyahut dari Mbok Minah dan Rena tatkala Haga memadamkan api yang berkobar. Bibir Rena tersungging ayu. Terharu dengan keromantisan Haga dan Mbok Minah.
Tangan Haga bergerak memotong kue menggunakan pisau khusus yang tersedia. Potongan itu ia suguhkan pada Mbok Minah yang sudah mengabdi padanya melebihi wanita yang telah melahirkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Genç KurguKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
