5

9.3K 614 45
                                        

Hubungan Jeno dan Jaemin saat si manis memilih pergi sebenarnya cukup buruk.

Itu juga alasan Jaemin sedikit canggung pada awalnya pada Jeno.

Mereka tidak berbicara hampir sebulan, dan Jaemin tiba – tiba hilang setelahnya. Hanya meninggalkan secarik kertas yang Jaemin sudah lupa isinya apa. Intinya, dia pamit pada Jeno.

"Hei Jaem, bagaimana perkembangannya?" tanya Renjun.

Saat ini 2 submissive itu berbaring di lantai kamar Jaemin dengan masker wajah bergambar karakter. Sedang wajahnya ia rawat, tangan Renjun sibuk memainkan ponselnya. Jaemin? Pemuda manis itu hanya memejamkan matanya, menikmati bagaimana serum dari masker mahal yang Renjun bawa meresap masuk kedalam kulitnya.

"Tidak ada yang spesial, dia masih sangat dingin." ucap Jaemin, ada helaan nafas diakhir kalimatnya "dan menyebalkan."

"Itu cukup bagus. Karena kalau aku jadi dia, aku mungkin akan mengatai sebelum melayangkan tinju padamu."

Jaemin mendengus pelan mendengar jawaban Renjun, ingin marah tapi ucapan sahabatnya itu banyak benarnya.

"Bayangkan saja, sahabatku yang pergi tanpa mengatakan sepatah katapun setelah menjual apartemen yang orang tuaku beli untuknya tiba - tiba muncul dengan senyum lebar. Bukankah itu menyebalkan?" Renjun meletakkan ponselnya diatas dadanya "Kau bahkan menjual semua tas mahal yang dia beli untukmu. Kau terdengar sangat berengsek."

"Tidak perlu diperjelas. Aku tau diri."

"Yah, kalau tau diri kau harusnya mengemis agar dia memaafkanmu dibawah kakinya."

"kalau itu,.. Mungkin nanti."

"Dia mungkin akan lebih marah ketika tau kalau kau datang hanya untuk meminta bantuannya." ada jeda setelah Renjun mengucapkan kalimat ini "Dia mungkin akan mengamuk."

"Diamlah kawan. Apa kau tidak lihat usahaku? Aku sedang berusaha agar hubungan kami membaik jadi dia tidak perlu mengamuk dan merasa dimanfaatkan lagi ketika aku meminta bantuan nanti." Jaemin membuka matanya setelah menyelesaikan kalimat ini. "Kuharap ini berjalan dengan baik." Tambah Jaemin, tatapannya sedih kearah langit - langit.

Renjun menghela nafas setelah mendengar ucapan sahabatnya "Melihat kalian yang dulu, pasti tidak ada yang akan menduga kalian berakhir seperti sekarang."

-8 tahun lalu-

tok tok

Jaemin mengangkat kepalanya ketika tenangnya terganggu oleh ketukan pada mejanya.

Mendengus kecil dengan wajah cemberut Jaemin pasang ketika tau Jeno disana.

Jeno meletakkan susu vanila dan roti tepat diatas meja Jaemin sebelum kembali kebangkunya yang berada tepat didepan bangku Jaemin.

Jaemin tau, itu sogokan.

"Jeno, kau tidak berniat meminta maaf?" tanya Jaemin melipat tangan didepan dada, matanya menatap tajam punggung tegap didepannya.

Tapi Jeno tidak mengatakan apapun.

"Hei Jeno." ulang Jaemin "Aku tau kau dengar." tambahnya dengan nada sedikit kesal.

"Maaf." ucap Jeno sebelum kembali fokus pada buku dihadapannya, belajar.

"Semudah itu?" Jaemin mengerutkan alisnya, tidak suka. "Kau,. Jeno apa kau tau aku menunggumu dilapangan basket? Kalau tidak datang, harusnya kau bilang. Itu panas, kau tau!"

"Guru memanggilku, ponselku tertinggal." Jeno memberi alasan tanpa menengok kearah Jaemin.

Jaemin masih kesal, tapi dia meraih susu coklat didepannya. segera ia minum tanpa repot ia buka, soal Jeno sudah menancapkan sedotan disana sebelum meletakkannya dimeja. "Kali ini kau ku maafkan. Jeno, aku mengawasimu."

Memories|NOMIN {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang