Biasanya setiap kali ayah Haga ke rumah, kondisi rumah akan selalu berakhir tak karuan. Sama dengan tubuh Haga yang jadi mengenaskan.
Namun, kali ini pria itu tak menanggalkan satu pun luka pada Haga. Rumah juga ditinggalkan dalam kondisi rapi. Bukan cuma Kala yang notabenenya adalah orang asing itu yang turut merasakan keanehan tersebut, Haga sebagai putranya saja keheranan. Ditambah lagi dengan keterangan Haga yang katanya ayahnya cuma ke rumah buat memberi obat-obatan pada laki-laki itu. Tingkah ayahnya benar-benar aneh, walau tak dapat dipungkiri, sesungguhnya Haga senang dengan perlakuan pria itu. Rasanya, dia seperti mendapatkan kembali peran ayah setelah sekian lama hilang.
Lantas sekarang bersama Kala, Haga singgah di ruang tamu rumahnya karena Kala bilang mau jujur soal sesuatu. Jadi begitu Kala datang, Haga langsung menyeret Kala ke salah satu sofa di sana. Dia terlalu tidak sabaran buat menunggu Kala sampai ke kamar, apalagi katanya ini menyangkut Rena.
"Jadi?" tuntut Haga yang sudah menyerahkan pikiran buat menyerap semua perkataan Kala.
Kala berdecak sebal, agak tidak terima dengan ketidaksabaran Haga. Sahabatnya itu bahkan sampai ogah membiarkan ia setidaknya mengambil minuman ke dapur buat mengobati dahaga yang menyerang.
"Sebenarnya ... gue sama Lavi itu nggak pernah pacaran." Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Kala. Dia benar-benar serius soal membongkar perjanjian antara dirinya dengan Lavi kepada orang selain Bunda-yang sudah tahu lebih dulu.
Haga mengernyit. "Maksud lo?"
Bukannya tidak paham, sebaliknya, Haga lagi menuntut penjelasan lebih lanjut.
Kala menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa. "Gue pernah nggak sengaja ngegep bokap Rena pas lagi jalan sama Lavi dan nyokapnya-"
"Om Zaka selingkuh?!" pekik Haga yang sudah terlanjur terkejut sekaligus penasaran. Rasanya kelamaan kalau harus menunggu Kala selesai bicara.
"Iya," balas Kala dengan berat hati. Sementara Haga sudah melotot sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
Beruntungnya kali ini Haga tidak mendapat cemoohan dari Kala karena reaksi dramatisnya. Pasalnya, Kala merasa kalau reaksi Haga memang wajar. Siapa pun yang mengenal Zaka pasti mengira kalau beliau adalah tipe laki-laki penyayang, setia, dan anti dengan tindakan rendahan seperti selingkuh.
Awalnya Kala juga punya pemikiran serupa karena dia kenal Zaka dari cerita Rena yang menunjukan segala sisi heroik pria itu. Dengan sikap green flag tersebut, siapa yang akan menduga kalau beliau termasuk lelaki berengsek yang tega menduakan pasangannya? Lebih parahnya sekarang selingkuhan Zaka alias mama Lavi lagi mengandung anak pria itu.
"Lo serius? Kelihatannya kek orang bener padahal."
"Ya ngapain gue ngefitnah orang?" Sebuah decakan pun tak urung mengudara. "Terus tololnya gue, bukannya habis ngefotoin mereka terus gue langsung cabut, malah gue deketin mereka bertiga buat nyapa Lavi. Gara-gara itu Lavi ngancem bakal ngasih tahu soal perselingkuhan Om Zaki ke Rena sama keluarganya. Gue ya nggak mau lah, gue tahu Rena sayang banget sama bokapnya, makanya gue milih bikin perjanjian tolol sama tuh cewek biar dia nggak bocor ke Rena, tapi bayarannya gue harus jadi babu tuh orang."
Haga masih terdiam dengan wajah melongonya. Kendati sudah bersiap diri mendengarkan kejujuran Kala, otaknya yang sebelas dua belas dengan udang itu tetap harus berusaha keras buat mencerna penjelasan Kala yang benar-benar jauh lebih rumit dari sekadar pemikiran 'Kala selingkuh sama Lavi'. Sebab ternyata yang sebenarnya selingkuh itu bukan sohibnya, tapi bokap Rena.
"Nggak nyangka 'kan, lo?" tanya Kala yang diangguki Haga. "Gue juga aslinya sebel Rena jadi mikir gue yang selingkuh, padahal gue cuma mau bikin hidup dia tenang."
KAMU SEDANG MEMBACA
FOOLAFFAIR
Roman pour AdolescentsKarena prinsipnya yang enggan menjadi pihak pemutus hubungan, Serena Zephyra harus menjalankan hubungan abu-abu yang tak jelas arahnya ketika perselingkuhan sang kekasih dengan sahabatnya terungkap. Di satu sisi, ia ingin melepaskan diri dari ikata...
