BAB 31: The Cost

452 49 42
                                        

Semuanya sedang berkumpul di sebuah ruangan. Mereka berada di sana untuk mendiskusikan temuan Newt, Thomas, dan Gally. Tetapi, Gally belum hadir di sana. Begitu juga dengan Jane. Asteria menghela napas berat. Bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan Gally pada Jane. Dia hanya bisa berharap cowok itu mau membuka sedikit pandangannya, menurunkan egonya, dan memperbaiki hubungannya dengan Jane. Asteria tau, mereka berdua akan berbaikan cepat atau lambat. Newt duduk di sampingnya, membuyarkan lamunannya.

Pemuda itu meraih helaian rambut yang menjuntai, lalu menyelipkannya di belakang telinga Asteria. Gadis itu menarik sudut bibirnya, membentuk senyum manis yang selalu Newt sukai. Otomatis, Newt juga tersenyum. "Worried about Jane and Gally, Ash?" tanyanya lembut dan tepat sasaran. Asteria mengangguk. Newt tersenyum, memegangi telapak tangan Asteria yang agak dingin. Perempuan itu sontak menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.

"Jangan khawatir. Aku tau kamu cemas, tapi Gally bisa menanganinya. Dan, kamu juga harus meminta maaf pada Gally." Newt tersenyum begitu pengertian, mencolek hidung gadisnya. Asteria mengangguk pelan. Dia sadar telah bersikap berlebihan tadi, dan telah bertekad untuk meminta maaf. Berselang, orang yang mereka bicarakan muncul. Gally datang bersama Jane, bergandengan. Sontak pemandangan itu membuat semuanya lega.

"Berbaikan, eh?" Frypan menyeletuk iseng. Jane tersipu, sedangkan Gally hanya menampilkan ekspresi datarnya.

Asteria bangkit dari duduknya. Dia menghampiri Jane sambil merentangkan tangan. Jane tersenyum, menyadari maksud Asteria, lalu ikut melakukan hal serupa. Asteria mendekap sahabatnya itu erat. Jane adalah teman pertamanya dan akan selalu menjadi sahabatnya. Dia senang Jane sudah menemukan kembali bahagianya. Dia melepas pelukan itu, menatap Jane haru. Lalu, kekasih Newt itu beralih pada pemuda di sebelahnya. Gally memberikan senyum tipis untuknya. "Aku percaya padamu, Gally. Maaf, ya, untuk sikapku tadi." Asteria tersenyum segaris.

Gally mengangguk, melebarkan senyuman. Dia mengeratkan pegangannya pada telapak tangan Jane. Pemandangan ini tak luput dari Pandora dan Andrienne. Sebelumnya, mereka sudah diberitahu oleh Thomas atas desakan Andrienne. Maka, mereka turut berbahagia atas hubungan Jane dan Gally yang membaik. Setelah berbasa-basi, mereka mulai membahas tujuan utama mereka. Tentang penemuan mereka, bahwa mereka bisa menggunakan Teresa untuk masuk ke markas WICKED.

"Kita tak bisa lewat jalan itu," kata Thomas.

Gally mengernyit. "Kenapa? Dia satu-satunya jalan kita. Kenapa tidak bisa?"

Pandora mengernyit, memahami sesuatu. Dia menatap Thomas galak selagi berkata, "Tunggu. Apa aku melewatkan sesuatu? Ini orang yang sama dengan yang mengkhianati kita, kan? Same bitch?"

Gally mengedik, terkesan. "I like her." Dia berkomentar sambil menunjuk jari ke arah Pandora. Andrienne yang mendengar itu hanya bisa membuang napas berat, mendengarkan. Dia tau apa yang Thomas pikiran mengenai rencana mereka. Sedangkan Thomas, cowok itu tidak berkomentar lagi. Dia terdiam.

Lama berselang, Newt menyeletuk yang terkesan dingin dan sarkastik. "Kau tidak ingin pacarmu terluka, kan?"

Thomas tercenung. Dia menjawab, "Apa maksudmu, Newt?"

Newt bangkit dari tempat duduknya. Asteria tadinya ingin mencegah, namun batal. Dia memperhatikan ketika Newt mendekat ke arah Thomas dan memandangnya sengit. "Ini bukan soal Minho, kan? Berbulan-bulan kita berusaha mencarinya, tapi begitu kita mendapat kesempatan untuk masuk, you don't want to because of her?"

Thomas benar-benar terpojok. "Newt-"

Newt marah. Dia menghardik Thomas sambil mencengkram kerah bajunya, membantingnya ke tembok di belakang cowok itu. "Just admit it, Thomas!" serunya. Semuanya kaget. Asteria menutup mulutnya tidak percaya. Jane juga tercenung. Pandora dan Andrienne saling pandang, syok. Beberapa saat kemudian, Newt tampak tersadar akan apa yang dilakukannya. Dia bergumam meminta maaf pada Thomas, lalu berbalik memandang mereka semua. Dia juga meminta maaf dengan lirih, lalu pergi dari sana dengan ekspresi sama bingung dan bersalahnya.

TMR: HOLD ME TIGHTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang