Asteria terburu-buru mencari Jane sehabis mereka pergi mengunjungi Thomas. Asteria belum melihat sahabatnya itu cukup lama sejak dirinya diserang Griever. Setelah bertanya pada Newt, gadis itu langsung pergi tanpa berlama-lama. "Jane!" panggilnya saat Asteria melihat Jane dari kejauhan. Gadis itu sedang duduk di bawah rimbunnya pohon, berlindung dari terik matahari yang menyengat.
"Ash! Oh, astaga! Kau sudah sadar!" Jane buru-buru bangkit dari duduknya, lantas memeluk Asteria teramat erat yang dibalas hal serupa. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku, sih?" heran Jane. Keningnya mengerut dan bibirnya mengerucut. "Siapa yang pertama tau dirimu bangun?"
Asteria nyengir, menjawab tanpa beban. "Newt!"
Jane menggerutu. "Kubunuh dia. Padahal sudah kubilang beritahu aku jika kau sudah bangun." Perempuan itu mengomel lucu, membuat Asteria tertawa. Namun, Asteria langsung menghentikan tawanya dan raut mukanya berubah serius mengingat tujuan utamanya menemui Jane. Rupanya, perubahan mendadak itu disadari Jane yang menyeletuk.
"Kau baik-baik saja, Ash? Kepalamu sakit? Kamu seharusnya beristirahat sekarang," kata Jane cemas sambil menepuk pelan pipi sahabatnya. Asteria menggeleng. Dia melirik sana-sini, memastikan tidak ada orang, sebelum menarik Jane masuk ke hutan lebih dalam.
"Eh, apa?" Jane terkejut. Asteria akhirnya berhenti di balik pepohonan besar yang cukup menutupi tubuh mereka berdua. Lalu, digenggamnya tangan Jane yang kini cemas. "Ash? Kau baik?" tanyanya takut-takut.
"Jen. Aku ingin bicara," bisiknya, membuat bulu kuduk Jane berdiri semua. Dan ketika berbicara ia pun agak tergagap. Tidak biasanya Asteria seserius ini, dan ini pertama kali. Wajar jika Jane merasa merinding sekaligus takut melihat tingkah laku temannya itu.
"A—apa? Serius, Ash, kau baik-baik saja, kan?" Jane masih berusaha mencari jawaban yang dia perlukan.
Asteria mengangguk. Mimiknya berubah menjadi sendu. "Jen ... kami akan pergi dari sini. Kuharap kau ikut denganku. Aku tidak bisa pergi dari sini meninggalkanmu sendiri, Jane. Kau sudah seperti saudariku." Dia menunduk setelah mengakhiri kalimatnya. Tangannya yang bertautan dengan tangan Jane bergetar, dan Jane menyadari itu.
"Apa maksudmu? 'Kami'? Siapa 'kami'?" Jane pening seketika mendengar penuturan Asteria.
Perempuan bernama Asteria itu membuang napas berat. "Kau tau sendiri, Jen ... ayolah. Kita tidak bisa hidup di sini terus. Kau bisa membujuk Gally juga." Jane membisu. Inilah dia, saatnya tiba. Prospek mereka bisa keluar dari sini sangat membuatnya terhibur. Di lain sisi ... perempuan itu ragu Gally akan ikut bersamanya setelah apa yang sudah terjadi.
"Tapi, bagaimana jika Gally tidak ingin ikut, Ash?" Jane bertanya lirih. Nadanya lemas, tidak bertenaga sama sekali.
Asteria bimbang. "Kau pasti bisa membujuknya ... apakah kau ingin keluar dari sini, Jen? Kumohon. Pergilah bersamaku. Kalau perlu, lupakan Gally." Asteria sendiri takut mengatakan ini. Tetapi, Jane adalah sosok penting di hidupnya, maka Asteria memberanikan diri mengatakan ini dan pasang badan jika sahabatnya marah besar.
Namun, Jane tidak bereaksi marah seperti yang Asteria kira. Gadis itu hanya diam membisu. Dari raut wajahnya, tampak Jane sedang terlibat dalam berbagai pikiran menyakitkan. Asteria menggigit bibirnya cemas menunggu jawaban yang akan Jane berikan. Setelah berpikir bermenit-menit lamanya, Jane tersenyum kecut. Dia memutuskan akan pergi bersama Asteria, apapun yang terjadi.
***
Menjelang matahari terbenam, Gally sedang mencoret nama-nama anggota yang gugur di dinding batu. Dia selesai mencoret nama Alby, lantas berbalik. Dilihatnya anak buahnya sedang menggeret Thomas yang pingsan dan Teresa. Sementara Teresa tetap berdiri, Thomas dilempar ke tanah begitu saja. Semua yang tersisa kini berkumpul di depan pintu labirin, hendak menyaksikan pengusiran ini. "Such a waste." Gally bergumam sambil memandang tubuh Thomas.
KAMU SEDANG MEMBACA
TMR: HOLD ME TIGHT
Fanfiction"Newt, you know I can't fashion a life without you in it. Please, please stay with me." Asteria Seraphine namanya. Seorang gadis kedua yang berakhir di Glade tanpa tahu apa-apa. Sisa hidupnya terpaksa dihabiskan untuk menghindari kejaran para ilmuwa...
