Semua orang jelas terkejut. Termasuk Yoshito sendiri yang sebelumnya sudah bahagia atas ketidakhadiran ketua Black Dragon yang terkenal akan tendangan kematiannya. Akan tetapi, Yoshito jelas tidak takut dengan siapapun. Terbukti ketika ia kini berhadapan dengan Jungkook yang tingginya saja berada sampai dadanya. Bagaimana bisa Jungkook bisa membunuhnya jika seperti itu?
"Membunuhku? Lalu buat apa aku harus mengucapkan selamat tinggal pada semesta jika kaulah yang harus melakukannya, cih!" Sembari ia meludah di samping kanan.
Jungkook masih pada ekspresinya--tersenyum seperti iblis dengan kepala yang mengangguk. "Oke, Yoshito! Kita mulai agar semuanya singkat! Kau sudah mengusik ketenangan Black Dragon, padahal kita berjarak cukup jauh. Jadi, nikmati kejutan dari Black Dragon!" ucap Jungkook. Tidak lama, ia menjetikkan jemarinya yang memberikan tanda bagi anggota yang baru saja datang untuk memulai pertarungan.
"Alexio, pergilah dengan Jihyo!" pinta Jungkook disela itu. Tanpa membantah, Alexio melakukannya. Ia mengapit Jihyo untuk meninggalkan area. Ryu yang berada di samping Jihyo dibuat terdiam. Akan tetapi, ia memaklumi. Toh, ia sudah membantu Jihyo sebisa yang ia lakukan.
Nyatanya pun, perkelahian tidak bisa terelakkan. Baik Jimmy, Ryu, Jay dan anggota Black Dragon lainnya kini kembali mengeluarkan kemampuan mereka. Tidak terkecuali Jungkook sendiri. Tetapi, lelaki itu belum melakukan aksinya. Ia masih menatap Yoshito dengan senyuman mautnya--memberikan Yoshito sedikit kelonggoran untuk menghirup aroma segar Seoul.
Akan tetapi, Yoshito sudah tampak muak dengan senyuman Jungkook. Ia lantas berteriak, maju dengan kepala tangan yang siap menghantam kepala Jungkook yang mahir mengeluarkan ide brilian. Hanya saja, Yoshito tidak paham jika Jungkook bisa menghindar dengan kedua tangannya saja yang masih menjejal di dalam saku.
"Sialan kau, Jungkook! Katakan selamat tinggal pada dunia!" ucapnya dengan suara lantang.
Bukannya takut, Jungkook malah dibuat menguap. "Sepertinya sudah cukup basa-basinya. Ada kalimat yang ingin kau katakan?" Pertanyaan yang membuat Yoshito kebingungan.
"Apa maksudmu?"
Namun, Jungkook tidak membalas. Ia lebih memilih mengeluarkan kedua tangan dari saku. Mengambil langkah lalu melompat begitu saja dan membiarkan kakinya menendang kepala Yoshito hingga suara nyaring--seperti sesuatu yang patah terdengar. Yoshito terhuyung, hendak ambruk tetapi masih tetap bertahan.
Jungkook mengeluarkan ludah di samping kirinya. "Kau dan anggotamu harus diberi pelajaran begitu berharga, Yoshito! Jangan mengusik Black Dragon!" ucapnya lagi yang kemudian kembali menendang sisi lain Yoshito.
Darah sudah menyeruak. Tetapi Jungkook tidak ingin berhenti. Sisi lain dari dirinya telah keluar dan ia pantang untuk mengkhianati diri sendiri atas janji yang telah ia katakan. Sehingga, Jungkook terus menghujami Yoshito dengan tendangan maut dan pukulan sekali hantam yang bisa membuat seseorang sesak napas ingin mengeluarkan sesuatu dalam diri. Lalu tanpa menanti Yoshito berkata ketika ia sudah ambruk dengan posisi terlentang.
Jungkook menaruh kaki kanannya di bagian kepala Yoshito yang seperti sudah tidak sadarkan diri. "Dengar! Ini adalah kejutan dan peringatan dari Black Dragon!" pekiknya.
Pertarungan yang tengah terjadi berhasil terhenti untuk beberapa saat. Mereka dibuat terkejut akan kenyataan yang telah ada di depan mata. Bos Wolves Geng berada di bawah kaki bos Black Dragon. Kekalahan jelas sudah mengibar. Wolves Geng sudah dikalahkan oleh geng yang berada di pusat kota.
Anggota Wolves Geng dibuat merinding, terlebih senyum Jungkook yang menghiasi wajah tampannya--bukan pertanda baik jika senyum itu tampil. Jihyo dan Alexio yang mengamati dari kejauhan, dibuat keringat dingin atas keberingasan Jungkook yang lebih dalam jika mengenai ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
What's Wrong With Me?
Fiksi RemajaBEST COVER BY @INAGAEMGYU Kepindahan Shin Jihyo ke salah satu sekolah terbaik di Seoul, nyatanya mengubah seluruh alur hidupnya menjadi sangat sial. Niat membantu teman sebangku yang ditindas, malah membuatnya harus berhadapan dengan salah satu muri...
