Asteria mencengkram lukanya. Peluru itu menembus, masuk ke dalam. Darah terus mengalir. Dan rasa sakitnya membuat Asteria bagai kehilangan tenaga untuk berdiri. Kakinya gemetaran. Dia masih membelakangi mereka semua, terbatuk. Yang pertama menyadari adalah Pandora. Perempuan itu menyadari keanehan sahabatnya yang sedari tadi membungkuk dan terbatuk. "Ash, you okay?" Pertanyaan Pandora sontak membuat yang lain langsung memberi perhatian pada Asteria.
Asteria menoleh, berusaha tersenyum tanpa membalikkan tubuh dan terus membungkuk. "I'm okay, Penny."
Newt tidak percaya. Dia akhirnya melihat suatu kejanggalan. Satu, gadisnya pucat. Dua, suaranya nyaris tidak terdengar. Tiga, tubuhnya terus membungkuk. Tanpa berlama-lama, Newt mendekat dan membalik tubuh Asteria agak kasar. Asteria mengaduh keras saat lukanya terhenyak. "Aduh!" Mukanya tambah pucat dan kakinya semakin gemetaran. Dia menghindari tatapan semua orang, terus menunduk, mencengkram bahu kirinya. Darah mengalir jelas dari sana, menodai baju dan rambut panjang Asteria.
Newt termangu, tangannya terkepal. Matanya memanas dan kepalan tangannya mengejang dalam gulatan emosi di dadanya. Antara rasa murkanya pada Janson dan rasa sedihnya, semua berkecamuk menjadi satu. "Ash, kau terluka."
Pandora tampak sedih sekali. Thomas dan Minho menatap tidak percaya. Asteria buka suara lagi, terbatuk, berusaha tersenyum. "I'm okay, trust me. We just, we just need to find way out from this place. Mereka pasti sedang mencari cara masuk ke sini." Thomas dan Minho langsung bekerja, mencari cara apa pun itu. Pandora menunduk, mengusap air matanya yang tau-tau menetes. Newt menatap Asteria hampa.
Asteria tersenyum tulus menatap Newt, menahan sakit yang sangat menusuk di bahunya. "Seriously, I'm fine, Newt." Tidak. Jelas gadisnya tidak baik-baik saja. Newt merasa gagal menjaga gadisnya. Pemuda itu benar-benar terpukul. Dia mengambil sebuah kain yang kebetulan tergeletak di ruangan itu. Newt menyumbat pendarahannya dengan cara mengikat kencang kain ke bahu Asteria.
Asteria melepas rompinya, menyisakan tanktop hitam tipis yang membalut tubuhnya. Dia meringis kuat saat Newt dengan telaten membebat lukanya. Tangannya sampai gemetaran hebat. Beberapa saat kemudian, darahnya tidak lagi mengalir sederas yang lalu-lalu. Asteria berterima kasih sambil kembali memakai rompinya. Wajahnya masih pucat, namun merasa sedikit lebih baik. Mereka masih memikirkan cara, ketika terlihat percikan api dari sebuah alat yang berusaha memotong kunci ruangan.
Minho berteriak. "Any ideas?"
Thomas menatap jendela kaca. "Maybe."
Beberapa saat kemudian, Minho dan Thomas bahu-membahu melemparkan sebuah tabung besar nan berat ke arah kaca itu hingga pecah berantakan. Tabung itu mendarat di kolam jauh di bawah sana. Mereka berempat berdiri di pinggir jendela yang pecah, menatap ke bawah. "You sure about this?" Bahkan Pandora tampak gentar. "This is a bad idea. Especially for Ash," kata Pandora lagi, khawatir. Mendengarnya, Asteria menggenggam tangan Pandora dengan lengannya yang sehat, tersenyum.
"I can do this, Pandora. Don't worry." Asteria berucap lembut dan meyakinkan.
Bahkan saat mereka masih menimang-nimang, anak buah Janson berhasil membuka pintu dan mendobraknya. Thomas kalap menyuruh mereka langsung melompat. Asteria menjerit ngeri kala sensasi gila itu menyelimutinya saat terjun bebas tanpa pengaman apa pun dari lantai yang amat tinggi. Mereka mendarat dengan keras di kolam, lalu tersengal muncul ke permukaan. Pandora mengumpat sekencang-kencangnya. Minho nyengir tipis.
"Ash," panggil Newt saat Asteria kesulitan berenang ke tepi karena lukanya. Pemuda itu membantu perempuannya berenang sampai ke pinggir. Asteria batuk lagi. Lukanya makin parah, dan rasanya makin buruk karena efek jatuh bebas dan mendarat keras di kolam. Darahnya kembali keluar deras. Newt menekan kainnya, mencoba menghentikan pendarahan sialan itu. Asteria bernapas berat. Bicara pun rasanya susah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TMR: HOLD ME TIGHT
Fanfiction"Newt, you know I can't fashion a life without you in it. Please, please stay with me." Asteria Seraphine namanya. Seorang gadis kedua yang berakhir di Glade tanpa tahu apa-apa. Sisa hidupnya terpaksa dihabiskan untuk menghindari kejaran para ilmuwa...
