BAB 36: Stay With Me

547 48 54
                                        

Asteria terseok memapah Newt. Mereka terpaksa putar balik, berlindung di suatu tempat dari kobaran api di mana-mana. Asteria duduk di sebelah Newt, mencengkram lukanya. Pandora melepas rompi miliknya, lalu dia balut bahu kiri Asteria yang terluka parah. Sejak tadi, Asteria sudah melepas jaket basahnya. Mereka bisa melihat seberapa banyak darah yang keluar dari luka mengerikan itu. "Hang on, Ash. Both of you." Pandora berbisik gemetar pada pasangan itu saat membebat luka Asteria.

Samar-samar mereka bisa mendengar Thomas menghubungi Andrienne, menyuruh gadis itu untuk pergi membawa rombongan mereka menjauh dari sini. Andrienne jelas menolak mentah-mentah, bahkan Thomas tidak menyadari gadis itu sampai menangis ketakutan. Newt tiba-tiba berkata parau. "Leave me, Ash." Semuanya menoleh menatap Newt. Tapi, pemuda itu hanya menatap gadis yang berada di sebelahnya. Gadis yang ia tau selalu menjadi orang yang merebut hatinya.

Playlist for this scene until the end of chapter: War Of Hearts (Violin Version) — Dramatic Violin.

"Leave me." Lagi, Newt berkata pada Asteria yang menggeleng kalut, berkaca-kaca.

"Shut up, Newt. I would never leave you. Just, hang on, okay?" ucap Asteria bergetar menahan tangis. Suara Andrienne tiba-tiba terdengar lebih bersemangat dari walkie, menyuruh Thomas menemui mereka di dekat terowongan. Jorge telah datang memberi pertolongan. Gally menoleh pada Thomas, yang mengangguk.

"Ash, Newt, kita harus pergi ke terowongan. Kuatkan diri kalian, oke?" kata Gally. Asteria mengangguk, beringsut bangkit lagi dengan sisa tenaga, bersiap memapah Newt.

Newt bergeming. Cowok berambut pirang itu tidak mau lagi pergi ke mana-mana, hanya berucap serak. "Leave me, Ash. I won't make it."

Asteria menggeleng kalut. Setetes air matanya jatuh saking takutnya dia kehilangan Newt. "No, no, no. Come on, Newt. We almost make it. Come on," katanya,  memegangi tangan Newt. Pemuda itu menggeleng, menolak. "Come on, Newt ...," Suara Asteria hilang di ujung kalimat. Tidak ada yang bicara, semuanya diam menyaksikan percakapan pilu ini.

Newt menatap Asteria. Tatapan itu selalu sama, dibalut kasih sayang dan kekaguman yang begitu besar pada sang pujaan hati. "Asteria—"

Perempuan itu menjerit, menangis keras. "I WON'T LEAVE YOU, NEWT! EVER! Come on, Newt ... Please ....," Asteria tergugu. Air matanya jatuh deras sama seperti darah di lukanya. Tangannya gemetar menggenggam jari-jari Newt yang dingin. Pemuda itu nyaris berubah menjadi Crank. Newt membelai pipi Asteria yang basah dengan satu tangannya, berusaha meredakan tangis gadis itu yang menjadi-jadi. Pandora menunduk, mengusap air matanya. Minho dan Gally juga diam. Thomas kehilangan kata.

"You have to let me go, Ash. You must continue your life. Bright future is waiting for you there." Newt berucap lembut, menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia menatap Asteria begitu sayang, mungkin menikmati paras jelita gadisnya untuk yang terakhir kali.

Asteria terisak semakin keras. Dia menggenggam tangan Newt yang berada di pipinya, menggeleng. "Newt, you know I can't fashion a life without you in it. Please, please stay with me." Asteria menunduk, bahunya bergetar amat kuat. "We get through so many things to be here. We sacrificed a lot to save Minho. We did it, Newt. We did it. I won't let you be those who sacrificed. Never. Please, Newt, please ...,"

Beberapa detik kemudian, Newt akhirnya menerima uluran tangan Minho. Dia menggeram ketika berusaha bangkit. Asteria mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata, terkejut tapi senang. Pandora membantunya berdiri. Tekad mereka sudah bulat, mereka akan melanjutkan perjalanan hidup mati ini. Newt mengerahkan seluruh sisa tenaganya setelah mendengarkan penuturan Asteria tadi. Perempuan itu kembali memapahnya, 'melupakan' rasa sakit yang menusuk di bahunya. Mereka melewati medan berbahaya ini dengan Gally yang berjaga paling depan dengan senjata teracung.

TMR: HOLD ME TIGHTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang