34. besar harap

200 9 0
                                        

Selain Rajev, biasanya Fio akan pulang bersama Ayesha yang setia dijemput ayahnya. Paling kalau Ayesha ada rencana jalan-jalan dengan ayahnya, baru Fio yang merasa sangat tahu diri itu mencari cara lain buat pulang. Kendati begitu, baik Ayesha maupun Fio nyaris tak pernah luput keluar sekolah bersama—setidaknya selama mereka tak punya jadwal pulang dengan jarak waktu melebihi satu jam.

Karena hari ini keduanya tak punya acara apa pun, entah itu kerja kelompok atau piket, Fio sudah singgah di kelas Ayesha lengkap dengan tas yang sudah bergelantungan di punggung. Sementara Ayesha masih kerempongan membereskan peralatannya yang seabrek. Sampai teman sekelas cewek itu sudah pada bubaran, Ayesha masih kerepotan membuang ampas dari dalam rautan warna merah muda bentuk stroberinya.

"Lo setiap hari buka bazar apa gimana sih, Ay? Rame bener," celetuk Fio yang kini berjongkok membetulkan tali sepatu Ayesha.

"Papi yang nyiapin, tahu!"

Fio langsung bungkam meski Ayesha sama sekali tak menyuruhnya diam. Tak lagi punya selera untuk berceloteh terkait banyaknya printilan yang tak pernah luput dari tas Ayesha. Takut kualat. Ayah Ayesha memang begitu perhatian. Fio yang orang tuanya lengkap saja sering dibuat iri bukan main.

"Udah, yuk!"

Dua kata itu pun terlontar, wajah sumringah Fio sontak terbit, senang sekali penantiannya sejak bermenit lalu akhirnya usai. Dan jadi semakin cerah sewaktu Ayesha beranjak, melangkah lebih dulu sebelum Fio merangkulnya.

"Oh iya, lo harus cobain ini, Ay!" Fio dengan susah payah mengeluarkan kotak dari dalam paper bag sembari berjalan keluar kelas. Paper bag yang sudah kosong itu ia cantelkan ke lengan, agar bisa lebih mudah membuka kotak berisi kue pemberian Lina yang tinggal setengah.

"Strawberry blondies!" pekik Ayesha saat itu juga. Sambil mengambil sepotong kue, lantas melahapnya cepat tanpa berbasa-basi pada yang punya. "Fio dapat dari mana?" tanyanya di tengah kunyahan. Seakan belum puas hanya dengan menjejalkan sepotong, tangan kanan Ayesha kembali memasukkan sepotong kue lagi.

Secinta apa pun Ayesha pada Reno, perasaan itu masih belum mampu mengalahkan besarnya cinta Ayesha ke stroberi. Dilihat dari penampilan luarnya—jepit rambut, tas, sepatu, hingga jam tangan semuanya bercorak stroberi. Isi rumah Ayesha juga tak jauh-jauh dari merah muda, lalu di setiap tempat penyimpanan makanan pasti ada saja sesuatu berbau buah yang identik dengan warna merah atau putih itu.

Makanya sejak Reno memberikan kue itu, Fio jadi sangat bersemangat karena teringat Ayesha. Namun saat istirahat, Ayesha sibuk membuntuti Reno, jadinya Fio mesti menunggu pulang biar bisa berbagi dengan sahabatnya.

"Dari mamanya Reno! Enak banget, 'kan?"

Senyum di wajah Ayesha seketika luntur. Kue yang belum ditelan seluruhnya pun nyaris tersembur keluar akibat tersedak. Bahkan bantuan uluran minuman dari Fio tak mampu memusnahkan ekspresi curiga yang begitu kentara itu.

"Mamanya Reno?" beonya sambil mengelap pinggiran bibir.

"Iya! Kemarin gue bantuin di tokonya mama Reno, terus gue dikasih ini sebagai tanda terima kasih—eits! Jangan salah paham. Gue bantuin mama Reno karena ikut Kak Rena."

Fio cepat-cepat klarifikasi sebelum Ayesha melayangkan pertanyaan macam-macam. Soalnya dari muka piasnya, Ayesha kelihatan sekali lagi bersiap membombardir Fio dengan segala pertanyaan maupun tuduhan liar.

"Kenapa Fio deket sama Kak Rena? Fio—"

Jari telunjuk Fio dengan gesit menempel di bibir Ayesha. "Kak Rena temen Mas Rajev! Karena gue sama Kak Rena juga sefrekuensi, jadinya gue bisa akrab sama dia. Ih, gue kan sering ajak lo kenalan sama Kak Rena, orangnya seru tahuu! Lo sih sibuk sama Reno."

FOOLAFFAIR Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang