32. persetan prinsip

257 12 0
                                        

"Udah lah. Putus aja."

Rena yang baru saja menutup pintu kamar mandi disambut kalimat yang bikin sensasi segar sehabis mandi langsung minggat. Ia jadi lesu lagi. Bahkan buat mengistirahatkan raga ke ranjang rasanya hampir tidak sanggup sampai nyaris terjerembab, tersandung keset depan kamar mandi.

Gadis itu duduk di tepian ranjang. Menundukkan kepala. Tangannya sibuk memilin ujung baju tidur warna biru bergambar Cinnamoroll yang baru dikenakannya.

Pikirannya melayang sewaktu dia menemani Lavi menunggu jemputan. Waktu itu Fio sudah dijemput Rajev, sedangkan Reno nangkring di motor setelah mengantar Lina pulang. Rupanya jemputan yang Lavi maksud adalah Kala—yang datang tanpa basa-basi, cuma seulas senyum singkat ketika Rena menanyakan eksistensinya.

Situasinya jadi seperti Rena lagi menyapa pacar Lavi saking pendiamnya Kala waktu itu. Yang bikin lebih nyesek lagi sampai rasanya paru-parunya menyusut, Kala memakaikan helm ke Lavi. Habis itu langsung pergi begitu saja seperti orang yang tidak pernah sayang-sayangan sebelumnya.

Gara-gara itu, Rena jadi murung sepanjang jalan. Pikirannya kabur-kaburan. Bahkan dia sampai salah ambil sampo buat cuci muka. Dan hampir keluar kamar mandi telanjang bulat kalau Lina tidak teriak-teriak menyuruh Rena makan malam.

"Tapi...."

"Apa? 'Gue masih sayang sayang sama Kala, nggak bisa ninggalin Kala, nggak bisa hidup tanpa Kala'?" sangsi Reno sebelum bergidik sendiri. Kalau sampai Rena mengangguk, ia jamin handuk yang masih terselampir di lehernya akan melayang pada wajah Rena.

Dan ... Rena betulan mengangguk.

Maka Reno dengan rasa jijik menggunung, menerjang wajah Rena mentah-mentah.

"Renoo!"

Hanya wajah datar yang Reno tampilkan. Meski setelahnya menghela napas. Memungut kembali handuk yang sempat Rena lempar ke lantai, kemudian menapakkan bokong di sebelah Rena.

"Itu cuma pemikiran menjijikan lo. Aslinya mau ada Kala atau nggak, ya lo tetep makan, tetep bisa ngomong, bisa jalan, mata sama kuping lo juga tetep berfungsi. Masa beginian aja mesti gue sadarin? Tolol."

"Ren!"

"Dia udah kasih lo sertifikat rumah?" Lelaki itu berdecak. "Lo belum dibobol sama dia—bangsat!"

"Congornya!" kesal Rena mengabaikan Reno yang mendumel sambil mengelus bekas cubitannya.

"Terus kenapa lo berat banget gue suruh putus? Lagi pula cowok lo masih bocah baru puber. Lo nggak bisa ngarep apa-apa selain omongan dia yang tingginya ngalahin Burj Khalifa."

"Lo sama Kala seumuran, btw."

"Gue tahu. Makanya lo harusnya malu masalah cinta monyet doang mesti disadarin sama bocah baru puber kayak gue."

Seharusnya. Sayang, urat malu Rena sudah terlanjur putus sejak dia mengenal Kala dan berakhir menyukai segala hal tentang Kala: Kala yang suara lembutnya memabukkan, Kala yang akan memetikkan gitar ketika Rena merana, bahkan petikan gitar yang lelaki itu mainkan untuk pertama kalinya masih terekam jelas dalam kepala Rena.

"Kamu suka Keshi, jadi ... aku pilih lagu ini," kata Kala waktu itu, selesai mengalunkan lagu Soft Spot oleh Keshi, yang efeknya nyaris membuat pipi Rena kram kebanyakan senyum dan perutnya serasa digelitiki ribuan kupu-kupu.

Lalu, Rena juga suka Kala yang selalu mencoba meluangkan banyak waktu untuknya, Kala yang tak menyentuh uang sakunya demi membelikan Rena dessert di Sweetie Lilith atau Asteria Café. Kala yang berjanji tak akan berkelana ke hati perempuan lain lantas membuat Rena bersedih.

FOOLAFFAIR Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang