BAB 4: It's All Begin

933 86 40
                                        

Setelah insiden mengerikan tadi, Ben dibawa menuju lubang. Newt tidak ada karena sedang pergi mengobati Asteria. Thomas duduk di atas hammock miliknya, sementara Alby dan Chuck berada di sebelahnya. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Thomas kepada Alby. Mimiknya penuh kebingungan dan sebersit rasa frustasi.

Alby menghela napasnya berat sebelum menjawab pertanyaan Thomas. "Itu disebut 'perubahan'. Itu yang terjadi saat seseorang disengat." Dia menjeda sebentar. "Dengar. Ben bicara tidak jelas sejak disengat. Bicaranya tak masuk akal dan akan terus memburuk. Infeksinya menyebar. Dia berbahaya." Chuck menoleh, ikut menyimak percakapan Alby dan Thomas.

"Dia bilang apa padamu?" tanya Alby lagi.

Thomas menatap Alby sejenak sebelum menjawab. "Dia bilang dia melihatku ... dan ini semua salahku. Kenapa ini salahku?" Thomas menatap lawan bicaranya.

Alby menatap Thomas, diam, tak punya jawaban yang bisa diberikan. "Istirahatlah." Pada akhirnya Alby hanya berkata seperti itu dan hendak pergi.

"Alby?" Thomas bertanya sekali lagi.

"Ya?" respon pimpinan Glade.

"Apa yang akan terjadi padanya?"

***

Sore harinya, para pemuda kompak berkumpul di depan pintu labirin dengan masing-masing bambu di tangan. Minho mengawal Ben yang kedua tangannya diikat di belakang kepala, mendengus ganas. "Kumohon, jangan! Jangan, Minho! Alby!" Ben berteriak meminta tolong. Tak ada jawaban yang dia harapkan, melainkan hanya tatapan prihatin yang semakin jelas.

Ben dibawa ke tengah kerumunan, lantas Minho memotong tali yang mengikat tangan Ben. Seketika Ben terjatuh dan melenguh kesakitan akibat infeksi parah. Minho mengerling Alby sejenak. Alby memberinya kode untuk terus melakukannya. Maka, Minho melempar sebuah tas ke dalam labirin. "Kumohon, jangan lakukan!" Ben berteriak ketakutan ketika terdengar derak keras pintu labirin yang akan segera menutup.

Alby berteriak, "Galah!" Semua menurunkan bambu runcing yang mereka pegang, mulai mengarahkannya pada Ben yang semakin panik. "Masuk!" Alby berteriak lagi. Teman-temannya mulai maju, mendesak Ben dengan bambu runcing.

"Jangan! Kumohon!" Ben menjerit. "Tidak! Tolong, jangan!" Namun apa daya. Teman-temannya tidak ada yang mendengar.

"Aku bisa sembuh! Dengarkan aku!" Ben masih terus menjerit, berharap akhirnya teman-temannya mengubah keputusan mereka. Thomas yang menonton dari jauh, memperhatikan dengan mimik sulit diterka. Para Gladers terus mendorong Ben masuk pada labirin yang pintunya mulai menutup. Ben akhirnya terdorong masuk ke dalam labirin yang hanya tersisa sedikit celah untuk melihat teman-temannya, lalu jeritannya tertelan suara keras pintu labirin yang sempurna menutup.

Thomas menatap tak berkedip. Para Gladers menunduk dengan ekspresi sedih. "Kini dia milik labirin." Alby berkata, menatap satu-persatu temannya. Sekelompok pria tadi berbalik lesu, tau tak ada gunanya menunggu di situ. Mereka tidak bahagia dengan fakta bahwa mereka baru saja kehilangan salah satu anggota Pelari. Asteria diam-diam menangis ketika melihat dari jauh, begitu pula Jane. Meski tak terlalu dekat dan perempuan itu diserang oleh Ben, Asteria tidak menyangkal bahwa dia merasa kehilangan sekali.

Jane mengusap matanya, lalu menghembuskan napas pelan. "Kurasa Ben jadi agak aneh waktu dia tersengat."

Asteria mengangguk perlahan. Luka di perutnya masih sakit dan sulit dibuat beraktivitas. "Tapi, Jane, kau tau apa yang dimaksud Ben? Kenapa Ben menyalahkan Thomas atas semua ini?" Asteria bertanya.

TMR: HOLD ME TIGHTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang