33. the real winner

270 10 0
                                        

Fio itu walaupun demen sama seseorang, dia bukan tipe yang akan gencar mengejar orang itu hingga merasa risih. Sama seperti awal-awal dia tahu eksistensi manusia jelmaan Adonis bernama Haga Shankara, dia memang sempat menjadi mupeng saking kesemsemnya. Sampai kadang, Fio tidak ke kantin guna menyambangi kelas sebelah, demi bisa memandang wajah Haga sepanjang istirahat.

Hanya, dia kepikiran, selama dia mencoba basa-basi dengan Haga, Haga sama sekali tidak mau menoleh padanya. Kalaupun menoleh, tatapannya seperti yang tidak minat. Padahal sebenarnya Haga bukan tipikal cowok pelit bicara atau minim ekspresi. Haga ekspresif, sayang hanya untuk sesama lelaki. Kalau dengan perempuan, kentara sekali cowok itu berusaha membangun bendungan tak kasat mata di sekelilingnya. Jadi karena Fio enggan buang waktu sia-sia untuk cowok yang tidak menginginkan kehadirannya, Fio memilih pensiun jadi fan-girl yang kadang merangkap jadi sasaeng.

Sekarang, Fio sudah tidak lagi buru-buru keluar kelas pas bel istirahat berkumandang untuk menemui Haga. Ia membereskan buku dengan santai, sembari bersenandung mendendangkan lagu apa saja yang terlintas di otak. Sampai kesyahduan itu mandek ketika sebuah paper bag mendarat di hadapannya. Membuat kepala yang lagi manggut-manggut terpaksa berhenti jua.

"Reno? Apaan, nih?" Ia buka wadah itu dengan grasak-grusuk.

One in a billion, seorang Zareno Charaka mendatangi perempuan selain Rena, sambil bawa buah tangan lagi.

"Strawberry blondies!" pekik Fio dengan mata bersinar-sinar memandangi kue yang dibawa Reno. "Ini buat gue?!"

Reno mengangguk.

"Dalam rangka apa? Kemarin kan Tante Lina udah kasih cake, kok ini dikasih lagi? Emang nggak rugi?"

Lelaki itu menghela napas mendengar rentetan pertanyaan Fio yang keluar barengan. Padahal menurutnya, akan lebih baik kalau Fio langsung bilang terima kasih supaya urusannya cepat selesai dan ia bisa segera pergi.

"Resep baru."

"Oohh! Tante Lina coba resep baru? Kok mama lo baik banget? Gue pinjem hape lo, dong!"

Reno tak tahu apakah Fio lagi bercanda atau tidak, jadi dia cuma mengernyit, seolah bertanya, "Buat apa?" menanggapi kalimat Fio yang tak layak dilontarkan pada orang asing. Ponsel itu barang pribadi dan privasi, mana mungkin ia memberikan benda itu ke sembarang orang.

"Gue mau ngucapin terima kasih ke Tante Lina!"

Akhirnya tanpa berpikir lagi, Reno menyerahkan ponsel yang sudah lebih dulu ia arahkan ke ruang obrolan dengan Lina. Yang langsung Fio terima dengan senang hati. Perempuan itu menggunakan video note. Tangan kanannya mengangkat kamera tinggi-tinggi, sedangkan tangan kiri mengangkat paper bag khas Cakes Time agar sejajar dengan wajahnya. Saat jempol tangan kanan sudah mendarat di ikon rekam, Fio segera bicara.

"Tantee! Ini cake-nya udah Fio terima. Kata Reno, ini resep baru, yaa? Makasih banyak ya, Tante. Tante Lina baik banget, deh!"

Ujaran Fio ditutup dengan senyum dari telinga ke telinga. "Nih. Makasih, Renoo," katanya selanjutnya seraya mengembalikan benda pipih tersebut ke si empu.

Reno hanya bergumam. Namun, yang bikin Fio kini mengernyit adalah karena Reno tak kunjung beranjak. Padahal ponsel sudah kembali dikantongi. Jadi Fio rasa, urusan Reno dengannya sudah selesai. Kecuali Reno ada perihal lain yang ingin diutarakan.

"Ada apa lagi, Ren?" tanya Fio pada akhirnya.

Sebelum menjawab pertanyaan Fio, Reno lebih dulu berdeham. Seakan kalimat yang akan ia lontarkan telah membuat tenggorokannya kemarau mendadak. "Malam ini ... lo free?"

FOOLAFFAIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang