Keesokan paginya, Minho menghampiri Thomas yang masih berada di dalam lubang. Kemarin, mereka sudah berjanji akan kembali ke labirin tepat pada hari ini. Makanya, Minho menyamperi pagi-pagi buta untuk mengeluarkan Thomas dan pergi ke labirin sebelum yang lain bangun. "Big day, Greenie. Kau yakin tak mau mundur?" sapa Minho, tersenyum.
Thomas mendongak. "Come on, Man. Get me out of here." Thomas berkata, Minho nyengir.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berjalan menuju pintu labirin yang akan terbuka. Thomas kini mengenakan pakaian Pelari, sama seperti Minho. Cowok asia itu menatap Thomas dengan senyum miring saat pintu baru setengah terbuka. "Let's go!" Minho langsung berlari masuk, memimpin jalan. Pemuda itu telah menghafal jalannya selama tiga tahun terakhir. "This way. Kita hampir sampai di bagian tengah. Ayo!"
Mereka terus berlari dan berlari. Menyusuri dinding labirin yang menjulang tinggi nan kokoh serta berlumut, tanaman rambat tumbuh di mana-mana. Mereka melewati sektor empat, tidak berhenti dan lanjut melewati sektor lima. Pada akhirnya, setelah melewati sektor enam, mereka berhenti di sektor tujuh. Mereka kini ganti berjalan menjelajahi sektor tujuh. "Ini aneh," kata Minho heran. Thomas menoleh. "Apa?" katanya.
"Seharusnya sektor tujuh baru terbuka minggu depan." Minho menjelaskan singkat.
Mereka berjalan ke depan, lalu tiba-tiba Thomas berhenti. "What the hell is this place?" serunya, menatap hamparan pemandangan aneh di depannya.
"Kami menyebutnya mata pisau." Minho menjawab. Di tempat itu terlihat banyak sekali seperti dinding besi yang besar sekali dan tidak terlalu tebal. Formasinya agak janggal, dinding itu berjauhan dan tidak menempel satu sama lain yang langsung dicurigai Thomas. Mereka berlari kecil, lalu berhenti saat menemukan sesuatu di jalanan. Minho berjongkok, lalu memungut apa yang tampak seperti kain putih yang penuh dengan darah.
"Itu punya Ben, kan?" Thomas bertanya datar, ekspresinya sulit ditebak.
"Ya. Griever pasti menyeretnya kemari." Minho membuat kesimpulan. Raut wajahnya tampak tidak nyaman.
Tiba-tiba terdengar desing aneh. Thomas menatap Minho kebingungan. Netra Thomas beralih pada punggung Minho, dan seketika dia membalikkan tubuh temannnya. "Wow, hey!" Minho terkejut, sementara Thomas sudah mencari sesuatu dari tas tipis yang berada di punggung Minho. Dia menarik keluar benda berbentuk tabung yang mereka temukan tempo hari di dalam bangkai Griever. Tabung itulah yang membuat suara desingan. Dengan tatapan serius, Thomas mulai berjalan ke sana-sini. Pemuda itu tetap menatap tabung tersebut, tidak melepaskan pandangan sedetik pun.
"Kurasa tabung ini menunjukkan jalan." Thomas berkata, menatap Minho. Segera saja mereka langsung menyusuri area 'mata pisau' dengan bantuan tabung tersebut. Mereka berjalan berbelok-belok, kadang lurus, sampai mereka sampai ke suatu tempat. Tempat itu berukuran besar dan luas sekali, tetapi hanya ada jalan setapak berdiameter kurang lebih lima meter. Setelah itu, tidak ada lagi tempat pijakkan. Desingan yang dikeluarkan tabung tersebut makin keras seiring langkah mereka.
Mereka terus berjalan mengikuti jalan setapak, sampai di depan dinding batu. Minho mengumpat. "Ini hanya jalan buntu lainnya." Tepat setelah Minho berkata begitu, tabung yang Thomas pegang berubah warna lampunya dari yang sebelumnya merah menjadi hijau. Tepat saat itu juga, dinding batu tersebut bergerak keatas, membuka jalan, dan membuat Minho dan Thomas terlonjak kaget. Ternyata, ada sekitar tiga dinding batu serupa yang terbuka juga. Di ujung sana, terdapat sebuah lubang misterius.
Minho menoleh ke arah Thomas, bertanya memastikan. "You sure about this?"
"Tidak." Jawab Thomas. Biar begitu, pemuda itu maju. Minho mengikuti.
Mereka mendongak ke atas selagi berjalan. Ternyata ada lubang panjang menuju ke atas di setiap jeda yang diberikan dinding batu. Mereka bisa melihat langit di atas sana. Saat mereka sampai di depan lubang tersebut, Minho memegang pinggirannya. Seketika pemuda itu menoleh ke arah Thomas saat di rasanya lendir lengket menempel di tangannya. "Griever."
KAMU SEDANG MEMBACA
TMR: HOLD ME TIGHT
Fanfiction"Newt, you know I can't fashion a life without you in it. Please, please stay with me." Asteria Seraphine namanya. Seorang gadis kedua yang berakhir di Glade tanpa tahu apa-apa. Sisa hidupnya terpaksa dihabiskan untuk menghindari kejaran para ilmuwa...
