29. validasi perasaan

195 10 0
                                        

Haga tak masalah bila ia harus menjadi samsak Papa seumur hidup, karena sejatinya, ia dan Papa sama-sama korban keegoisan seorang manusia. Akan Haga anggap segala pelampiasan Papa padanya sebagai pelukan untuk saling menguatkan. Yang terpenting Papa di sini, di sisinya, masih mendengar ketika Haga bersuara, masih menjawab bila Haga bertanya, serta masih menoleh bila Haga memanggil. Haga tak akan menuntut Papa untuk menjadi seorang ayah yang begitu perhatian, penuh cinta, dan penuh bangga atas segala keberhasilan putranya.

Papa masih sudi menaungi Haga dalam rumah, masih sudi menemui Haga, masih sudi menyanggupi segala butuh atau ingin Haga saja sudah begitu cukup untuk Haga. Papa tak membiarkan Haga terlantar, bahkan, segala pendapatan yang pria itu terima sebagian besar diserahkan pada Haga. Papa punya cara sendiri untuk membuat Haga merasakan kasih beliau.

Maka demikian, kepergian Papa membuat Haga merasa pada titik terendah hidupnya. Haga seolah kehilangan penopang yang membantunya berdiri utuh, dan kini, ia terjatuh, tanpa tahu bagaimana caranya kembali berdiri dan melangkah. Ia tertatih, terseok tak tentu arah, penopangnya sudah tiada, kompasnya hilang, ia linglung tak tahu mesti mengarah ke mana.

Malam ini, kendati kediamannya ramai oleh kerabat serta tetangga, kekosongan senantiasa hinggap dalam relungnya. Keramaian itu tak sedikit pun membuat Haga merasa ditemani. Sehingga, ketimbang menjadi menyedihkan dengan perasaan seperti itu, Haga kini melipir ke lantai dua yang sepi. Menerawang pada jendela yang berembun.

"Haga,"

Lelaki itu sedikit memutar kepala pada Bibi yang baru saja menyebutkan namanya.

"Nanti kalau udah 40 harian, kamu tinggal sama Bibi di Surabaya, yuk. Kamu kan masih kecil, masa mau tinggal di sini sendirian." Wanita yang merupakan kakak Arya itu menghela napas. "Mama kamu itu tega, bisa-bisanya sama sekali nggak datang ngelayat. Atau nggak, minimal ya datang buat lihat kamu, kamu kan anaknya. Harusnya tahu sekarang kamu nggak punya siapa-siapa." Dia menggeleng tak habis pikir.

Diam-diam Haga tersenyum tipis. Benar. Wanita itu tega. Saking lamanya tak berjumpa, Haga sampai lupa bagaimana rupa serta suara wanita itu. Mungkin wanita itu lupa bila ia memiliki seorang putra yang padahal wanita itu sendiri yang mengandung, melahirkan, memberi nama, serta membesarkan dengan susah payah.

"Surabaya mah kejauhan, susah nanti kalau Haga mau ziarah atau ketemu temen-temennya. Iya, nggak, sayang?" Marlina yang merupakan adik Arya datang lebih dulu sebelum Haga menanggapi ujaran Diah. "Ikut Tante aja ke Sukabumi biar lebih deket sama Jakarta. Di sana kan ada Cana juga, jadi kamu ada temennya."

"Apa sih, Mar? Di Surabaya kan ada anak-anakku, semua keluarga kita juga pada di sana, jadinya Haga lebih deket sama keluarga kalau ikut Mba."

"Tapi kejauhan, Mba. Kalau sewaktu-waktu Haga mau ziarah ke makam Mas Arya, harus lewatin perjalanan sekitar 10 jam. 10 jam lho, Mba."

"Kan ziarah nggak setiap hari, Mar."

"Tetep aja, Mba. Mending Haga sama aku," eyel Marlina sebelum menatap keponakannya. "Haga mau ikut Tante, 'kan? Om kamu juga udah setuju, kok. Nanti Om yang urus kepindahan kamu."

"Nggak, jangan mau, Ga! Mendingan di kampung halaman Papa kamu, kumpul sama keluarga besar biar nggak kesepian. Atau kalau kamu kepengin tetap tinggal di sini ya, biar Bibi sama sepupu kamu yang pindah buat nemenin kamu."

"Mba—"

"Tante, Bibi." Haga mengembuskan napas lelah. Saat Marlina berhenti berucap lantas kedua wanita itu menoleh padanya, Haga melanjutkan, "Bahas itunya besok lagi, ya? Haga lagi kepengin sendiri."

Meski tampak keberatan, Marlina dan Diah pun mengangguk setuju. Marlina lebih dulu pamit untuk mendampingi tetangga dan kerabat yang masih tinggal setelah yasinan selesai.

FOOLAFFAIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang