Benar saja, Alexio kembali menemui Jihyo ketika bel telah berbunyi. Mungkin, Alexio sudah tahu jika Jihyo akan menolak dan memilih kabur. Tetapi Alexio sudah berpikir seperti itu terlebih dahulu. Alhasil, mereka kini berada di atas motor dengan kecepatan laju yang sedang.
Jihyo tidak minat berpegangan di pinggang Alexio. Ia terdiam dengan memegang besi bagian belakang. Alexio sendiri tidak banyak bicara. Padahal Jihyo menanti ia bercerita mengenai Jungkook yang tiba-tiba menghilang setelah membawa Zea ke Unit Kesehatan. Apa Zea begitu penting hingga bisa menahan Jungkook seperti itu?
Jika mengingatnya, suasana hati Jihyo lantas memburuk. Jihyo mengenyahkannya. Ini hari pertama ia bekerja--tidak boleh terdapat kesalahan. Masalah dengan Jungkook, akan Jihyo kesampingkan dulu.
Beruntung, Kafe tempatnya bekerja telah berada di depan mata. Ia bergegas turun tanpa berucap pada Alexio. Mengingat, rasa jengkel yang rasa-rasanya menghampiri. Hal itu bertambah ketika Alexio memarkir motornya dan ikut turun.
Belum memasuki kafe, Jihyo melirik dengan sebelah alis terangkat. "Apa yang ingin kau lakukan?"
Alexio terkejut, tetapi langsung tertawa konyol. Ingin rasanya Jihyo menghantam kepala itu dengan ransel. "Aku ingin singgah di Kafe temanku. Kapan lagi ditraktir Ryu nantinya."
Gila sekali. Jawaban yang membuat Jihyo merotasikan bola mata dengan malas. "Jadi lelaki tidak ada modalnya! Benalu!" Jihyo kembali menuntun kedua kakinya untuk masuk terlebih dahulu.
Alexio melihat kekesalan Jihyo. Ia hanya menggelengkan kepala. "Tamat riwayatmu, Jung. Kekasihmu marah sekali!" Lalu ia juga ikut masuk ke dalam hingga menimbulkan bunyi bel.
Alexio melihat Jihyo yang tengah berbincang dengan seorang wanita beriasan menor--membuatnya bergedik ngeri. "Hyena lebih baik daripada dia." Pun ia menggelengkan kepala, kenapa pula dari sekian banyak gadis yang sedang bersamanya, nama Hyena melintas? Ia pasti sudah gila. Lantas, Alexio memilih duduk di kursi bagian dekat pintu.
Jihyo pun hanya bisa menahan rasa kesalnya tatkala melakukan pekerjaan pertama dengan Alexio yang menjadi pengunjung pertama yang harus ia layani. Rasanya, menyebalkan sekali.
“Kau ingin pesan apa!” tanya Jihyo dengan nada ketus dan jutek. Suaranya bahkan agak meninggi, siapa saja akan kabur jika dilayani seperti itu--Alexio bahkan dibuat terperangah.
Alexio mengambil buku menu yang ada seraya menggelengkan kepala. “Sabar, Ji. Bahaya jika bosmu tahu jika pengunjungnya mendapatkan pelayanan buruk seperti ini. Ingat, ini pekerjaan pertamamu--"
“Silakan dipesan, Tuan. Kami memiliki menu yang nikmat dan menyehatkan tentunya.” Jihyo langsung memangkas perkataan Alexio dengan senyum yang dibuat-buat. Tidak ikhlas, Alexio paham soal itu dan menggoda Jihyo adalah hobinya. Sangat menyenangkan, apalagi tidak ada kehadiran Jungkook yang membuatnya takut. Itulah nilai plusnya.
Alexio pun memesan hot cappucino dan tteokbokki. Mengingat, ia cukup lapar untuk hari ini dan ia sendiri hanya ingin memakan itu. Alhasil, Jihyo dengan cekatan menulis pesanan milik Alexio, kemudian melenggang begitu saja. Tanpa mengatakan satu kata pun.
Alexio dibuat tercengang. “Wah, suasana hati Jihyo sangat buruk, Jung,” gumamnya. Ia tidak tahu pasti urusan apa yang Jungkook sedang lakoni dan menyuruhnya untuk mengurus kekasihnya itu. Bukankah aneh sekali? Ya, itulah Jungkook. Jika biasanya, Ryu yang akan dibebani segala keinginan Jungkook, tetapi ialah yang saat ini menjadi sasaran empuk suruhan Jungkook. Sangat menyebalkan.
Jihyo sendiri mengetahui letak kesalahannya, tetapi menurutnya tidak masalah. Terlebih, itu adalah Alexio dan ia tidak takut sama sekali. Apa lagi jika menumpahkan seluruh kekesalannya pada lelaki yang tengah memainkan game pada ponselnya. Hal itu lumayan membuat suasana hatinya sedikit baik ketika Jungkook sama sekali tidak memberikan kabar kepadanya. Mengirimkan pesan saja tidak Jungkook lakukan. Sialan!
KAMU SEDANG MEMBACA
What's Wrong With Me?
Novela JuvenilBEST COVER BY @INAGAEMGYU Kepindahan Shin Jihyo ke salah satu sekolah terbaik di Seoul, nyatanya mengubah seluruh alur hidupnya menjadi sangat sial. Niat membantu teman sebangku yang ditindas, malah membuatnya harus berhadapan dengan salah satu muri...
