Selain pelupa, Rena itu sangat ceroboh. Sialnya dua sifat buruk itu sering sekali berkolaborasi untuk memunculkan masalah baru. Bukan cuma sekali atau dua kali Rena ketiban sial gara-gara kombinasi itu. Hampir setiap hari ada saja yang terjadi.
Hari ini adalah salah satu contohnya. Sehabis istirahat nanti, Rena harus mengumpulkan catatan Bahasa Indonesia, tapi dia lupa memasukkan buku keramat itu ke tas. Parahnya dia baru sadar saat di kelas, ketika bel istirahat tinggal tiga menitan lagi. Itu pun karena Alurra niatnya mau menyontek dua nomor terakhir. Jika Alurra tak menanyakan, dapat dipastikan Rena tak akan sadar kalau buku Bahasa Indonesianya ketinggalan.
Seandainya saja tugasnya tidak sebanyak itu, yang saking banyaknya Rena sampai habis berlembar-lembar cuma buat satu tugas, Rena mau ngebut selama istirahat. Masalahnya waktu istirahat yang cuma 15 menit tidak akan cukup buat menyalin semuanya. Kecuali teman kelas Rena mau kerja bakti buat membantu menuliskan-sekaligus guru Bahasa Indonesia tak mempermasalahkan jika tugas Rena terpisah-pisah, kan tak mungkin satu buku dipakai nulis puluhan orang sekaligus-dia tidak keberatan.
Sayang sekali itu cuma perandaian yang hanya bisa terjadi di angan-angan Rena. Realitanya tidak segampang dan semulus itu.
"Untung adek lo Reno, Ren. Kalau bukan, mampus lo."
Hingga akhirnya adegan kelimpungan itu Rena tumpahkan ke Reno. Rupanya Reno sudah mengamankan buku tersebut. Kini dia ditemani Alurra lagi dalam perjalanan ke kelas Reno yang ada di lantai satu.
Rena menoleh sekilas pada Alurra yang melangkah di sebelahnya. Dia mengangguk setuju meskipun bibirnya maju sesenti.
"Iya, untung. Tapi untungnya cashback 50 persen!"
Rena mengakui kalau dia beruntung. Dia punya adik yang walau gengsinya selangit tapi masih punya nurani. Tapi tetap saja, dia kesal. Kenapa Reno nggak langsung memberikan buku itu padanya saat mau berangkat atau pas mereka sudah sampai di sekolah? Kalau seperti itu Rena tak mungkin ada drama panik segala.
Perempuan di sampingnya tergelak. Tadinya Alurra juga sempat ikutan panik. Soalnya, biasanya kalau Rena membuat kesalahan begini akan ada Lavi yang membela supaya hukumannya diringankan. Tapi sejak kemarin malam, Lavi demam. Dan pagi ini mereka dapat kabar kalau Lavi dibawa ke rumah sakit. Itu juga yang jadi alasan kenapa Rena melimpahkan masalahnya ke Reno, biasanya selama ada Lavi, Lavi yang bakal kelimpungan cari solusi.
"Ya lagian elo mikir apaan, bisa-bisanya buku sampe ketinggalan segala. Otak lo jangan Kala terus makanya."
"Nggak usah bawa-bawa dia, ya, kampret!"
"Oohh ... udah putus ceritanya?"
"Gue nggak bilang kayak gitu!" seru Rena tidak terima. Napasnya bertukar dengan cepat.
"Iya, iya," pasrah Alurra. "Eh-eh, Ren! Itu Ayesha kenapa?" Dia tiba-tiba berhenti, bikin langkah Rena turut terinterupsi lantaran gadis pemilik pipi bulat di sampingnya merentangkan tangan tepat di depannya.
Mata Rena menyipit. Dia melihat Ayesha menangis di pelukan Fiola, sementara Fiola nampak mengamuk pada lima orang laki-laki yang justru asyik meledek.
"WOY! PADA NGAPAIN?"
"Jabang bayi!" Rena kaget bukan main. Tangannya mengusap-usap dada buat menetralkan detak yang tak beraturan.
Dia masih sibuk menerka-nerka sesuatu yang terjadi di depan kelas Reno, tapi Alurra malah tiba-tiba berteriak kencang di samping kupingnya, lalu berlari menghampiri gerombolan tersebut.
Berdecak sekali, Rena pun menyusul Alurra yang sudah menghakimi lima anak lelaki itu.
"Hehe ... kita cuma main-main, Kak." Salah satu dari anak itu meringis, sikutnya menyenggol lengan teman di sebelahnya yang cuma cengar-cengir.
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Teen FictionKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
