Rena turun dari jok belakang motor Reno yang berhenti di area parkir sekolah sembari tersenyum lebar. Memikirkam betapa ia beruntung karena Reno belum punya pacar, jadi dia bisa nebeng cowok itu sesuka hatinya. Hingga senyum itu sontak meluntur ketika ia hendak melepas helm, tapi pengaitnya susah sekali terpisah.
"Ih, Ren, kok susah, sih?!" paniknnya sambil menarik-narik ujung seragam Reno, isyarat biar Reno membantunya melepas benda yang bikin lehernya terasa hampir patah saking beratnya.
"Tolol!"
Kendati sempat mengumpat, Reno tetap membantu sang kakak terbebas dari jeratan helm tersebut, lalu menggantungkan benda itu di salah satu spion usai berhasil dilepas.
"Thanks!" Telinga Rena seakan tuli sehingga tak mampu mendengar cemoohan Reno. "Udah sana, langsung ke kelas. Awas aja mampir ke kantin dulu!"
Reno hanya bergumam sebelum meninggalkan Rena untuk ke kelas seperti yang gadis itu peringatkan. Pun dengan Rena, ia berniat melangkah meninggalkan parkiran ketika tiga unit motor melintasinya lantas terparkir secara berjejer di sebelah motor Reno.
Secara kebetulan, tiga motor itu ditumpangi oleh Yaksa dengan Alurra di boncengannya, Rajev dengan Fiola, lalu Jaidan seorang diri.
"Selamat pagi, Kak Rena!" sapa Fiola tepat usai Rajev mematikan mesin motor. Baru Rena membuka mulut guna membalas sapaannya, dia sudah lebih dulu minggat usai buru-buru melepas helm. "Reno tungguiin!"
Kepergian Fiola tentu menanggalkan sedikit kedongkolan buat Rajev, meski pada akhirnya lelaki itu memilih pasrah dan mengamankan helm Fiola yang digeletakkan begitu saja.
"Gila tuh anak," celetuk Alurra sambil geleng-geleng. "Kelas yuk, Ren!"
"Ayo!"
Begitu saja, keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong sekolah yang sudah agak ramai oleh warga Nawasena. Ada yang masih menenteng tas sama seperti mereka, ada juga yang sudah lega: sekadar nongkrong di kursi depan kelas, menyirami tanaman, bahkan menyapu. Oleh karena itu, lorong pun terasa ramai akan suara obrolan serta tawa, tak lupa juga pekikan atau bahkan umpatan yang sesekali terdengar.
"Sorry ya, gue lewat," ucap Alurra pada seorang adik kelas yang tengah menyapu lorong.
"Eh nggak apa-apa, Kak. Lewat aja," balas si adik kelas usai menepi, menyilakan dua senior itu melewatinya.
Saat keduanya sedang menaiki tangga ke lantai dua, Alurra tiba-tiba memperlambat langkah. "Oh iya, Ren."
"Apa?"
"Gue mau cerita, tapi lo jangan kompor, ya. Lo tahu Nala, 'kan?" Ia bersuara dengan nada rendah, sambil celingak-celinguk takut ada orang lain di sekitar mereka yang berpotensi mendengar tuturannya.
Rena turut menurunkan laju jalannya. "Nala yang mana?"
"Senandung Anala, yang dulu sekelompok sama kita pas MPLS."
"Oh! Gue inget!" Dia takkan lupa pada siswi yang membuat kelompoknya tidak tenang lantaran selalu dikelilingi senior waktu MPLS dulu demi mendekati cewek itu "Tapi gue terakhir lihat dia kayaknya pas kelas 10, deh. kenapa emangnya? Lo ada masalah sama dia?"
Alurra menarik napas dalam. "Masa kemarin pas kerja kelompok Yaksa nawarin buat nganterin dia balik?! Kalau udah malem sih oke, ya ... tapi ini Maghrib aja belum, Ren. Terus ada yang lain juga kayak Zion yang jelas-jelas jomblo, kenapa dia nggak nyuruh Zion aja? Kenapa musti Yaksa yang ngajuin diri?! Ih!"
Rena menyimak dengan seksama. Ia tahu bagaimana sebalnya berada di posisi Alurra. "Lo tahu dari mana?"
"Zion!"
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Novela JuvenilKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
