Paginya, mereka berkumpul lagi setelah melewati malam yang panjang. Pandora masih lesu. Meski begitu, dia berusaha tidak menunjukkannya pada mereka secara terang-terangan. Bila disapa atau diajak mengobrol, dia akan merespon dengan baik. Namun, bila percakapan berhenti, dia akan kembali murung. Tidak ada yang protes, semuanya mengerti keadaan Pandora. Andrienne juga tidak begitu banyak bicara. Perban masih menghiasi lengannya.
Sonya menutulkan sebuah kain bersih ke luka-luka di wajah Aris yang meringis. Harriet memberinya segelas minuman, yang langsung ditenggak oleh cowok itu. "Lama sekali kau menyelamatkan kami," ucapnya bercanda sambil tersenyum tipis pada Newt dan Thomas. Asteria dan Jane tersenyum segaris mendengarnya.
"Senang melihatmu juga, buddy." Thomas menanggapi candaan Aris, membuat mereka terkekeh pelan.
"Beruntung kalian menemukan kami. Mereka sering memindahkan kami. Kalian tau, sepertinya sesuatu yang besar sedang terjadi," kata Sonya, menatap para penyelamatnya. Pandora yang berdiri agak jauh kini mendekat, ikut menyimak ucapan gadis berambut blonde itu.
"Kau tau ke mana tujuan mereka?" Newt bertanya, menatap Aris.
Aris terdiam sebentar, menunduk sebelum menjawab pertanyaan Newt. "Yang kutahu hanyalah ... mereka terus membicarakan suatu kota." Jawaban cowok itu berhasil membuat mereka tergemap. Satu lagi fakta gila yang sulit diterima akal sehat menyerang mereka. Harriet sangat bingung. Dia mengernyit sedemikan rupa hingga alisnya bertaut.
"Tapi, setahuku tidak ada kota yang tersisa," katanya pelan, menatap kosong ke depan.
"Karena memang tidak ada. Tidak ada lagi kota yang masih berdiri." Andrienne bergabung dalam percakapan, menempatkan bokong di sebelah Asteria.
Pandora yang sejak tadi menahan pertanyaannya, tidak bisa lagi diam. "Lalu? Bagaimana dengan Minho? Mengapa dia tidak ada di kereta?" tanya gadis itu dengan nada agak sedikit menuntut. Aris dan Sonya saling pandang, menghembus napas berat. Terjadi keheningan sejenak yang membuat Pandora bergerak tak sabaran.
"Maaf, Pandora. Tadinya dia memang ada di sana. Tapi ... dia dipindahkan di detik-detik terakhir." Aris berucap pada akhirnya, berhasil membungkam semua hadirin.
***
Thomas membentangkan sebuah peta lusuh di atas permukaan meja. Jari telunjuknya menyisir sebuah rute yang terpampang, yang diyakininya adalah satu-satunya jalan menuju kota yang dimaksudkan secara tersirat oleh Aris. "Here. Rutenya sama seperti lintasan kereta yang membawa Aris dan Sonya. Kita bisa tiba di sana dalam waktu seminggu," ucapnya.
Vince tersentak. Bukan hanya Vince, semua yang hadir juga ikut kebingungan akan pemikiran Thomas. "Seminggu? Kita tiba di sini dalam waktu enam bulan, Thomas! Kau gila?" Vince benar-benar tak habis pikir.
"Thomas? Ini benar-benar mustahil," Newt ikut menyuarakan pikirannya. Tidak bisa dipungkiri, Newt juga sangat terkejut akan pola pikir Thomas. Dia mengerti ini soal menyelamatkan sahabat mereka, namun caranya terlalu nekat dan terburu-buru.
"Thomas. Kau ingin pergi ke titik acak di peta? Kau bahkan tidak tau ada apa di sana," ungkap Vince panas.
"Aku tau." Sebuah suara familiar menginterupsi. Jorge muncul dari balik kegelapan, berjalan mendekati dua orang yang sedari tadi berdebat. Jorge menempatkan diri di tengah keduanya. "Sudah bertahun-tahun lamanya, tapi aku pernah di sana. The Last City. Begitu WICKED menamainya. Itu adalah basis operasi mereka. Jika kota itu masih ada, itu tempat terakhir yang ingin kau datangi untuk mencari sahabatmu." Jorge berkata, memandang Thomas.
KAMU SEDANG MEMBACA
TMR: HOLD ME TIGHT
Fanfiction"Newt, you know I can't fashion a life without you in it. Please, please stay with me." Asteria Seraphine namanya. Seorang gadis kedua yang berakhir di Glade tanpa tahu apa-apa. Sisa hidupnya terpaksa dihabiskan untuk menghindari kejaran para ilmuwa...
