36. perempuan-perempuan gila

331 10 3
                                        

Walaupun sudah sering menjumpai fase life after breakup, Rena merasa kalau putusnya dia dengan Kala merupakan yang paling berat di antara semuanya. Seluruh memori soal Kala, entah baik atau buruk, terus menguar dari relung pikirnya. Terutama kenangan-kenangan baik itu, yang sampai membuat tangan Rena serasa gatal untuk menekan ikon telepon di dekat kontak Kala.

Kini dengan posisi duduk di ujung kasur sembari memeluk lutut, Rena masih betah menangisi Kala bertemankan playlist galau dari aplikasi pemutar musik berharap dengan itu ia bisa melampiaskan segala galau, gundah, nan merana yang setia menyergap sejak beberapa hari terakhir.

Tepat di samping Rena duduk, ada tumpukan polaroid bukti keakraban ia dan sang mantan sebelum hubungan menyenangkan itu diterpa badai bernama Lavi. Mata Rena melirik sekilas pada polaroid paling atas, foto Kala yang diambil ketika Rena berkunjung ke rumah si lelaki, mengenalkannya pada Bunda serta kedua adiknya.

Membayangkan raut bersahabat Bunda, Rena jadi teringat pada lontaran si perempuan kala itu. Yang jujur saja, turut andil dalam mempengaruhi Rena agar tak gegabah memutuskan Kala. Kendati pada akhirnya tetap jadi mantan.

"Bunda nggak sepenuhnya paham. Yang Bunda tahu, di hati Kala cuma ada Rena. Kala nggak pernah ada niatan berkhianat." Itulah kata-kata yang Rena ingat persis hingga kini, yang tak jarang menghantui kepalanya, dan membuatnya bimbang.

Sialnya sampai sekarang pun ingatan itu mampu membuat Rena semakin gundah. Pasalnya semisal betul di hati Kala hanya ada Rena, lantas Lavi itu apa? Mengapa Kala nampak risau buat sekadar menjabarkan hubungannya dengan Lavi? Jika memang bukan pengkhianatan, ya seharusnya Kala tinggal bilang saja, 'kan? Tak perlu membuat Rena kebingungan dan malah setuju mengakhiri kisah keduanya.

"Berengsek!" umpatnya. Meski tak lama, "Aaa ... kangen Kalaa!" Ia merengek sembari menghentak-hentakkan kaki ke lantai.

"Kak Rena masih nangisin mantan?!"

Fio muncul di pintu dengan telapak tangan menutup mulut. Kelihatan sangat syok menyaksikan kondisi mengenaskan Rena. Playlist galau yang disetel dengan volume tertinggi, foto polaroid yang berserakan di sekeliling pemilik kamar, dan yang paling mencolok adalah wajah merah Rena berhiaskan rambut yang errr ... Fio sendiri kehabisan kata untuk mendeskripsikannya. Rambut singa saja masih lebih rapi ketimbang surai Rena. Terlebih dengan sisir biru muda bertengger di tengah-tengahnya.

Cewek itu memang cengo, tapi Rena yang merasa baru saja tertangkap basah juga sudah menelan ludah berkali-kali sejak mendapati eksistensi orang tak diundang di kamarnya. Bahkan, Reno saja sudah ia wanti-wanti untuk tidak menyambangi kamarnya kecuali Rena sendiri yang meminta Reno datang.

Lalu Fio ... bagaimana ia bisa sampai ke sini?Memandangnya dengan ekspresi syok-bola mata membulat, kelopak nyaris tak bergerak, mulut terbuka lebar, dan kernyitan sarat hinaan itu ... berani-beraninya bocah itu terang-terangan menghina penampilan Rena

"Iuhh! Kak Rena ya ampuun! Ini apaa?!!"

Iris Rena mengikuti pergerakan Fio yang lagi mencomot gumpalan tisu lengket dari telapak kakinya. Rena tidak ingat persis tisu yang menggeletak di dekat pintu itu habis ia gunakan untuk apa. Tapi yang jelas kalau bukan mengelap mata, ya berarti hidung. Karena lengket, sepertinya nomor dua yang betul.

"Hiihh!" gidik Fio sekali lagi, berjalan cepat sambil berjinjit menaiki kasur. Takut tisu-tisu yang banyak terkapar di lantai itu menempeli telapak kakinya lagi, menampik kenyataan kalau Rena sebetulnya menolak kehadirannya di ruangan yang sama.

"Sumpah deh, Kak. Aku nggak nyangka banget Kak Rena sampai segininya cuma karena Kala. Kala loh, Kak! Ayo buka matanya, lihat baik-baik. Cowok kayak gini yang lagi Kak Rena tangisin!" Fio berseru greget usai memungut satu polaroid dan mengangkatnya tepat di depan wajah Rena.

FOOLAFFAIR Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang